Ini Pandangan Ayu Utami dan Anya Rompas Agar Sasta Indonesia Mendunia

Pendidikan

Ayu Utami & Anya Rompas Tentang Pentingnya Sasta Indonesia Mendunia

Bagi Anda penggemar karya sastra Indonesia, tentu saja nama Ayu Utami dan Anya Rompas terdengar tidak asing lagi. Dalam sastra Indonesia kedua perempuan ini bisa dikatakan sudah merasakan asam-garam hingga mereka bisa menghasilkan sejumlah buku yang dapat dinikmati khalayak di Tanah Air. Mereka diundang di salah satu rangkaian kegiatan Gramedia Writers and Readers Forums atau GWRF 2019 dengan tema Sastra Indonesia di Dunia. Menariknya, keduanya memiliki pandangan yang berbeda perihal hal tersebut.

Ayu Utami yang pernah meraih sejumlah penghargaan di Indonesia dan luar negeri memandang karya sastra dalam proses pembuatannya seharusnya perlu tidak difokuskan agar bisa diterima di dunia internasional. “Saya sebagai penulis, sesungguhnya tidak terlalu peduli ketika menulis bahwa karya sastra saya akan dibaca di luar negeri,” tuturnya di GWRF 2019, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jalan Medan Merdeka Selatan No.11, Gambir, Jakarta Pusat (2/8/2019).

Ini Pandangan Ayu Utami dan Anya Rompas Agar Sasta Indonesia Mendunia

Pernyataannya di atas didukung oleh pengalaman Ayu Utami di Dewan Kesenian Jakarta. Pasalnya, ia mengklaim lebih memilih untuk melakukan penerjemahan karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia. Karena ini dipandang bagus untuk memperkaya wawasan kita dibanding menerjemahkan sastra Indonesia ke bahasa asing. “Kalau budget kita terbatas dan kita pakai untuk menerjemahkan karya kita ke luar, kalau pasarnya enggak tertarik ya buku itu lenyap,” tegasnya.

[Baca Juga: Reader Fest, Sosialisasi Toko Buku Online dari Gramedia.com]

Oleh karena itulah, penulis buku Bilangan Fu itu memandang jika karya sastra Indonesia ingin mendunia maka para penulis harus mampu menghadirkan suatu pemikiran baru yang membuat penikmat sastra internasional tertarik. “Bukan cuman (karena) kita senang nulis kemudian diperkenalkan begitu saja. Tapi kita sendiri mencoba bergulat dengan situasi-situasi di Indonesia dan mencoba menawarkan khasanah pemikiran dari Indonesia untuk dunia,” ujar Ayu Utami.

Pandangan yang berbeda disampaikan Gratiagusti Chananya Rompas atau yang akrab disapa Anya Rompas. Ia memandang, hal yang menghambat karya sastra di Indonesia kurang diminati di dunia internasional bukan dipicu ketidakberadaan dari khasanah pemikiran baru. Namun justru disebabkan oleh keadaan sastra di Tanah Air. “Kalau menurut saya, ada power struggle yang belum selesai di dalam sastra Indonesia,” ungkap penulis buku Kota Ini Kembang Api tersebut.

Ini Pandangan Ayu Utami dan Anya Rompas Agar Sasta Indonesia Mendunia

Menurut Anya, saat ini usaha untuk menduniakan berbagai karya sastra anak bangsa merupakan pekerjaan rumah untuk para pemangku kebijakan sastra Indonesia. “Untuk bisa membuat representasi yang adil di dunia luar tentang keberagaman di Indonesia. Dengan local wisdom-nya, dengan keseniannya, dengan mungkin buku-buku mengenai flora dan fauna yang ada di Indonesia jadi enggak hanya sastra saja yang kita bicarakan,” tambahnya.

Acara ini merupakan forum bertemu, berinteraksi, diskusi dan sharing antara penulis dan pembaca. Sesuai dengan tema yang dibahas dalam sesi bersama Ayu dan Anya, di tahun kedua ini, GWRF 2019 mengusung tema Literacy in Diversity. Tema ini merupakan simbol atas keberagaman di dalam dunia literasi. Seperti halnya kemajemukan di Indonesia, literasi juga tertuang pada banyak hal.

[Baca Juga: Prince Claus Award Celebration, Rayakan Karya Eka Kurniawan]

Selain dua penulis yang disebut di atas, ada total 45 penulis buku dan pemateri profesional yang berbagi pengalaman serta praktik nyata dunia keliterasian. Sederet nama tokoh dan penulis ternama seperti Fiersa Besari, Ayu & Ditto, Aan Mansyur, Sapardi Djoko Damono, Rintik Sedu, A.Fuadi, Budiman Sudjatmiko, Maman Suherman, dan Naela Alimemeriahkan GWRF 2019 yang berlangsung selama tiga hari. Talkshow dan workshop dari masing-masing penulis akan mengusung ragam tema ringan hingga serius, khas milenial, budaya dan sastra, pemantik kreatifitas, hingga spiritualitas.


Read More

Artikel Lainnya

Konser Full Team Dewa 19 Siap Digelar di Solo.jpg

Hobi dan Hiburan

Konser Full Team Dewa 19 Siap Digelar di Solo

23 September 2022, 15:57

Setelah sukses digelar di Candi Prambanan, konser Dewa 19 yang menghadirkan full team akan kembali manggung bersama dan kali ini digelar di wilayah Solo.

Perkuat Kehadirannya di Jawa Timur, Amartha Kolaborasi dengan BPR Jatim.jpg

Bisnis

Perkuat Kehadirannya di Jawa Timur, Amartha Kolaborasi dengan BPR Jatim

23 September 2022, 13:56

Baru-baru ini Amartha dan BPR Jatim resmi berkolaborasi dalam upaya menyalurkan Rp250 miliar untuk membantu pengembangan bisnis perempuan pengusaha mikro di wilayah Jawa Timur serta Jawa Tengah.

Ini Pandangan Pakar Unpad Terkait Pencegahan HIVAIDS.jpg

Kesehatan

Ini Pandangan Pakar Unpad Terkait Pencegahan HIV/AIDS

23 September 2022, 11:54

Setelah bulan lalu sempat ramai pembahasan kabar ribuan orang di Kota Bandung yang menderita HIV/AIDS, pakar Universitas Padjadjaran memberikan masukan terkait metode pencegahannya, khususnya di wilayah kampus.

Konsistensi Bambang Suprapto dalam Berkarya Melalui Solo Exhibition Uncertainty

Hobi dan Hiburan

Konsistensi Bambang Suprapto dalam Berkarya Melalui Solo Exhibition ‘Uncertainty’

22 September 2022, 18:20

Seniman muda Kota Malang, Bambang Suprapto, menggelar pameran tunggal yang bertajuk ‘Uncertainty’ di Kedai Lantjar Djaya, Kota Malang.


Comments


Please Login to leave a comment.