Apa Keterkaitan Polusi Udara dengan Covid-19

Kesehatan

Apa Keterkaitan Polusi Udara dengan Covid-19?

Di tengah pandemi COVID-19, beredar foto di media sosial mengenai pemandangan gunung yang dapat terlihat dari gedung di kota Jakarta. Beberapa kali langit biru cerah memang menghiasi langit Ibu Kota.

Sejumlah masyarakat pun menduga kalau hal ini terjadi akibat penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Namun faktanya, kondisi tersebut kontras dengan hasil laporan IQAir.

Laporan IQAir mencatat sejak diberlakukan work from home (WFH) atau pada 16 Maret sampai 14 April 2020, ada 13 hari indeks kualitas udara di Ibu Kota berstatus tidak sehat untuk kelompok rentan (Ibu hamil, anak-anak dan orang dengan masalah pernafasan). Adapun kualitas udara sehat hanya terjadi pada 7 April 2020.

Di satu sisi, sejumlah riset dari lembaga asing menunjukkan kalau ada keterkaitan erat antara polusi udara dengan jumlah orang yang rentan terpapar COVID-19. Guru Besar Universitas Indonesia dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Profesor Budi Haryanto menjelaskan studi terbaru dari Universitas Harvard terkait polusi dan COVIDd-19

Puskesmas Setiabudi Galakkan Pemberantasan TBC

Rentan Terpapar.

Studi tersebut mengungkap bahwa orang yang sudah lama terpapar polusi udara paling rentan terinfeksi virus SARS-CoV-2 atau virus Corona. Dalam penelitian tersebut ditemukan ada kaitan antara peningkatan 1 pg/m3 PM2.5 dengan kualitas udara saat ini. Setiap peningkatannya dapat berdampak pada 15% tingkat kematian akibat COVID-19.

Bahkan, hasil riset tersebut juga menemukan bahwa risiko kematian akibat COVID-19 mencapai 4,5 kali lipat pada wilayah dengan polusi PM 2.5 yang tinggi, dibandingkan yang berpolusi rendah. Menurut Budi, hal ini berarti COVID-19 sangat mampu memperparah dampak kesehatan akibat perubahan iklim.

[Baca Juga: Tekan Polusi Udara, Warga Jakarta Utara Didorong Gunakan Sepeda]

Budi mengatakan hal ini dikarenakan penyakit akibat pencemaran udara itu sendiri menyebabkan penyakit akut seperti ISPA dan Asma. Ada pula penyakit kronis yang umumnya disebabkan oleh emisi BBM kendaraan bermotor, industri dan juga kebakaran hutan.

“Jika sudah masuk ke dalam tahap kronis, biasanya seseorang akan mengalami iritasi saluran napas, gangguan fungsi paru, PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis), penyakit jantung, hipertensi, diabetes, gangguan ginjal, dan lain-lain,” kata Budi, dalam Media Briefing Pandemi Korona dan Polusi Udara, Bagaimana Keterkaitannya? (30/4/2020).

Sementara itu pada penelitian tahun 2010, ditemukan sebanyak 57,8 persen dari penduduk Jakarta menderita penyakit akibat polusi udara. Berkaca pada hasil-hasil penelitian tersebut, Budi meyakini bahwa penyakit kronis akibat polusi dapat memperparah penderita COVID-19.

Pemkab Bekasi Sediakan Layanan Informasi COVID-19

Akses Informasi

Sejauh ini pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mengatasi pandemi COVID-19. Namun kebijakan tersebut tak diiringi dengan upaya perbaikan kualitas udara yang menurut hasil riset dapat berpengaruh terhadap tingkat orang positif COVID-19 atau kematian pasien.

“Meski langit Jakarta terlihat lebih cerah ketika diberlakukan WFH dan juga PSBB, tetapi emisi dari salah satu sumber pencemar yaitu PLTU bisa jadi tidak mengalami pengurangan yang signifikan. Ada potensi polutan tersebut juga berkontribusi pada polusi udara di Jakarta dan kota tetangganya,” ujar Juru kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Bondan Andriyanu.

[Baca Juga: Inilah Penjelasan Kondisi Paru-Paru Ketika Menderita COVID-19]

Oleh karenanya, Bondan mengatakan menjadi penting bagi pemerintah untuk memperbaiki kualitas udara. Hal senada juga disampaikan peneliti dari Indonesian Center for Environmental Law (ICEL), Fajri Fadhillah.

Menurutnya, pemerintah bisa melakukan perbaikan diawali dengan melakukan publikasi informasi tentang kualitas udara yang lengkap, mencakup ambien, emisi, meteorologis dan geografis. Sebab, selama ini informasi yang ada tidak lengkap dan sulit diakses.

“Publikasi informasi tentang kualitas udara tidak saja penting untuk menyampaikan dampak atau risiko kepada masyarakat, tapi juga untuk memastikan akuntabilitas pemerintah dalam pengambilan kebijakan pengendalian pencemaran udara,” ungkapnya.


Read More

Artikel Lainnya

Omzet Capai Rp25 Juta Per Hari! Ini Rahasia Nikmatnya Mih Kocok Mang Dadeng.jpg

Kuliner

Omzet Capai Rp25 Juta Per Hari! Ini Rahasia Nikmatnya Mih Kocok Mang Dadeng

15 August 2022, 16:05

Berasal dari jerih payah serta bumbu-bumbu yang digunakan, Mih Kocok Mang Dadeng berhasil eksis selama 58 tahun terakhir dan terus dicari oleh konsumen setianya.

2 Inovatur Indonesia Digandeng dalam Program Plastic Waste to Value Southeast As ia Challenge.jpg

Bisnis

2 Inovator Indonesia Masuk Program Plastic Waste to Value Southeast Asia Challenge

15 August 2022, 14:04

Dari lima inovator di Asia Tenggara, dua datang dari Indonesia, terpilih ikut dalam program untuk membenahi tata kelola sampah plastik.

Parade Acara Jakarnaval 2022 Gaungkan Kekayaan Budaya Nusantara.jpg

Berita Kawasan

Parade Acara Jakarnaval 2022 Gaungkan Kekayaan Budaya Nusantara

15 August 2022, 12:01

Setelah vakum selama dua tahun akibat pandemi COVID-19, Jakarnaval akhirnya kembali digelar dengan sukses pada akhir pekan kemarin.

Terus Dorong Geliat Pariwisata Ibu Kota, Jakarnaval Digelar di Sirkuit E-Prix Jakarta.jpg

Berita Kawasan

Terus Dorong Geliat Pariwisata Ibu Kota, Jakarnaval Digelar di Sirkuit E-Prix Jakarta

12 August 2022, 16:43

Pada 14 Agustus 2022, Sirkuit Internasional E-Prix Jakarta akan menjadi lokasi acara puncak karnaval bernama Jakarnaval yang digelar untuk geliatkan wisata di Ibu Kota.


Comments


Please Login to leave a comment.