KEMAYORAN_KAWASAN_ASAL USUL KEMAYORAN JAKARTA_EMIL_REVISI 01-01.jpg

Berita Kawasan

Asal-usul Nama Kemayoran Jakarta

Kawasan Kemayoran Jakarta bukan hanya terkenal di kalangan warga Ibu Kota saja. Pasalnya, area ini juga populer karena menjadi lokasi penyelenggaraan Pekan Raya Jakarta. Namun, tahukah Anda asal-usul kawasan ini termasuk asal nama Kemayoran?

Jauh sebelum JIExpo Kemayoran ada, kawasan ini dikenal sebagai bandara udara pertama di Indonesia. Namun nama Kemayoran sudah terlanjur melekat dengan kawasan ini. Jadi kira-kira kapan nama tersebut muncul? Untuk mengulas hal itu, perlu ditarik benang merah hingga ke tahun 1800-an.

Nama Kemayoran

Berbicara mengenai asal-usul Kemayoran maka nama Batavia pun tidak bisa dilupakan. Wilayah Batavia membentang dari Tangerang hingga ke Bogor tapi sayangnya pengembangan di awal era Kolonialisasi Belanda sebenarnya sangatlah terbatas. Terbatasnya pengembangan ini dipengaruhi oleh kondisi Batavia yang difokuskan sebagai kota benteng oleh Pemerintah Hindia Belanda guna mempertahankan diri dari serangan kesultanan yang mencoba merebut kota tersebut. Selain itu konsep ini juga berfungsi sebagai sistem sentralisasi pemerintahan yang diterapkan saat itu.

Namun ketika Herman Willem Daendels diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda, tembok-tembok yang membentengi Batavia pun dirobohkan. Saat itulah mulai terlihat area pedesaan dan pedalaman yang belum mengalami pengembangan. wilayah tersebut pun dibagikan ke para tuan tanah. Salah satu wilayahnya adalah yang saat ini dikenal sebagai area Kemayoran.

Saat itu kepemilikan area Kemayoran, sebagian dari Ancol, Krukut di Tegalangus (Tangerang) dan Cinere jatuh ke tangan Komandan Verenigde Oost-Indische Compagnie yaitu Isaac de l’Ostal de Saint-Martin. Saat itu pangkat pria asal Prancis tersebut adalah ‘mayor’ dan dari sinilah asal-usul nama Kemayoran muncul. Nama ini pertama kali dipopulerkan ketika muncul di surat kabar Java Government Gazette pada 24 Februari 1816 yang mendeskipsikannya sebagai wilayah dekat Weltevreden.

Perkembangan Awal Kawasan Kemayoran

Hingga awal abad ke-20, kawasan Kemayoran dipenuhi oleh rawa-rawa dan pematang sawah dengan sejumlah perkampungan. Warga yang tinggal di sini merupakan campuran dari orang-orang yang berasal dari Kerajaan Pajajaran, Demak, Mataram hingga para imigran yang berasal dari negara lain. Ketika masa kolonialisasi Belanda, warga yang tinggal di Kemayoran pun semakin beragam dengan penambahan orang-orang Tionghoa, India, Sumatera, dan Indonesia Timur. Mereka didatangkan untuk bekerja dalam proyek pengembangan Batavia serta di militer untuk membantu mempertahankan Pemerintahan Hindia Belanda dari serangan pasukan Kesultanan Gowa dan Kesultanan Mataram.

Tanah-tanah di Kemayoran pun dijual oleh Pemerintah Hindia Belanda demi membiayai proyek pembangunan jalan Anyer-Panarukan. Para pembelinya merupakan orang-orang yang berasal dari Belanda, Tionghoa serta Arab. Mereka pun mendapatkan gelar tuan tanah yang memiliki kekuasaan mengatur warga yang tinggal di tanah mereka layaknya budak. Ketika sistem perbudakan dihapuskan, para warga tersebut pun menjadi petani yang bekerja untuk para tuan tanah.

Ketika masuk periode kolonialisme Belanda yang modern di Batavia, pihak pemerintah Hindia Belanda pun memulai proyek baru. Saat itu tanah-tanah yang sebelumnya dimiliki pribadi, dibeli oleh pemerintah termasuk kawasan Kemayoran, Petojo, Jatibaru, Cideng, Kramat hingga Tanah Tinggi. Wilayah-wilayah itu ditujukan untuk orang-orang menengah ke bawah.

Selain warga pribumi dan etnis lainnya, banyak orang-orang keturunan Belanda tinggal di area Kemayoran. Saat Perang Dunia II berakhir, para mantan tentara Belanda juga memutuskan untuk tinggal di sana hingga orang-orang yang di sana pun memunculkan panggilan baru untuk kawasan tersebut yaitu Belanda Kemayoran.

Kemayoran Pasca-Kemerdekaan

Sebelum Indonesia merdeka, wajah Kemayoran Jakarta pun mengalami perubahan ketika diresmikannya Bandara Kemayoran pada 1935. Hal ini sangat mempengaruhi dengan fokus ekonomi di sana yang awalnya di pertanian menjadi ke ranah pelayanan.

Ketika Indonesia merdeka, banyak warga dari berbagai daerah di Tanah Air memutuskan untuk tinggal di Jakarta. Mereka pun banyak yang tinggal di Kemayoran Jakarta dan rata-rata mencari rezeki dengan memanfaatkan bandara di sana.

Namun karena keberadaan bandara tersebut, bangunan tinggi pun tidak bisa dibangun di Kemayoran Jakarta dan membuat pengembangan infrastruktur pun terhambat. Hingga 1980-an, Kemayoran masih dipenuhi oleh tanah kosong. Kondisi ini berubah pada 1986 ketika Bandara Kemayoran ditutup dan memicu pengembangan konstruksi gedung-gedung baru di sana.

Read More

Artikel Lainnya

Kemenperin Kembali Gelar Modest Fashion Project

Bisnis

Kemenperin Kembali Gelar Modest Fashion Project

20 September 2019, 13:00  |  8 Views

Untuk mengembangkan industri fesyen muslim di Indonesia, Kemenperin kembali menggelar kompetisi fesyen untuk IKM dimulai dengan gelaran road to MOFP di Bandung dan Semarang.

Hadapi Revolusi Industri 4.0, Kemendikbud Rilis Program Digitalisasi Sekolah

Pendidikan

Songsong Revolusi Industri 4.0, Kemendikbud Rilis Digitalisasi Sekolah

20 September 2019, 12:00  |  7 Views

Kemendikbud memberikan bantuan berupa peralatan berbasis teknologi informasi dan komunikasi untuk mempersiapkan sekolah songsong Revolusi Industri 4.0.

Jakarta Selatan Bersiap Antisipasi Musim Hujan

Berita Kawasan

Jakarta Selatan Bersiap Antisipasi Musim Hujan

20 September 2019, 11:00  |  7 Views

Mendekati musim penghujan, Pemkot Jakarta Selatan mulai melakukan beberapa langkah persiapan. Apa saja yang dilakukan?

Tips Merawat Kaktus Hias Dalam Rumah

Properti dan Solusi

Tips Merawat Kaktus Hias Dalam Rumah

20 September 2019, 10:00  |  13 Views

Ragam kaktus hias dapat membuat ruangan rumah menjadi menarik. Agar berusia panjang, ada sejumlah cara merawat kaktus hias dengan tepat.


Comments


Please Login to leave a comment.