Diet Warga Jakarta 1.jpg

Kesehatan

Bagaimana Cara Diet Warga Jakarta yang Benar?

Jakarta merupakan provinsi yang penduduk dewasanya paling banyak mengalami obesitas, disusul Aceh, Jawa Timur, dan Riau. Berdasarkan data tahun 2017 Kementerian Kesehatan yang dikutip dari situs resmi mereka, sebanyak 37,1 persen penduduk Jakarta mengalami obesitas. Sementara itu, secara keseluruhan 1 dari 4 penduduk dewasa yang berusia di atas 18 tahun di Indonesia mengalami obesitas

Salah satu cara untuk mengatasi obesitas adalah dengan diet atau pengaturan pola makan. Idealnya diet dibuat mengikuti kondisi tubuh dan kebutuhan masing-masing orang. Namun, dari gaya hidup, makanan yang banyak dikonsumsi, dan perilaku warga urban, seorang pakar diet dan peneliti perilaku merangkumkan cara diet semacam apa yang efektif dan bisa dijalani warga Jakarta.

[Baca Juga: Olahraga Beladiri Lebih Banyak Bakar Kalori di Kemang Fight Gym]

PingPoint.co.id menemui pakar diet dr. Grace Judio-Kahl, MSc, MH, CHt, Dipl. AAAM dan menanyakan kenapa warga Jakarta menggemuk dan bagaimana cara mengatasinya. Berikut rangkuman hasil perbincangan di klinik yang didirikannya, lighthouse Indonesia yang kantor pusatnya berlokasi di Jl. Wolter Monginsidi No. 75, Jakarta Selatan (7/2/2019).

Diet Warga Jakarta menurut dr. Grace Judio Kahl

Mengapa Warga Jakarta Menggemuk?

Taukah Anda kalau satu porsi kentang goreng memiliki 340 kalori? Jumlah kalori tersebut tidak berbeda jauh dengan satu porsi nasi rames yang terdiri dari nasi, sayur, dan lauk. Jadi, bila Anda memilih mengonsumsi kentang goreng daripada nasi rames dengan alasan sedang diet, akan sia-sia saja karena kalori yang diasup tidak jauh berbeda. Tentunya menyantap nasi rames akan jauh lebih mengenyangkan dibanding hanya kentang goreng saja.

Lalu, apakah Anda juga kerap memilih memesan minum saja ketika diajak makan-makan di restoran karena takut gemuk? Minum apa yang Anda pesan. Jika itu Thai Tea atau Bubble Milk Tea, jumlahnya ternyata masing-masih 307 dan 323 kalori. Banyak makanan yang lebih mengenyangkan dengan jumlah kalori yang sama. Sayang kan tumbuh Anda kelaparan, tapi asupan kalori yang masuk tetap banyak karena ternyata minuman yang dipilih berkalori tinggi.

Menurut dr. Grace, warga Jakarta mengalami obesitas karena tiga faktor.

1. Pola Makan

“Pola hidup orang Jakarta yang serbasibuk, membuat orang Jakarta tidak sempat masak sendiri. Padahal dengan masak sendiri relatively menunya bisa dipilih yang rendah lemak. Kemudian juga gaya makan orang Jakarta zaman sekarang sudah berbeda. Sudah banyak sekali aplikasi yang memungkinkan orang tersebut pesan makanan, apa pun yang diinginkan, kapan pun,” dr. Grace menerangkan.

2. Tidak Banyak Bergerak

Penyebab yang kedua adalah karena tidak banyak bergerak. “Apalagi di Jakarta panas, kemudian juga berdebu. Kemudian untuk jalan kaki trotoarnya kurang menunjang, sehingga tidak banyak bergerak membuat sedentary lifestyle, sehingga akhirnya berat badan lebih gampang naik,” ia melanjutkan.

3. Lingkungan Sosial

Faktor lingkungan di mana orang Jakarta sibuk bekerja sehingga harus makan di luar lebih banyak. “Orang kantoran ada kewajiban meng-entertain, jajan di luar. Atau pada ibu rumah tangga di Jakarta lebih banyak ngumpul-ngumpul dengan teman-teman. Dan, biasanya pusat kehidupan adalah di mal. Nah, itu membuat jadi warga Jakarta jauh lebih gampang gemuk,” dia menyimpulkan.

Ia kemudian menyarankan, bila warga Jakarta ingin menurunkan berat badan, ada beberapa kebiasaan yang harus diubah. “Supaya lebih langsing, maka pola makan harus diperhatikan. Pilih-pilih makanan kalau harus makan di luar. Hindari gula, tepung, dan lemak,” ujar dr. Grace.

[Baca Juga: Tips Jika Ingin Sukses Bisnis Klinik Kecantikan]

Ia juga menyarankan agar warga Jakarta lebih banyak bergerak. “Usahakan di mana memungkinkan untuk bergerak, geraklah lebih banyak. Pakai hak yang tidak terlalu tinggi sehingga jalan bisa nyaman. Kemudian bawa mungkin sandal kalau misalnya tidak nyaman untuk bergerak. Bila hanya naik 2-3 tingkat di sebuah bangunan usahakan pakai tangga, tidak pakai lift. Kalau ada kesempatan untuk bergerak, misalnya Car Free Day, coba dimanfaatkan,” saran dokter yang sudah berkecimpung di dunia penurunan berat badan sejak 2003 ini.

Read More

Artikel Lainnya

Aman di Masa Pandemi, Terminal Jatijajar Sudah Terapkan Tiket Elektronik .jpg

Berita Kawasan

Aman di Masa Pandemi, Terminal Jatijajar Sudah Terapkan Tiket Elektronik

29 September 2020, 16:08

Salah satu inovasi yang diterapkan di Terminal Jatijajar di masa pandemi seperti sekarang adalah pemberlakukan sistem e-ticketing.

Musim Hujan, Wali Kota Tangerang Persiapkan Langkah Antisipasi Banjir.jpg

Berita Kawasan

Musim Hujan, Wali Kota Tangerang Persiapkan Langkah Antisipasi Banjir

29 September 2020, 15:03

Wali Kota Tangerang memastikan pihaknya sudah mempersiapkan skenario antisipasi terhadap potensi terjadinya banjir akibat musim hujan.

Pemkot Semarang Kejar Target Zona Hijau COVID-19 pada Desember.jpg

Berita Kawasan

Pemkot Semarang Kejar Target Zona Hijau COVID-19 pada Desember

29 September 2020, 14:02

Pemkot Tangerang saat ini tengah bekerja keras untuk mengubah status wilayahnya dari zona orange menjadi zona hijau COVID-19.

Pedagangnya Positif COVID-19, Pasar Ciplak Ditutup Sampai 30 September .jpg

Berita Kawasan

Pedagangnya Positif COVID-19, Pasar Ciplak Ditutup Sampai 30 September

29 September 2020, 13:01

Pasar Ciplak di wilayah Jakarta Selatan disebut ditutup pada pekan ini usai ada pedagang yang positif COVID-19.


Comments


Please Login to leave a comment.