Cong-Kawasan-Catcalling--Permasalahan-yang-Kerap-Dialami-Perempuan-di-Jakarta.jpg

Berita Kawasan

Catcalling, Permasalahan yang Kerap Dialami Perempuan Jakarta

Mungkin salah satu harassment atau pelecehan yang paling sering dialami oleh para perempuan adalah catcalling. Bagi Anda yang masih asing dengan istilah ini, pada dasarnya catcalling merupakan tindakan menggoda secara verbal dan biasanya menimpa para perempuan ketika mereka tengah berjalan di ruang publik. Para perempuan di kota metropolitan seperti Jakarta pun tak ayal merasa bahwa perilaku seperti itu membuat mereka merasa tidak nyaman dalam beraktivitas.

Perilaku ini pun sempat ramai dibicarakan beberapa tahun terakhir ini. Khususnya pada 2017 saat seorang perempuan asal Australia yang mencoba mendokumentasikan seberapa banyak ia mengalami catcalling ketika berjalan dari Pasar Mayestik menuju Plaza Senayan, Jakarta Selatan. Hanya dalam 35 menit, perempuan bernama Kate Walton itu mengklaim ada 13 kali insiden catcalling yang menimpanya. PingPoint pun berdialog dengan musisi dan aktivis gender Kartika Jahja, untuk membahas fenomena ini.

[Baca Juga: Pasar Kriya untuk Penggalangan Dana Pundi Perempuan]

“Budaya catcalling yang juga disebut menggoda dan lain-lain itu mulainya dari pemikiran bahwa perempuan adalah objek. Objek dalam arti yang ‘di’ bukan yang ‘me’. Maka di ruang publik yang seharusnya perempuan dijadikan subjek malah diperlakukan sebagai objek,” jelas Kartika kepada PingPoint.co.id (5/12/2018).

Musisi yang masuk ke dalam daftar BBC 100 Women ini melanjutkan bahwa perilaku yang meresahkan kaum hawa di Jakarta ini sebenarnya memiliki hubungan pola pikir laki-laki pada proses tumbuh kembangnya. “Budaya kita mendidik anak laki-laki untuk merasa maskulin. Jadi mereka merasa maskulin pada saat mereka sudah menggoda perempuan, ngejar cewek dan lain-lain,” tutur Kartika.

Musisi dan Aktivis Gender Kartika Jahja

Budaya catcalling juga bisa ditarik benang merahnya dengan pandangan bahwa ‘perempuan harus dikejar’ dan ‘laki-laki yang mengejar’. Sehingga acap kali ini memicu kaum Adam berpikir sebagai salah satu langkah untuk mengejarnya adalah melalui cara godaan yang memicu rasa ketidaknyamanan di pihak kaum Hawa.

“Perempuan harus digoda dan laki-laki harus menggoda, ini sudah membudaya dan mengakar dari generasi ke generasi. Baik perempuan dan laki-laki, dua-duanya terjebak dalam pola tersebut,” tegas Kartika.

Kaum Hawa terkadang memberikan respons dengan tertawa atau tersenyum terhadap catcalling para pria. Namun penyanyi lagu Tubuhku Otoritasku itu mengatakan respons tersebut sebenarnya untuk melindungi dirinya. Karena perempuan terkadang khawatir jika mereka merespon dengan melawan atau marah terhadap catcalling maka para pelaku bisa saja menyerangnya secara verbal lebih jauh atau lebih parah yaitu mengarah ke penyerangan secara fisik.

[Baca Juga: Kebangkitan Diri Jadi Motivasi Kesuksesan Para Musisi Ini (Part 2)]

Kartika menjelaskan bahwa sudah saatnya pola pikir semua orang untuk diubah demi menghindari terjadinya catcalling yang bisa saja berkembang ke pelecehan seksual lainnya.

“Harus digarisbawahi ada kata ‘tidak diinginkan’ bahwa harus ada consent atau persetujuan dari semua pihak (laki-laki dan perempuan) jika kita ingin menyentuh seseorang, memuji seseorang secara seksual atau merayu atau menggoda, kalau tidak ada persetujuan atau tidak tahu apakah orang ini mau atau tidak, lebih baik jangan dilakukan,” tegas pendiri Yayasan Bersama Project tersebut.

Salah satu negara tetangga Indonesia yaitu Filipina semenjak Oktober 2018 sudah mulai memberikan “lampu hijau” terkait rancangan undang-undang (RUU) yang bisa menghukum perilaku catcalling. Sebagaimana dilansir dari news.abs-cbn.com, RUU yang bernama Safe Streets and Public Spaces itu juga dapat menghukum orang-orang yang melontarkan hinaan, meraba-raba tubuh, bersiul dengan maksud menggoda sampai memaksa meminta kontak dan nama seseorang ketika berada di ruang publik.

Karena itu Kartika menyampaikan harapannya agar pemerintah dapat membantu menangani catcalling secara serius dan mengakhiri pelecehan yang diterima para perempuan di Jakarta, bahkan di seluruh Indonesia. “Pemerintah perlu didorong oleh masyarakatnya untuk melakukan kebijakan terhadap ini. Sekarang sudah banyak perubahan, terutama dalam segi awareness (terhadap pelecehan) masyarakat Jakarta bahwa ini sesuatu yang harus kita tangani serius,” pungkasnya.

Read More

Artikel Lainnya

Ketika Sastra Alih Wahana ke dalam Sadiwara Audio di Tangan Puluhan Seniman

Hobi dan Hiburan

Puluhan Seniman Alih Wahana Karya Sastra Menjadi Sadiwara Audio

03 July 2020, 21:00

Pertunjukan ini bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia serta kawan-kawan media dengan nama Sandiwara Sastra.

Pra-AKB di Kota Bogor, Ojol Hingga Hotel Boleh Kembali Beroperasi

Bisnis

Pra-AKB di Kota Bogor, Ojol Hingga Kegiatan MICE Boleh Beroperasi

03 July 2020, 20:00

Dalam fase Pra-AKB ini, Bima Arya kembali membuka sektor baru, yakni transportasi seperti ojek online (ojol) dan ojek pangkalan (opang) serta kegiatan-kegiatan di hotel selain fasilitas penginapan.

Pengambilan Dokumen Sipil di Kota Tangerang Kini Kembali Normal

Berita Kawasan

Pengambilan Dokumen Sipil di Kota Tangerang Kini Kembali Normal

03 July 2020, 19:00

Semenjak PSBB jilid IV hingga saat ini, pengambilan dokumen sipil di kantor Disdukcapil sudah kembali normal. Sebelumnya, ada pembatasan waktu dan jumlah pemohon disetiap harinya.

Toko Roti Maison Weiner Sudah 83 Tahun di Kwitang, Jakarta Pusat

Kuliner

Toko Roti Maison Weiner Sudah 83 Tahun di Kwitang, Jakarta Pusat

03 July 2020, 18:00

Pertama didirikan tahun 1936, toko kue dan roti Maison Weiner masih terus menjual roti dan kue hingga sekarang. Produksinya ditangani oleh generasi ke-3, Heru Laksana.


Comments


Please Login to leave a comment.