2 dari 3 Orangtua Sulit Mengetahui Apakah Anaknya Depresi

Kesehatan

2 dari 3 Orangtua Sulit Mengetahui Apakah Anaknya Depresi

Orangtua akan merasa "kecolongan" jika tidak mampu melihat tanda-tanda depresi pada anaknya. Sayangnya, ini sering terjadi. Berdasarkan sebuah jajak pendapat yang diberitakan psychologytoday.com (9/7/2020), dua dari tiga orangtua mengatakan sulit mengetahui apakah anaknya memiliki gejala depresi.

Hanya sebagian kecil dari orangtua yang mencari bantuan tidak lama setelah anak mulai depresi. Lebih umum ditemukan, pada saat seorang anak datang berkonsultasi, mereka telah menunjukkan gejala kecemasan dan depresi yang signifikan selama dua hingga tiga tahun sebelum kunjungan ke psikolog atau psikiater.

2 dari 3 Orangtua Sulit Mengetahui Apakah Anaknya Depresi

Dengan meningkatnya depresi dan bunuh diri pada anak-anak, mengenali gejalanya menjadi sangat penting. Orangtua melaporkan bahwa 1 dari 4 anak mengenal teman sebaya dengan depresi, dan 1 dari 10 tahu orang yang telah bunuh diri. Angka-angka ini berasal dari Poling Nasional Rumah Sakit Mott Children di AS baru-baru ini tentang Kesehatan Anak. Sampel berskala nasional tersebut merupakan orangtua dengan anak-anak di sekolah dasar, menengah pertama dan atas. Survei bertujuan untuk mengetahui pendapat mereka tentang peran orangtua dalam mengenali anak-anak yang mengalami depresi.

Menurut jajak pendapat tersebut, 90 persen orangtua menilai diri mereka setidaknya yakin bahwa mereka akan melihat tanda-tanda depresi pada anak-anak mereka. Namun, dua pertiga orang tua juga menyebutkan hambatan yang mungkin mereka miliki dalam mengenali depresi anak, seperti sulit untuk membedakan kondisi normal, naik, dan turun dari kemungkinan depresi (40 persen), dan remaja yang pandai menyembunyikan perasaan mereka (30 persen).

[Baca Juga: Perbedaan Takut, Cemas, dan Gangguan Kecemasan]

Orangtua mengidentifikasi hambatan-hambatan tersebut dengan benar. Penulis laporan mencatat, ada kemungkinan terlalu percaya diri pada orangtua tentang kemampuan mereka mengenali gejala depresi pada anak-anak. Mengapa anak-anak tidak memberi tahu orang tua mereka bagaimana perasaan mereka?

  • Orangtua Tidak Mendengarkan

Mungkin Anda sedang sibuk, atau sedang online dan tidak memberikan tanda akan meletakkan apa yang sedang dilakukan dan mendengarkan. Meskipun Anda merasa telah menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak-anak daripada sebelumnya, banyak hal yang membuat perhatian tersebut cepat teralihkan.

2 dari 3 Orangtua Sulit Mengetahui Apakah Anaknya Depresi
  • Orangtua Mencoba Memperbaikinya

Ketika memiliki masalah, Anda ingin teman mendengarkan, bukan untuk mencoba memperbaiki. Namun sebagai orangtua, Anda telah memperbaiki masalah anak-anak sejak mereka bayi. Anda terbiasa memberi tahu mereka apa yang mereka rasakan dan apa yang seharusnya dilakukan.

  • Orangtua Mengatakan, "Itu hanya sementara."

Karena telah melihat mereka tumbuh dan melalui banyak fase hidup, saat melihat ada yang berubah dari anak, Anda merasa itu hanya sebuah fase sementara yang akan berlalu.

  • Orangtua Tidak Mengeceknya Lagi

Anak tampak baik-baik saja, jadi Anda berlalu. Anda mengingat ketika ketika mereka berusia tiga tahun dan berkata "ya" setiap kali bertanya apakah ada yang sakit. Padahal, mereka mengatakan yang sebenarnya, tapi orangtua sering menganggap penderitaan anak bukanlah sesuatu yang sungguhan.

2 dari 3 Orangtua Sulit Mengetahui Apakah Anaknya Depresi
  • Anak Berusaha Melindungi

Anak-anak kita dapat melihat ketika Anda bekerja keras, sibuk, lelah. Mereka kemudian menghindar dan tidak memberi tahu Anda bagaimana keadaan sebenarnya. Anak-anak tidak ingin membebani orangtua. Hal ini sering ditemukan pada anak-anak tertua, yang akan melindungi orangtua mereka, bahkan ketika anak mengambil peran mengasuh dalam keluarga. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh anak yang lebih muda yang mengidentifikasi dirinya sebagai penggembira.

Lalu, bagaimana orangtua dapat membangun hubungan yang terasa terbuka untuk anak-anak mereka? Ceritakan kepada anak Anda tentang pengalaman Anda sendiri dengan kecemasan atau depresi. Jangan menunggu sampai mereka remaja, berbicaralah tentang dorongan perasaan besar ketika mereka berada di tingkat akhir sekolah dasar. Jika Anda sudah mengalaminya, beri tahu anak-anak Anda tentang bagaimana hal ini membuat Anda lebih bisa memahami depresi. Perkenalkan gagasan bahwa kita pergi ke dokter untuk lebih dari sekadar demam dan batuk. Dokter anak dapat membantu dengan perasaan juga.

[Baca Juga: Bila Depresi, Konsultasi ke Psikolog atau Psikiater?]

Depresi memiliki banyak tanda berbeda pada anak yang berbeda. Beberapa anak menarik diri dari teman dan menghabiskan lebih banyak waktu sendirian. Mereka mungkin terlihat sedih. Tetapi yang lain tampak lebih marah daripada sedih, mudah tersinggung dan bertindak. Sangat mudah untuk melihat seorang anak memiliki "masalah perilaku" atau "malas di sekolah" ketika sebenarnya mereka berusaha untuk bertahan dari depresi.

Tetapi salah satu ciri utama depresi putusnya hubungan interaksi yang bermakna. Penting untuk memperhatikan ketika orangtua merasa bahwa hubungan mereka dengan seorang anak memudar dengan cara yang berlanjut selama lebih dari satu atau dua minggu. Hubungi psikolog atau psikiater anak. Tidak perlu menunggu.


Read More

Artikel Lainnya

Konser Full Team Dewa 19 Siap Digelar di Solo.jpg

Hobi dan Hiburan

Konser Full Team Dewa 19 Siap Digelar di Solo

23 September 2022, 15:57

Setelah sukses digelar di Candi Prambanan, konser Dewa 19 yang menghadirkan full team akan kembali manggung bersama dan kali ini digelar di wilayah Solo.

Perkuat Kehadirannya di Jawa Timur, Amartha Kolaborasi dengan BPR Jatim.jpg

Bisnis

Perkuat Kehadirannya di Jawa Timur, Amartha Kolaborasi dengan BPR Jatim

23 September 2022, 13:56

Baru-baru ini Amartha dan BPR Jatim resmi berkolaborasi dalam upaya menyalurkan Rp250 miliar untuk membantu pengembangan bisnis perempuan pengusaha mikro di wilayah Jawa Timur serta Jawa Tengah.

Ini Pandangan Pakar Unpad Terkait Pencegahan HIVAIDS.jpg

Kesehatan

Ini Pandangan Pakar Unpad Terkait Pencegahan HIV/AIDS

23 September 2022, 11:54

Setelah bulan lalu sempat ramai pembahasan kabar ribuan orang di Kota Bandung yang menderita HIV/AIDS, pakar Universitas Padjadjaran memberikan masukan terkait metode pencegahannya, khususnya di wilayah kampus.

Konsistensi Bambang Suprapto dalam Berkarya Melalui Solo Exhibition Uncertainty

Hobi dan Hiburan

Konsistensi Bambang Suprapto dalam Berkarya Melalui Solo Exhibition ‘Uncertainty’

22 September 2022, 18:20

Seniman muda Kota Malang, Bambang Suprapto, menggelar pameran tunggal yang bertajuk ‘Uncertainty’ di Kedai Lantjar Djaya, Kota Malang.


Comments


Please Login to leave a comment.