Belenggu Stigma Anak dengan Autisme dalam Dunia Pendidikan

Pendidikan

Belenggu Stigma Anak dengan Autisme dalam Dunia Pendidikan

Anak dengan Gangguan Spektrum Autisme atau Autism Spectrum Disorders (ASD) acap kali mendapat perlakuan diskriminasi di lingkungannya. Mereka kerap mendapat stigma masyarakat. Fakta ini sebagaimana yang disampaikan oleh World Health Organization (WHO). Namun, bagaimana kalau stigma tersebut terjadi dalam ranah pendidikan?

Setidaknya, ini lah yang dialami oleh Suyeni Song - ibunda dari Melvan Safero, anak dengan autisme. Perempuan berusia 47 tahun itu ingat betul perjuangannya agar putra pertamanya bisa masuk sekolah unggulan layaknya anak-anak lainnya.

Secara akademis, Melvan tergolong sebagai anak yang mumpuni. Terbukti, IQ nya mencapai 132. Melvan pun juga lolos untuk tes sekolah nasional unggulan.

Belenggu Stigma Anak dengan Autisme dalam Dunia Pendidikan

Kendati demikian, hal itu ternyata tak mampu membuatnya otomatis dapat mengenyam pendidikan seperti anak lainnya. Pihak sekolah menolaknya karena menganggap Malven tak memiliki perilaku yang baik. Padahal, perilaku hiperaktif yang menjadi salah satu ciri anak dengan autisme adalah hal yang lazim.

“Alasannya menolak itu yang bikin aku emosi. Dia bilang ‘maaf sekolah kami bukan hanya menerima anak yang cerdas, tetapi sekolah kami juga memprioritaskan attitude’,” kata Suyeni kepada jurnalis PingPoint.co.id (6/4/2020).

Belenggu Stigma Anak dengan Autisme dalam Dunia Pendidikan

Penolakan dari pihak sekolah yang sejatinya wadah bagi semua anak dapat mengenyam pendidikan, membuatnya merasa pihak sekolah tak memiliki pemahaman yang baik perihal autisme. Apalagi Suyeni juga pernah mendapat pengalaman buruk oleh pihak sekolah lainnya. Ketika dirinya menceritakan kondisi putranya, justru ia mendapat stigma tidak bisa merawat anak.

[Baca Juga: Hari Kesadaran Autisme Sedunia, Mengenal Apa Itu ASD]

Stigma terhadap orangtua dengan anak dengan autisme seperti itu kerap dialaminya. Tak jarang orang menganggap dirinya tak merawat anak karena ia merupakan seorang perempuan karir.

Judgement seperti itu jangan diberikan dengan orangtua anak [dengan] autis[me]. Masalahnya anak dia belum tentu autis, dia tidak bisa paham perasaan kita. Padahal dengan pekerjaan saya seminggu tujuh hari, dua hari keluar, sisanya lima hari di rumah,” ungkapnya.

Harapan

Diakuinya, ada beberapa tipe anak dengan autisme yang berbeda sehingga membuat mereka tak melulu harus sekolah di tempat khusus. Pada kasus anak dengan autisme IQ tinggi misalnya, bila mereka dipaksakan di sekolah anak berkebutuhan khusus maka dapat menghambat perkembangannya. Hal inilah yang membuat Suyeni tak lelah untuk berupaya agar putranya dapat mengenyam di bangku pendidikan sekolah umum.

Berkaca dari pengalamannya, dirinya pun berharap agar pemerintah membekali pendidikan kepada para guru-guru di Indonesia supaya memahami cara mendidik bagi anak berkebutuhan khusus. Guru harus tahu cara mendidik anak yang tak hanya unggul dari sisi kecerdasan otak kiri, tetapi juga otak kanan. Sebab, perlu metode khusus untuk mendidik anak yang unggul dengan kecerdasan otak kanan.

Belenggu Stigma Anak dengan Autisme dalam Dunia Pendidikan

“Jadi yang aku harapkan di instansi pemerintahan kita terutama guru-gurunya itu dibekali konsep-konsep psikologi terhadap anak-anak special need karena kita nggak bisa bendung. Makin lama makin banyak nanti jumlahnya. Sekarang anak kalau yang semua special need di jadi satu itu tidak bagus,” Suyeni berharap.

Selain itu, dirinya juga berharap agar pihak sekolah memberi edukasi ke para orang tua murid lainnya di saat pertemuan sekolah. Dia mengatakan, tak jarang penolakan terhadap anak dengan autisme untuk dapat sekolah di tempat sekolah umum justru datang dari orang tua murid. Ada stigma bahwa anak dengan autisme adalah anak yang tidak berkelakuan baik.

[Baca Juga: Membumikan Kepedulian Masyarakat Terhadap Anak dengan Autisme]

“Jadi pemerintah kita harus lebih mendengungkan bahwa autisme itu harus diterima dan memang mereka ada, dan mereka berbeda bukan berarti mereka bodoh, bukan jahat dan bukan bandel. Mereka cuma beda cara pikirnya,” katanya.

Dan yang tak kalah pentingnya, Suyeni mengungkapkan bahwa dukungan dari teman-teman di sekolah kepada anak dengan autisme sangat penting. Hal ini sebagaimana pengalaman Melvan yang mampu masuk sekolah unggulan dan berkompetisi dengan siswa lainnya.

“Saya selalu menanamkan ke anak saya bahwa dia beda, dia autis, harus tahu diri, tapi bukan berarti dia bodoh. Jadi saya berusaha memberi tahu ke guru sekolahnya perbedaan anak saya sehingga guru-guru di sekolah itu bisa info ke anak-anak atau teman-temannya supaya bisa menerima,” jelasnya.

Diakuinya, Melvan yang kini tengah duduk di bangku sekolah menengah atas lebih percaya diri dengan kemampuannya. Hal ini berbeda saat Melvan duduk di sekolah dasar. Kala itu, Suyeni menyekolahkan Melvan di sekolah dasar umum. Melvan kerap dirundung saat ia masih dudu di bangku SD.

“Waktu SMP saya nekat masukin melvan ke sekolah unggulan. Ternyata di sana justru sangat respect terhadap anak yang memang pintar, seperti Malven yang unggul di matematika. Anak saya confidence-nya berubah luar biasa ketika masuk SMP dan masuk SMA unggulan,” jelasnya.


Read More

Artikel Lainnya

Ingin Berlayar di Australia Secara Gratis Princess Cruises Gelar Ko mpetisi Daring.jpg

Hobi dan Hiburan

Ingin Berlayar di Australia Secara Gratis? Princess Cruises Gelar Kompetisi Daring

30 June 2022, 15:13

Dalam momen peluncuran program liburan di atas kapal pesir ke Tasmania, Princess Cruises menggelar kompetisi daring untuk mendapatkan tiket berlayar gratis selama delapan hari di Australia.

Mulai Pekan Depan! Serial Suka Duka Berduka Ditayangkan Perdana di Vidi o.jpg

Hobi dan Hiburan

Mulai Pekan Depan! Serial Suka Duka Berduka Ditayangkan Perdana di Vidio

30 June 2022, 13:12

: Bagi Anda penggemar komedi Tanah Air, maka bersiaplah untuk menyaksikan serial Suka Duka Berduka yang diperankan bintang papan atas Indonesia yang mulai tayang pekan depan di Vidio.

Stadion Patriot Bekasi Siap Jadi Tuan Rumah Piala AFF U-19 202 2.jpg

Berita Kawasan

Stadion Patriot Bekasi Siap Jadi Tuan Rumah Piala AFF U-19 2022

30 June 2022, 11:09

Akhir pekan ini, Stadion Patriot Bekasi akan menjadi saksi gelaran perdana timnas di Piala AFF U-19 2022.

Hindari Obat, Ini Tips Tidur dari Pakar Unair Bagi Penderita Insomnia.jpg

Kesehatan

Hindari Obat, Ini Tips Tidur dari Pakar Unair Bagi Penderita Insomnia

29 June 2022, 16:22

Menurut pakar Unair, demi mendapatkan tidur yang berkualitas, penderita insomnia seharusnya berupaya menghindari penggunaan obat tidur.


Comments


Please Login to leave a comment.