Alpukat Cipedak Dari Hobi Jadi Bisnis yang Menguntungkan

Bisnis

Alpukat Cipedak: Dari Hobi Jadi Bisnis yang Menguntungkan

Selama pandemi, dunia bisnis banyak mendapat gempuran yang berakibat pemecatan dan penutupan kantor serta tempat usaha. Kalau di dunia wirausaha, apalagi di sektor pertanian, tidak ada pemecatan. ”Kalau di dunia wirausaha, apalagi di sektor pertanian, tidak ada pemecatan. Yang ada justru peningkatan produksi dan nilai tambah,” ucap petani bibit alpukat cipedak di Kelurahan Ciganjur Kecamatan Jagakarsa, Jakarta SelatanAhmad Fahrizal (33) seperti diberitakan kompas.id (17/2/2021).

Alasannya, menurut Rizal, karena banyak warga yang diharuskan menjalankan berbagai aktivitas di rumah saja menjadikan kegiatan bercocok tanam sebagai pelepas stres. Mereka menjadi petani atau pekebun dadakan sehingga meningkatkan permintaan bibit. Selain itu, menanam membantu mengurangi pengeluaran untuk membeli bahan pangan karena mereka bisa menyediakannya secara mandiri.

Alpukat Cipedak Dari Hobi Jadi Bisnis yang Menguntungkan

Karena itu, Rizal mengajak seluruh warga di Jakarta yang kehilangan pekerjaan atau pendapatannya karena dikurangi perusahaan akibat wabah COVID-19 untuk bergabung menjadi petani. ”Anak muda sampai orang tua tetap masih bisa berproduksi. Jangan lagi memandang pertanian adalah dewa penolong saat kita pensiun,” ujarnya.

Rizal menjelaskan, alpukat cipedak merupakan varietas alpukat (Persea americana) yang berasal dari Kampung Cipedak di Kecamatan Jagakarsa. Kampung itu berlokasi di Kelurahan Cipedak dan Kelurahan Srengseng Sawah. Dengan demikian, alpukat cipedak merupakan tanaman khas Ibu Kota.

[Baca Juga: Resep Rambut Sehat dengan Avokad dan Madu]

Selain untuk melestarikan tanaman asli Jakarta, Rizal memproduksi bibit alpukat cipedak karena potensi ekonominya yang besar. Itu lantaran alpukat cipedak merupakan salah satu varietas terbaik dengan rasa buah yang legit dan manis serta tidak berserat.

Pandemi COVID-19 pun jadi berkah bagi Rizal. Sepanjang 2019, ia hanya mampu menjual 6.000-an batang bibit alpukat cipedak. Pada Maret-Desember tahun lalu, ia melepas 15.000 batang bibit ke banyak daerah di Indonesia.

Alpukat Cipedak Dari Hobi Jadi Bisnis yang Menguntungkan

Terdapat pelanggan yang memesan hingga ribuan bibit. Rizal mencontohkan, seorang konsumen di Padang Sumatera Barat membeli 1.000 bibit, di Karawang Jawa Barat 3.000 bibit, dan di Jambi 1.000 bibit. ”Tanggal 31 Desember, ditutup dengan pengiriman 2.500 bibit ke Singkawang (Kalimantan Barat),” katanya.

Rizal enggan menyebut angka omzetnya, tetapi yang jelas ia sampai tidak sanggup memenuhi permintaan bibit hanya dari kebunnya. Karena itu, ia bermitra dengan sekitar tujuh petani lain yang tergabung dalam kelompok tani Sejahtera Makmur agar membantu menyuplai bibit sesuai spesifikasi yang dibutuhkan sewaktu-waktu ia kekurangan.

Pertanian yang dimotori Rizal menjadi sumber pendapatan bagi lima orang. Mereka sejauh ini fokus pada pembibitan, bukan mengelola kebun buah, karena lahan hanya seluas seribu meter persegi (0,1 hektar).

Potensi Pertanian Kota

Pertanian kota juga digeluti 27 anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Kumbang di Srengseng Sawah. Mereka sejak Maret 2020 menggarap lahan tidur milik Dinas Kehutanan, atau sekarang bernama Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI.

Ketua Tim Kerja KTH Kumbang, Adam Yanuar (25), menyampaikan, kelompoknya baru saja merintis pertanian di sana sehingga belum merasakan adanya pemasukan tetap. Namun, mereka dalam jangka pendek setidaknya bisa menunjang kebutuhan pangan keluarga masing-masing karena bisa mengambil, antara lain, daun singkong, daun pepaya, kenikir, hingga kangkung di lahan itu.

[Baca Juga: Avokad Khas Cipedak di Gebyar Festival Budaya Betawi]

Adam mencontohkan, ia selalu menyuplai kebutuhan cabe bagi ibunya untuk usaha gado-gado dan tidak pernah membeli lagi sejak bertani. Biasanya, 1 kilogram cabe habis untuk 3-4 hari dan harganya sekarang untuk cabe merah keriting Rp 60.108 per kg dan cabe rawit merah Rp 91.173 per kg, berdasarkan data di infopangan.jakarta.go.id.

Prospek pertanian KTH Kumbang pun positif. Sejak dikunjungi anggota DPRD DKI pada Oktober 2020, pesanan atas komoditas yang ditanam di sana terus datang. Hasil pertanian yang stabil terjual, antara lain, bibit alpukat cipedak sebanyak rata-rata 100-150 bibit per bulan, bunga rosela kering 10-15 kemasan (satu kemasan berisi 100 gram) per bulan, dan ikan 100 kg per bulan.

Adam mengatakan, mereka kadang-kadang membantu pengadaan bibit alpukat ke Rizal. Ke depan, lahan pertanian KTH Kumbang direncanakan menjadi kebun buah, terutama alpukat cipedak.

Read More

Artikel Lainnya

realme narzo 30A Siap Hadir di Indonesia pada 3 Maret 2 021.jpg

Hobi dan Hiburan

realme narzo 30A Siap Hadir di Indonesia pada 3 Maret 2021

24 February 2021, 16:37

Ingin ponsel gaming yang ramah di kantung? realme narzo 30A yang siap dirilis awal bulan depat dapat jadi opsinya.

Lewati Pertarungan Digital, 9 Tim Juarai FFML Season III.jpg

Hobi dan Hiburan

Lewati Pertarungan Digital, 9 Tim Juarai FFML Season III

24 February 2021, 14:53

Usai melewati pertarungan digital yang panjang selama enam pekan, FFML Season III resmi berakhr dengan sembilan tim e-sport yang berhasil jadi juara.

Perkuat Kualitas Wirausaha, Pemprov DKI Jakarta Gandeng 4 Peguruan Ting gi.jpg

Bisnis

Perkuat Kualitas Wirausaha, Pemprov DKI Jakarta Gandeng 4 Peguruan Tinggi

24 February 2021, 13:52

Pemprov DKI Jakarta baru-baru ini meneken perjanjian kerjasama dengan empat perguruan tinggi di wilayahnya guna semakin memperkuat kualitas wirausaha di Jakpreneur.

Guru Besar Unpad Ungkap Pengaruh Dampak Negatif Pandemi Terhadap Tumbuh Kembang Anak.jpg

Pendidikan

Guru Besar Unpad Ungkap Pengaruh Dampak Negatif Pandemi Terhadap Tumbuh Kembang Anak

24 February 2021, 12:51

Dalam orasi ilmiahnya, Guru Besar Unpad memaparkan bagaimana pandemi COVID-19 memiliki pengaruh negatif terhadap tumbuh kembang anak.


Comments


Please Login to leave a comment.