DEPOK_KAWASAN_BANGUNAN TUA DI MARGO CITY JADI SAKSI SEJARAH DEPOK_EMIL-01.jpg

Berita Kawasan

Bangunan Tua di Margo City Jadi Saksi Sejarah Depok

Mal Margo City merupakan pusat perbelanjaan di Depok yang ramai dikunjungi oleh para warga kawasan tersebut untuk membeli berbagai kebutuhannya. Selain itu, mal ini juga sering dikunjungi oleh anak muda Depok untuk sekedar hangout bersama teman-temannya. Namun tahukah Anda bahwasanya di area Margo City terdapat bangunan tua yang jadi saksi sejarah pekembangan Kota Depok?

Nama bangunan itu serupa dengan salah satu kelurahan di Depok yaitu Rumah Tua Pondok Cina. Tidak banyak generasi muda di Depok yang mengetahui keberadaan bangunan bersejarah ini. Pasalnya, Rumah Tua Pondok Cina berada di Jalan Margonda yang tepatnya berada di sisi kanan bagian sebelah depan dari Mal Margo City.

Karena posisinya yang bak dibayangi oleh modernitas dari Mal Margo City, Rumah Tua Pondok Cina hanya menjadi buah bibir semata di kalangan masyarakat Depok. Walaupun hanya para pecinta sejarah serta arsitektur kuno saja yang ramai mengunjungi bangunan tua tersebut. Seperti peribahasa yang berbunyi “tak kenal maka tak sayang”, artikel ini akan mengulas mengenai bangunan bersejarah tersebut agar Anda lebih memahami pentingnya keberadaan Rumah Tua Pondok Cina.

Sejarah Rumah Tua Pondok Cina

Bila mengulas mengenai sejarah pembangunan Rumah Tua Pondok Cina maka perlu ditarik benang merah ke awal perkembangan Depok, tepatnya saat Cornelis Castelein membeli lahan dengan luas 12,44 kilometer persegi pada 18 Mei 1696. Kemudian ia menjadikan lahan miliknya sebagai perkebunan lada.

Cornelis Castelein pun mempekerjakan para warga pribumi serta para budak yang berasal dari suku Bali, Ambon, Bugis, Sunda dan lain-lain di lahan perkebunannya. Lamban laun pun, Castelein sebagai tuan tanah mulai membangun cikal bakal Kota Depok dengan bekal perkebunannya bersama 12 keluarga budak yang saat itu bekerja dengannya.

Pembangunan Depok serta perkebunannya sempat mengalami kendala mengingat sang tuan tanah dan para budak yang bekerja di sana memerlukan kebutuhan sehari-hari. Namun karena saat itu hanya ada Chastelein serta para pekerjanya yang tinggal di area jauh dari Batavia, untuk memenuhi kebutuhan ini terbilang sulit.

Akhirnya sebagaimana dilansir dari Jakartabytrain.com, Chastelein pun mulai mengundang para pedagang di Batavia untuk membuka usahanya di area Depok. Sebagai tuan tanah, Chastelein memiliki hak khusus untuk mengatur peraturan perdagangan yang ada di lahannya dan para pedagang pun harus menaati hal tersebut.

Salah satu peraturannya adalah mengenai para pedagang yang berasal dari etnis Tionghoa. Di mana Chastelein hanya mengizinkan mereka untuk berdagang di Depok dari mulai pagi hingga sore. Namun mereka tidak diperbolehkan untuk tinggal di dalam area Depok.

Sebagaimana dilansir dari megapolitan.kompas.com, larangan ini diklaim karena Chastelein menganggap orang-orang Tionghoa kerap memicu kerusuhan akibat mabuk-mabukan dan menjadi ‘lintah darat’ dengan meminjamkan uang yang memiliki bunga tinggi. Larangan ini pun membuat para pedagang tersebut kebingungan, mengingat untuk kembali ke kawasan Batavia membutuhkan waktu sekira delapan jam.

Akhirnya mereka memutuskan untuk tinggal di Kampung Bojong yang berada di jalan utama dekat Pasar Cimanggis, Cisalak, dan Pasar Tua. Para warga Tionghoa pun diizinkan untuk membangun rumah-rumah singgah atau pondok sederhana di kampung tersebut. Lambat laun dengan semakin ramainya warga Tionghoa di sana, mereka bukan hanya berprofesi sebagai pedagang tapi juga ada yang bekerja di ladang kebun karet milik para tuan tanah asal Belanda.

Lama-lama pemukiman di Kampung Bojong pun semakin ramai dihuni oleh para warga Tionghoa dan hal inilah yang memicu munculnya nama Pondok Cina. Selain dihuni oleh warga etnis Tionghoa, kawasan Pondok Cina yang menjadi ramai karena adanya jalan utama yang menghubungkan Batavia-Depok-Buitenzorg (nama Bogor di era Kolonial Belanda), juga dihuni oleh orang-orang Belanda yang salah satunya merupakan seorang arsitek.

Arsitek itulah yang menjadi pendiri selaku pemilik awal dari Rumah Tua Pondok Cina yang membangunnya pada 1841. Namun pada pertengahan abad 19, bangunan tersebut dibeli oleh saudagar Tionghoa bernama Lauw Tek Tjing. “Dia Saudagar China. Saat itu trennya rumah model seperti itu (Rumah Tua Pondok Cina). Tapi ada (unsur-red) filosofi China-nya, seperti jumlah pintu ada tiga,” jelas Lilie Suratminto selaku Dosen Sastra Belanda di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, sebagaimana dikutip dari travel.kompas.com.

Kemudian bangunan tersebut diwariskan oleh Lauw Tek Tjiong kepada putranya yakni Lauw Tjeng Shiang yang saat itu menjabat sebagai Kapitan Cina. Sekadar informasi, Kapitan China atau Kapitein der Chinezen merupakan pejabat di era Pemerintahan Kolonial Belanda yang bertanggung jawab untuk memimpin warga etnis Tionghoa saat itu.

Di era modern, kepemilikan Rumah Tua Pondok Cina jatuh ke tangan pihak manajemen Margo City. Mereka sempat menjadikan bangunan bersejarah tersebut sebagai restoran bernama Old House Coffee tapi saat ini sudah tutup. Usut punya usut Rumah Tua Pondok Cina sempat diklaim terbuka untuk umum dan dapat dikunjungi. Namun Anda perlu meminta izin kepada pihak manajemen Margo City untuk memasukinya.

Read More

Artikel Lainnya

Pemkab Bekasi Minta Jangan Ragu Tangani COVID-19 dengan Dana Desa

Berita Kawasan

Pemkab Bekasi Minta Jangan Ragu Tangani COVID-19 dengan Dana Desa

04 April 2020, 18:00

Bagi sektor ekonomi kerakyatan, serbuan wabah COVID-19 telah meninggalkan dampak yang signifikan. Ketahanan pangan di setiap desa pada Kabupaten Bekasi adalah prioritas yang harus segera tuntas.

Berdayakan Warga, Bupati Bogor Bentuk 3759 RW Siaga COVID-19

Berita Kawasan

Berdayakan Warga, Bupati Bogor Bentuk 3759 RW Siaga COVID-19

04 April 2020, 17:00

Wabah COVID-19 hanya bisa diatasi jika ada sinergi antara pemerintah dan masyarakat. Pemkab Bogor ajak warga Bogor untuk siaga penuh bersama pemerintah.

Akibat COVID-19, Kegiatan Pemugaran 4 Stasiun Kereta Dihentikan

Berita Kawasan

Akibat COVID-19, Kegiatan Pemugaran 4 Stasiun Kereta Dihentikan

04 April 2020, 16:00

Jumlah kasus COVID-19 terus bertambah setiap harinya. Tak mau ambil risiko, Pemprov hentikan sementara penataan kawasan empat stasiun di Jakarta.

Cegah Penyebaran Covid-19, Buat Kartu Kuning di Depok Bisa Online

Berita Kawasan

Cegah Penyebaran COVID-19, Buat Kartu Kuning di Depok Bisa Online

04 April 2020, 15:00

Untuk menjalankan physical distancing, Disnaker Kota Depok memberlakukan sistem pembuatan kartu kuning secara online.


Comments


Please Login to leave a comment.