Tentang Ketidakakuratan Rapid Test Biozek dan Import Alat Kesehatan

Bisnis

Biozek: Kinerja Galat Alat Uji Cepat dan Problem Import Alat Kesehatan

Pada awal April lalu, Kimia Farma adalah perusahaan plat merah yang mendatangkan 10.000 boks atau 300.000 unit alat uji cepat Biozek dari Belanda. Dipilihnya alat ini atas rekomendasi bagian pengembangan bisnis perusahaan plat merah itu. Alasan lainnya, karena Inzek International Trading BV mengizinkan calon kliennya untuk survei lokasi.

Akan tetapi, beberapa waktu belakangan ini banyak kabar buruk seputar alat ini. Investigasi OCCRC (Organizer Crime & Corruption Reporting Project) bersama sejumlah media lintas negara menunjukkan adanya beberapa kejanggalan. Baik menyangkut akurasi, validasi, harga, hingga asal produk.

Tentang Ketidakakuratan Rapid Test Biozek dan Import Alat Kesehatan

Investigasi OCCRP dan rekan media lintas Negara termasuk majalah Tempo, menemukan bahwa produk yang diklaim buatan Inzek International Trading BV Belanda itu ternyata adalah buatan Hangzhou AllTest Biotech Co Ltd, Tiongkok. Diberitakan mediaindonesia, Kepala Eksekutif Mach-E BV, Erro Verschoor, selaku distributor tunggal produk Biozek di Indonesia mengungkapkan, banyak perusahaan manufaktur mencoba mengambil manfaat dari krisis ketersediaan alat itu. "Kami telah melihat peningkatan sangat tajam dalam permintaan dan penjualan rapid test di seluruh dunia," katanya, Rabu (13/5/2020).

Erro menjelaskan kalau dirinya sudah melihat banyak alat sejenis. Bahkan, dengan berbagai sertifikat masuk ke pasar namun gagal memenuhi standard kualitas sesuai peraturan. Sebaliknya justru rapid test Biozek Covid-19 IgG/IgM/Mach-E telah diakui di Eropa dan digunakan di banyak negara. Di antaranya Italia, Prancis, Spanyol, Inggris, Jerman, Rusia, Swiss, Belanda, Amerika Serikat, India, Kuwait, Israel, dan Arab Saudi.

[Baca Juga: Tentang Ketidakakuratan Rapid Test Biozek]

Selain itu, penelusuran yang dilakukan OCCRP dan majalah Tempo juga menyoroti soal harga yang dipatok kepada masyarakat yang ingin jalani Uji Cepat atau rapid test. Laboratorium Klinik Kimia Farma memungut biaya Rp650.000 untuk sekali pengujian.

Meskipun Badan USaha Milik Negara (BUMN) Kimia Farma tidak bersedia membuka harga beli Rapid Test Biozek, OCCRP menemukan harga jual di pasaran sebenarnya hanya 5 Euro atau sekitar Rp80.000 per unit. Di sejumlah media sosial, ditemukan sejumlah akun menjual Biozek isi 30 unit per boks dengan harga Rp100.000 atau Rp8.000.000, setara Rp267.000 per unit.

Sementara CEO Inzek International Trading BV, Zeki Hamid mengatakan pihaknya tidak senang bila produk mereka dijual dengan harga lebih dari 10 Euro atau sekitar Rp160.000 per unit. Dia pun turut meluruskan isu seputar Biozek diproduksi di Belanda. Kata dia, situs Biozek tak pernah bermaksud menyebut alat itu diproduksi di Belanda.

Kecewakan Banyak Negara

Inggris, jadi salah satu Negara yang melakukan pembelian besar-besaran, senilai $20 juta USD tau Rp296 miliar. Namun, setelah Universitas Oxford membuktikan ketidaktepatan hasil tesnya, setengah juta alat itu kini tidak terpakai. Langkah ini diikuti oleh Inggris, India, Ceko, Spanyol dan Slovakia akhirnya memutuskan untuk mengembalikan alat uji cepat buatan Tiongkok yang dikemas ulang dengan berbagai merek oleh beberapa perusahaan.

Negara tetangga, Australia mengalami hal serupa. Wilayah berjuluk negeri kanguru ini, telah membeli sebanyak hampir dua juta unit alat uji cepat ini. Namun dikabarkan Sydney Morning Herald, Doherty Institute telah melakukan pengujian terhadap alat ini dan hasilnya cukup mengejutkan.

[Baca Juga: Pro Kontra Rapid Test dan Manfaat Tes Massal dalam Penyebaran COVID-19]

"Temuan kami sangat menyarankan perangkat [antibodi] tidak digunakan dalam diagnosis COVID-19 akut, dan telah membatasi, jika ada, perannya dalam manajemen klinis pasien secara individu," kata laporan Doherty.

Pengujian ini dilakukan sebagaimana arahan Badan Administrasi pengawas alat terapi (TGA) Australia, lantaran institusi ini menemukan fakta terdapat beberapa perusahaan peralatan medis yang minim pengalaman soal pengadaan alat uji cepat.

Santer Isu Mafia Alkes

Pada 16 April silam, Menteri BUMN Erick Thohir sempat menyinggung perihal dirinya yang tengah menyoroti tajam soal peluang pencaplokan importasi alat kesehatan (Alkes) yang saat ini sedang digencarkan demi memerangi pandemi COVID-19. Menurutnya, mafia-mafia yang memanfaatkan situasi dan kondisi saat ini harus ditindak tegas dan dilawan agar praktik kotor tidak menyulitkan negara apalagi di saat sulit seperti ini.

"Kalau kita nggak gotong royong, memangnya bangsa lain peduli? Jangan semuanya ujung-ujung duit terus, lalu kita kejebak short term policy, didominasi mafia (impor alkes), kita harus lawan itu. Pak Jokowi punya keberpihakan akan itu. Mohon maaf kalau menyinggung beberapa pihak, jangan kita ini selalu terjebak praktik kotor," kata Erick dalam siaran langsung di akun Instagramnya, @erickthohir, kala itu.

Tentang Ketidakakuratan Rapid Test Biozek dan Import Alat Kesehatan

Apa yang dilontarkan Erick—mungkin—kala itu hanya bikin dahi mengernyit keheranan. Namun kini sinyal Erick mulai ditangkap banyak pihak. Lalu isu ini menjadi kian santer setelah hasil investigasi OCCRP dan rekan media lintas Negara termasuk majalah Tempo, yang mengungkap banjirnya produk alat uji cepat yang tidak layak tingkat akurasinya membanjiri Indonesia yang sedang berjuang hadapi pandemi.

Sebagaimana dikabarkan industry.co.id, Sulaiman Haikal, Ketua Pijar 98, menyatakan, kini sinyalemen Menteri BUMN Erick Tohir tentang bercokolnya mafia farmasi dan alat kesehatan di Indonesia makin terbukti. “Selain menyebabkan ketergantungan parah bangsa Indonesia atas impor obat dan peralatan kesehatan, praktek tidak terpuji juga mewabah seiring pandemi ,” ujarnya.

Dia pun menegaskan,temuan ini mengingatkan kita akan gencarnya opini yang menuntut pemerintah membebaskan impor alkes beberapa waktu lalu memanfaatkan ketakutan rakyat akan pandemi. Menteri BUMN Erick Tohir yang saat itu berusaha menahan dan melihat gelagat tidak baik melalui pernyataannya soal mafia alkes, juga tak luput dari serangan bertubi-tubi hingga diupayakan pemanggilan.


Read More

Artikel Lainnya

Jakarta Concert Week 2023 Siap Digelar di GJAW.jpg

Hobi dan Hiburan

Jakarta Concert Week 2023 Siap Digelar di GJAW

07 February 2023, 14:00

Gaikindo Jakarta Auto Week 2023 nantinya tak hanya berisikan pameran otomotif tapi juga siap didampingi acara konser seru bertajuk Jakarta Concert Week 2023.

Sukses Raih Penghargaan Acer Smart School Awards 2022, Ini 12 Pemenangnya.jpg

Pendidikan

Sukses Raih Penghargaan Acer Smart School Awards 2022, Ini 12 Pemenangnya

07 February 2023, 11:00

Melalui Acer Smart School Awards 2022, Acer beri penghargaan kepada belasan sekolah dan para guru kreatif yang dipandang mendorong transformasi pendidikan Indonesia.

Ini Komunitas Unpad Peduli Anabul Penghuni Area Kampus.jpg

Pendidikan

Ini Komunitas Unpad Peduli Anabul Penghuni Area Kampus

06 February 2023, 14:53

Bergabung dalam UnpadSF, sejumlah mahasiswa Universitas Padjadjaran mengisi sela-sela waktunya untuk membantu serta melindungi anabul yang tinggal di sekitaran kampus Unpad.

CFD Kota Medan Bawa Berkah Bagi Pengusaha UMKM.jpg

Bisnis

CFD Kota Medan Bawa Berkah Bagi Pengusaha UMKM

06 February 2023, 12:51

Selain untuk berolahraga, CFD Kota Medan juga menjadi momen berkumpul bersama keluarga serta teman dan ini menjadi berkah tersendiri bagi pelaku usaha UMKM Kota Melayu Deli.


Comments


Please Login to leave a comment.