Aura Mistis Toko Merah Kota Tua Jakarta

Berita Kawasan

Aura Mistis Toko Merah Kota Tua Jakarta

Kawasan Kota Tua Jakarta memang memiliki banyak tempat bersejarah mau pun bangunan kokoh yang menyimpan cerita tersendiri. Jika Anda sedang bertandang ke kawasan Kota Tua, ada sebuah bangunan tua yang masih berdiri tegak dengan baik dan memiliki ciri khas warna yang mustahil terlewatkan. Bangunan tersebut dinamakan Toko Merah.

Toko Merah adalah bangunan yang sangat artistik dengan arsitekturnya yang khas dengan gaya Tionghoa yang kental akan nuansa warna merah. Bahkan hingga pada interior dari bangunan tersebut sebagian besar berwarna merah. Gedung ini memiliki sejarah yang panjang, nama Toko Merah ini sendiri diberikan setelah gedung ini menjadi milik Oey Liauw Kong ialah seorang pejabat Tionghoa pada abad ke-19.

Aura Mistis Toko Merah Kota Tua Jakarta

Pada tahun 1730 gedung ini merupakan kediaman para tokoh-tokoh penting di Batavia, penghuni pertamanya ialah Gustaaf Willem Baron van Imhoff, seorang Gubernur Jenderal. Selain Van Imhoff, bangunan ini juga menjadi kediaman beberapa Gubernur Jenderal seperti Jacob Mossel, Petrus Albertus van der Parra, Reinier de Klerk, Nicolaas Hartingh, dan Baron von Hohendorff.

Kemudian di tahun 1743-1755 bangunan tersebut dijadikan kampus dan srama Académie de Marine (Akademi Angkatan Laut), selanjutnya pada tahun 1786-1808 digunakan untuk Heerenlogement atau hotel khusus bagi para pejabat. Di tahun 1809-1813, seluruh bangunan dijadikan rumah tinggal oleh Anthony Nacare.

[Baca Juga: Lady in Red, Sosok Si Baju Merah Legenda FIB UI]

Kurun waktu 1813-1851 kepemilikan beberapa kali berganti hingga kemudian dimiliki oleh Oey Liauw Kong yang berfungsi sebagai toko, sehingga populer dengan sebutan Toko Merah. Usai tokonya beroperasi selama beberapa tahun, Oey Liauw Kong menjual bangunan Toko Merah pada tahun 1920. NV Bouw Maatschappij lalu membeli dan memugarnya, yang menelan biaya hingga satu juta Gulden. Bangunan ini diperbaiki lagi oleh Bank Voor Indie yang kemudian berkantor di sini hingga tahun 1925.

Sejumlah Biro dan Kantor Dagang: Algemene Landbouws Syndicaat, De Semarangse Zee en Brandassuransi Mij, dan WM Muller. & Co. pun sempat melakukan kegiatan kerjanya di bangunan Toko Merah tersebut. Sebagai puncak kejayaannya, bangunan Toko Merah sempat menjadi Kantor Pusat NV Jacobson van den Berg & Co. pada tahun 1934-1942, sebagai salah satu perusahaan lima besar milik Kolonial Belanda saat itu.

Aura Mistis Toko Merah Kota Tua Jakarta

Geger Pecinan

Seiring dengan sosok megah dan kokohnya bangunan Toko Merah, ternyata ada beberapa cerita mistis yang berhubungan dengan tempat tersebut. Hal ini terkait dengan peristiwa Geger Pecinan yang terjadi di sekitar tahun 1740, kala itu banyak warga keturunan Tionghoa beserta keluarganya yang dibantai di wilayah Batavia.

Banyak jenazah warga keturunan Tionghoa bertebaran di Kali Besar di depan gedung Toko Merah, sehingga permukaan air berpadu dengan warna darah. Selain menjadi tempat pembantaian etnis Tionghoa, bangunan Toko Merah dikabarkan juga menjadi tempat penyiksaan, khususnya para gadis, hingga menemui ajalnya.

Karena Toko Merah menjadi saksi bisu pembantaian berdarah ribuan etnis Tionghoa ini, tak heran jika bangunan ini pun sarat dengan hal angker. Warga di sekitar Kali Besar pun tak sedikit yang mengalami kejadian berbau mistis di sekitar area tersebut.

[Baca Juga: Kisah Misteri Jembatan Merah Teksas Universitas Indonesia Depok]

Seringkali di tengah heningnya malam, terdengar suara langkah prajurit, tangisan dan teriakan wanita, serta bunyi aneh lainnya yang kerap muncul di bangunan tua itu. Malah banyak saksi mata yang sering melihat sesosok wanita misterius di sana, mengenakan gaun berwarna putih yang panjangnya menyapu lantai.

Seiring berjalannya waktu, bangunan Toko Merah sempat menjadi Gedung Dinas Kesehatan Tentara Jepang di masa pemerintahan Jepang. Setelah Indonesia merdeka, Toko Merah berubah melewati fase-fase perubahan pindah tangan pemilik kantor hingga pada tahun 1990an, Toko Merah dijadikan Bangunan Cagar Budaya berdasarkan UU No. 5 Tahun 1992 dan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 475 Tanggal 29 Maret Tahun 1993.

Setelah sekian lama terabaikan, akhirnya Toko Merah direstorasi ulang pada tahun 2012 dan sekarang Toko Merah berubah fungsi menjadi function hall yang dapat digunakan sebagai tempat konferensi dan pameran. Meski kini telah terlihat anggun dan mewah, nuansa mistis seolah enggan hilang dari Toko Merah. Anda berani merasakannya?

Read More

Artikel Lainnya

Cegah Virus Corona Masuk Indonesia, Kemenkes Siapkan 135 Thermoscanner

Kesehatan

Cegah Coronavirus Masuk Indonesia, Kemenkes Siapkan 135 Thermoscanner

25 January 2020, 10:00

Sebagai bentuk tindakan preventif penyebaran coronavirus, Kemenkes menyiapkan 135 thermoscanner di seluruh pintu masuk Indonesia.

Kinosaurus, Wadah Bertemunya Sineas dengan Penikmat Film

Berita Kawasan

Kinosaurus, Wadah Bertemunya Sineas dengan Penikmat Film

24 January 2020, 18:00

Dari awal pendiriannya, Kinosaurus menyimpan visi tersendiri yang sudah tercatat di benak para pendirinya. Apa sajakah itu?

Pemprov DKI Siapkan Berbagai Fasilitas untuk Menunjang Stasiun MRT Terintegrasi

Berita Kawasan

Pemprov DKI Siapkan Berbagai Fasilitas untuk Menunjang Stasiun MRT Terintegrasi

24 January 2020, 17:00

Fasilitas integrasi ini akan dilengkapi area komersial seperti restoran, kedai kopi, toilet, mushola, akses difabel berupa lift, dan akses eskalator untuk umum.

Hati-hati Coronavirus Kenali dan Cegah Penyakitnya

Kesehatan

Hati-hati Coronavirus: Kenali dan Cegah Penyakitnya

24 January 2020, 16:00

Coronavirus dengan mudah menyerang saluran pernapasan yang menyebabkan beragam penyakit pernapasan.


Comments


Please Login to leave a comment.