Bagi Keluarga Tak Harmonis, WFH Jadi Petaka Buat Pekerja

Kesehatan

Bagi Keluarga Tak Harmonis, WFH Jadi Petaka Buat Pekerja

Sudah satu bulan sistem work from home (WFH) diterapkan di sejumlah perusahaan sejak pandemi COVID-19 melanda Jakarta. Pemberlakuannya pun sejalan dengan keputusan Pemerintah Provinsi DKI yang meminta agar pengusaha menerapkan WFH atau skema kerja lainnya demi menekan penyebaran COVID-19.

Meski menjadi salah satu cara untuk menekan penyebaran COVID-19, nyatanya sistem ini berdampak pada kesehatan mental pekerja. Sebab, bagi pekerja dengan kondisi keluarga tak harmonis, WFH bisa menjadi sumber baru konflik di rumah. Hal ini sebagaimana pemaparan Psikolog Yayasan Pulih, Ika Putri D dalam Webinar Kesehatan Mental Laki-Laki dan Perempuan dalam Situasi WFH (14/4/2020).

Bagi Keluarga Tak Harmonis, WFH Jadi Petaka Buat Pekerja

“Kesehatan mental laki-laki dan perempuan itu sendiri sebenarnya kalau kita lihat definisinya, keduanya sama-sama bisa sehat mental dan bisa tidak. Lalu kenapa dipisah seperti dibedakan? Karena secara kesehatan laki-laki dan perempuan, kita menggunakan perspektif gender,” kata Ika.

Ika memaparkan, kondisi tersebut terjadi karena adanya bias gender dalam keluarga. Norma gender yang kaku berpengaruh terhadap kesehatan mental bagi laki-laki dan perempuan. Dalam hal ini terkait perihal pembagian peran di rumah serta hal-hal yang memicu stres lainnya.

Bias Gender

Baik pekerja perempuan dan laki-laki memang sama-sama dapat mengalami gangguan kesehatan mental selama WFH. Namun, adanya konstruksi sosial yang meletakkan peran perempuan hanya dalam ranah domestik, membuat mereka dituntut harus mengurus rumah tangga sekaligus mengerjakan pekerjaannya pada waktu yang sama. Kondisi ini lazim terjadi pada keluarga yang bias gender.

“Kebanyakan masyarakat menilai sistem domestik itu beban perempuan. Jadi ketika kerja di rumah, perempuan dituntut untuk membagi diri secara maksimal,sekaligus di ranah kerja atau di lingkup kerja domestik. Jadi dia harus kerja di rumah, tetapi tetap bebannya dituntut untuk mengerjakan pekerjaan rumah,” jelasnya.

Bagi Keluarga Tak Harmonis, WFH Jadi Petaka Buat Pekerja

Tak dapat dipungkiri, sistem WFH juga memiliki sisi positif. Misalnya waktu kerja yang menjadi fleksibel, lebih banyak waktu dengan keluarga dan terhindar dari kemacetan. Hanya saja, sistem WFH juga membawa perubahan sistem kerja, yang menurut Ika dapat menjadi sumber stress bagi pekerja. Misalnya tuntutan kerja yang menjadi lebih tinggi dan harus menemani anak belajar di rumah.

[Baca Juga: Perempuan Pekerja Merasa Lebih Stres Dibandingkan Pria]

“Perubahan-perubahan ini bisa bikin jadi sumber stress bagi pekerja. Kondisi ini bikin menuntut kerja lebih cepat, utamanya bagi level-level pekerja di bidang pengambilan keputusan atau layanan. Jadi fleksibel bisa cukup nyaman, tapi bisa tidak nyaman juga,” katanya.

Oleh karenanya, di situasi pandemi ini dan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) rentan terjadi konflik dalam keluarga. Meskipun konflik yang terjadi tak melulu berujung pada Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Beban Ganda

Perawat perempuan dapat menjadi contoh pekerja yang mengalami beban ganda di masa pandemi COVID-19. Hal ini sebagaimana hasil laporan International Labour Organization (ILO) perihal beban ganda bagi pekerja perempuan di bidang kesehatan di masa pandemi ini.

Menurut laporan ILO, sebanyak 70% pekerja kesehatan adalah kelompok perempuan, termasuk dalam lembaga pelayanan. Di masa pandemi ini mereka mengalami beban ganda seperti waktu kerja yang lebih lama dan pekerjaan tambahan untuk merawat rumah.

[Baca Juga: Waspada! Virus Corona Dapat Picu Gangguan Kesehatan Jiwa]

ILO menyebutkan, hampir 100 juta perempuan yang bekerja di lembaga kesehatan dan perawatan yang tersebar di seluruh dunia menghadapi tantangan masalah keseimbangan antara tanggung jawab profesi dan keluarga. Adanya pandemi ini pun semakin menunjukkan adanya ketidaksetaraan gender yang telah lama terjadi di dunia kerja.

Oleh karena itu, ILO mengatakan bila kita ingin keluar dari masalah tersebut, maka perlu adanya keterlibatan perempuan dalam mendesain kembali dunia kerja yang setara dan adil setelah pandemi COVID-19.


Read More

Artikel Lainnya

Semarakan 2022 PMPL SEA Championship, realme Gelar Esports Week.jpg

Bisnis

Semarak 2022 PMPL SEA Championship, realme Gelar Esports Week

30 September 2022, 15:45

Untuk merayakan pertandingam 2022 PMPL SEA Championship, realme memutuskan menghadirkan promo lucky draw bertajuk realme Esports Week.

Peresmian Selma Ciledug, Konsumen Diberikan Edukasi Kesehatan Jantung - Copy.jpg

Bisnis

Peresmian Selma Ciledug, Konsumen Diberikan Edukasi Kesehatan Jantung

30 September 2022, 13:44

Pada momen pembukaan cabang Selma terbaru di daerah Ciledug, ritel mebel di bawah naungan Kawan Lama Group itu menggelar program edukasi kesehatan jantung.

Romokalisari Adventure Land Bawa Berkah untuk UMKM Setempat - Copy.jpg

Bisnis

Romokalisari Adventure Land Bawa Berkah untuk UMKM Setempat

30 September 2022, 11:42

Ternyata Romokalisari Adventure Land yang belum lama ini diresmikan disebut berhasil meningkatkan pemasukan para pelaku UMKM di sana.

Rayakan Peningkatan Okupansi Berkat tiket.com, RedDoorz Berikan Penghargaa n.jpg

Bisnis

Rayakan Peningkatan Okupansi Berkat tiket.com, RedDoorz Berikan Penghargaan

29 September 2022, 19:46

Usai berkolaborasi selama empat tahun terakhir, tiket.com baru-baru ini mendapatkan penghargaan dari RedDoorz yang memandang perusahaan OTA itu berhasil membantu peningkatan industri pariwisata di Tanah Air.


Comments


Please Login to leave a comment.