Apakah Zat Radioaktif dan Ke Mana Limbahnya Pergi Setelah Digunakan

Berita Kawasan

Apa Itu Radioaktif dan Ke Mana Limbahnya Pergi Setelah Digunakan?

Bila mendengar kata 'radioaktif' maka yang muncul di dalam benak Anda biasanya bom nuklir Hiroshima-Nagasaki, kecelakaan reaktor Chernobyl, atau bahkan cerita film fiksi ilmiah tentang pengaruh radiasi dalam mutasi manusia menjadi mahluk setengah binatang. Fakta bom nuklir atau kecelakaan Chernobyl memang benar adanya. Namun lebih dari itu, aplikasi nuklir dan radiasi bagi teknologi kesehatan dan industri lain terus berkembang dan tidak pernah berhenti sejak lebih satu abad lalu.

Penggunaan zat radioaktif di Indonesia dimulai pada era akhir tahun 50an, yaitu pemanfaatan sumber radiasi untuk industri dan rumah sakit. Pemanfaatan di industri antara lain untuk kendali ketebalan, kerapatan produk, menentukan tinggi permukaan cairan dalam suatu wadah tertutup dan banyak lagi.

Apakah Zat Radioaktif dan Ke Mana Limbahnya Pergi Setelah Digunakan

Selain itu tentu saja laboratorium di Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) juga memanfaatkan zat radioaktif dalam dalam eksperimennya. Berdasarkan artikel yang ditulis Peneliti Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR) Prof. Dr. Djarot Sulistio Wisnubroto di batan.go.id (15/2/2020), sampai terdapat lebih dari 300 perusahaan atau institusi yang terdaftar sebagai pengguna zat radioaktif.

Jika nuklir terus digunakan, pasti ada bagian yang tidak terpakai, sisa produksi atau pemanfaatan eneginya. Lalu, ke manakah limbah radioaktif itu pergi? Semua limbah biasanya memiliki efek negatif bagi kesehatan manusia dan sebagian besar mahluk hidup. Limbah makanan saja jika tidak dikelola dengan baik akan berbahaya, apalagi limbah radioaktif. Seperti yang Anda ketahui, kontaminasi radioaktif dan paparan radiasi dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, baik itu fisik maupun mental.

[Baca Juga: Berikut Antisipasi yang Bisa Dilakukan Jika Ada "Kebocoran" Radioaktif]

Karena sangat berbahaya bagi kelangsungan mahluk hidup, itulah mengapa limbah tersebut dikirim ke PTLR untuk dikelola. Menurut Undang-undang No. 10 tahun 1997 tentang Ketenaganukliran maka tugas pengelolaan limbah radioaktif adalah tanggung jawab BATAN dengan PTLR sebagai pelaksananya.

PTLR berdiri sejak tahun 1988 berlokasi di kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi atau PUSPIPTEK Serpong Tangerang sekitar 30 km dari Jakarta, dan telah mengelola limbah radioaktif dari kegiatan reaktor riset dan fasilitas serta industri dan rumah sakit. Limbah radioaktif yang berasal dari era sebelum 1988 tersimpan pula di pusat ini.

Apakah Zat Radioaktif dan Ke Mana Limbahnya Pergi Setelah Digunakan

Djarot menambahkan, karena sifat radioaktif yang tidak dapat dimusnahkan maka limbah radioaktif diproses dengan prinsip-prinsip: diisolasi radiasinya dari pekerja, masyarakat dan lingkungan, bila memungkinkan dikurangi volumenya (misalnya limbah cair dengan proses penguapan, limbah padat dimampatkan) sehingga volume total limbah yang dikelola selama ini di PTLR relatif kecil, dan dipadatkan serta diwadahi untuk jangka waktu yang lama.

"Selama 50 tahun pemanfaatan zat radioaktif di Indonesia, saat ini tersimpan sekitar 900 ton limbah di PTLR, bandingkan misalnya dengan sampah perkotaan DKI Jakarta 6.000 ton per hari atau limbah industri konvensional yang dalam beberapa kasus mempunyai volume besar dan tidak dikelola," tulisnya.

[Baca Juga: Keunggulan Sains & Teknologi Italia Dipamerkan di Museum Nasional]

Bagaimana nasib akhir dari limbah radioaktif? Salah satu prinsip utama pengelolaan limbah radioaktif adalah, limbah radioaktif tidak boleh menjadi beban bagi generasi mendatang. Sebagian besar limbah radioaktif yang tersimpan di PTLR mempunyai umur yang pendek sehingga diharapkan untuk waktu yang tidak terlalu lama menjadi bahan yang tidak bermuatan radioaktif, hanya sebagian kecil saja mempunyai usia yang panjang dari puluhan sampai ribuan tahun.

"Untuk limbah usia panjang ini, PTLR telah mengembangkan teknologi penyimpanan akhir, yaitu penyimpanan limbah di kedalaman tertentu di bawah tanah. Teknologi penyimpanan akhir ini mirip dengan yang sudah diaplikasikan di banyak negara maju, dan terbukti aman sampai saat ini dan diperhitungkan tidak membahayakan generasi mendatang baik menggunakan model komputasi maupun analogi kejadian alam," tutup Djarot dalam tulisannya.


Read More

Artikel Lainnya

Tak Hanya Offline, Kemampuan Public Speaking Juga Dibutuhkan di Dunia Digita l.jpg

Pendidikan

Tak Hanya Offline, Kemampuan Public Speaking Juga Dibutuhkan di Dunia Digital

15 May 2022, 10:38

Di era digital saat ini, SDM di Tanah Air didorong memiliki kemampuan public speaking yang tak hanya bersifat luring tapi juga daring.

Belimbing dan Bayam di Agro Eduwisata Ini Dipanen Wagub Ariza.jpg

Berita Kawasan

Panen Belimbing dan Bayam di Agro Eduwisata

13 May 2022, 16:04

Wagub Ariza baru-baru ini bersama istrinya merasakan langsung bagaimana memanen buah belimbing serta sayur bayam di lahan eduwisata urban farming Jakarta Selatan.

Salvation, Ini Hasil Kolaborasi DJ Asal Belanja Lyfes dan DJ Yasmi n.jpg

Hobi dan Hiburan

Salvation, Ini Hasil Kolaborasi DJ Asal Belanja Lyfes dan DJ Yasmin

13 May 2022, 10:02

Pada hari ini, DJ Lyfes asal negara Belanda meluncurkan hasil kolaborasinya besama produser EDM dalam negeri DJ Yasmin.

Percepat Transformasi Digital di Sekolah Tanah Air, Acer Luncurkan Ajang ASSA 2022.jpg

Pendidikan

Percepat Transformasi Digital di Sekolah Tanah Air, Acer Luncurkan Ajang ASSA 2022

12 May 2022, 19:32

Acer Indonesia telah mempersiapkan hadiah total Rp500 juta dalam ajang penghargaan ASSA 2022 demi mempercepat transformasi digital di sekolah SD hingga SMA/SMK di Tanah Air.


Comments


Please Login to leave a comment.