Toyota Fun Code Tantang Generasi Milenial Ciptakan Aplikasi Kreatif

Bisnis

Anak Muda Paling Terpukul Saat Terjadi Krisis Ekonomi Akibat Pandemi

Sejumlah artikel mengungkapkan kalau orang lanjut usia (lansia) dan anak-anak merupakan kelompok yang rentan terinfeksi COVID-19. Tapi bagaimanapun, dampak pandemi COVID-19 ini sesungguhnya tak memandang usia, pendapatan dan negara.

Menurut peneliti dan pakar kebijakan dari International Labor Organization (ILO) Susana Puerto dan Kee Kim, anak muda cenderung akan sangat terpukul dari krisis ekonomi akibat pandemi COVID-19. Setidaknya ada lima alasan yang dapat menjelaskan prediksi tersebut. Dilansir dari ILOBlog.org (17/4/2020), berikut penjelasannya.

Ikutilah 4 Cara Mudah Mendapatkan Pasangan Valentine Ini Biro Jodoh

1) Kurang Pengalaman dan Relasi Jaringan

Dibandingkan orang tua, menurut Susan dan Kee anak muda akan lebih terdampak dari krisis ekonomi akibat pandemi karena mereka kurang pengalaman dan jaringan kolega. Berdasarkan pengalaman, pekerja yang berusia muda sering menjadi pihak yang pertama kali dipecat.

Selain itu, kurangnya jaringan dan pengaman dapat membuat anak muda lebih sulit mendapat pekerjaan lainnya. Hal ini kemudian membuat mereka mau tak mau bekerja dalam perusahaan yang minim perlindungan sosial dan hukum.

Susan dan Kee juga mengungkapkan kalau para pengusaha muda juga menghadapi masalah yang sama. Situasi ekonomi yang sulit membuat mereka lebih susah mendapat sumber daya dan pendanaan. Mereka juga kurang pengetahuan bagaimana untuk menghadapi kondisi bisnis yang sulit.

Sosialisasi Urban Farming Diikuti 200 Generasi Muda

2) Banyak Bekerja di Sektor Ekonomi Informal

Susan dan Kee mengungkapkan, tiga dari empat anak muda bekerja di sektor ekonomi informal. Utamanya di negara-negara dengan pendapatan rendah dan menengah.

Sebagai contoh yaitu anak muda yang bekerja di sektor agrikultur atau kafe kecil dan restaurant. Dengan tabungan yang sedikit atau bahkan tidak memiliki simpanan, tentu mereka tidak bisa untuk melakukan isolasi.

[Baca Juga: Ancaman PHK Intai Pekerja Ibu Kota di Kala Pandemi]

3) Status Pekerja yang Tidak Tetap

Banyak anak muda yang bekerja dalam “bentuk pekerjaan yang non-standar”, seperti paruh waktu, temporer atau pekerja “gig”. Susan dan Kee menyebut bahwa pekerja dengan status seperti itu sering dibayar murah dengan jam kerja yang tidak teratur, minim perlindungan keamanan dan tidak ada perlindungan sosial (cuti berbayar, pensiun, izin sakit, dan lainnya).

Tak hanya itu, Susan dan Kee juga mengungkapkan kalau pekerjaan yang ada tidak tepat untuk mengatasi pengangguran. Di banyak negara, lembaga penyedia tenaga kerja juga tidak efektif.

Kopi Kecil, Kafe Tersembunyi di Pinggir Kota Depok

4) Banyak Anak Muda Bekerja di Industri Rentan Terdampak Pandemi

Menurut Susan dan Kee, anak muda biasanya bekerja di sektor dan industri yang rentan terdampak Pandemi COVID-19. Pada tahun 2018, sekitar satu dari tiga pekerja muda di negara-negara anggota Uni Eropa bekerja di sektor usaha grosir, retail, akomodasi dan makanan dengan menjadi asisten toko, koki, pelayan dan lainnya.

Di sisi lain, jenis sektor bisnis seperti itu diprediksi akan terdampak COVID-19. Dibanding laki-laki, pekerja perempuan muda dibawah usia 25 tahun cenderung paling terdampak. Sebab, lebih dari separuhnya bekerja di sektor tersebut. Sebanyak 57 persen perempuan muda bekerja di sektor makanan dan akomodasi di Swiss dan 65 persen di Inggris.

[Baca Juga: Begini Cara Cek Lolos atau Tidaknya Kepesertaan Kartu Prakerja]

5) Rentan Tergantikan

Dibanding usia lainnya, pekerja usia muda paling berisiko mengalami otomatisasi atau digantikan dengan tenaga mesin. Baru-baru ini hasil studi ILO menunjukkan bahwa sebagian besar jenis pekerjaan yang mereka miliki cenderung mengalami otomatisasi.

Oleh karenanya, Susan dan Kee menyarankan bila para pemimpin dunia memberi dukungan dan membuat paket stimulus bantuan, maka mereka perlu merancang secara khusus untuk membantu anak muda. Mereka juga perlu membuat skema dukungan apakah anak muda tersebut merupakan pekerja atau pengusaha.

Sebagai informasi, sebelum terjadi pandemi COVID-19 saja, anak muda masuk dalam kategori NEET atau tidak memiliki pekerjaan, pendidikan dan pelatihan. Hal ini sebagaimana data tahun 2019 yang menunjukkan bahwa satu dari lima pekerja berusia di bawah 25 tahun atau setara dengan 267 anak muda di seluruh dunia. Bila masalah pekerja anak muda ini diabaikan, maka warisan dari dampak pandemi COVID-19 ini akan terus berlangsung selama beberapa dekade.


Read More

Artikel Lainnya

Karedok Jadi Metode Penguatan Literasi untuk Anak Sekolah di Jakarta Utar a.jpg

Pendidikan

Karedok Jadi Metode Penguatan Literasi untuk Anak Sekolah di Jakarta Utara

09 December 2022, 15:51

Pemkot Jakarta Utara memiliki program bernama Karedok yang pada dasarnya menggabungkan kegiatan edukatif seru untuk menguatkan literasi bagi anak-anak sekolah di wilayahnya.

Suasana Kemeriahan Natal 2022 Terlihat di Kota Sol o.jpg

Berita Kawasan

Suasana Kemeriahan Natal 2022 Terlihat di Kota Solo

09 December 2022, 13:49

Sejak awal Desember 2022, suasana perayaan Natal sudah bisa dilihat di Kota Solo dengan lampu-lampu yang menghiasi jalan bahkan dibentuk ala pohon Natal.

Mulai Dijual Hari Ini, Infinix Note 12 2023 Dibanderol dari Rp2,6 Jutaa n.jpg

Bisnis

Mulai Dijual Hari Ini, Infinix Note 12 2023 Dibanderol dari Rp2,6 Jutaan

09 December 2022, 11:46

Infinix Indonesia pada pekan ini secara resmi meluncurkan Note 12 2023 dan sudah bisa dibeli dalam momen first sale pada hari ini 9 Desember 2022.

Cianjur Berduka, Tim Fakultas Keperawatan Unpad Berikan Layanan untuk Korban Gem pa.jpg

Kesehatan

Cianjur Berduka, Tim Fakultas Keperawatan Unpad Berikan Layanan untuk Korban Gempa

08 December 2022, 15:41

Selama tiga hari, relawan dari Fakultas Keperawatan Unpad berada di lokasi posko korban gempa Cianjur untuk memberikan layanan kesehatan fisik dan mental bagi para korban.


Comments


Please Login to leave a comment.