Diet Kaldasa, Solusi Mengurangi Prilaku Autisme

Kesehatan

Diet Kalsada, Solusi Mengurangi Prilaku Autisme

Setiap tahunnya, jumlah individu dengan autisme di Indonesia semakin bertambah. Mengacu pada penelitian yang dilakukan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) pada tahun lalu diprediksi bahwa sekitar 500 individu dengan autisme di Indonesia bertambah tiap tahunnya.

Meski penyebabnya belum diketahui secara pasti, tapi yang jelas individu dengan autisme ini perlu penanganan yang tepat agar tumbuh kembangnya bisa optimal dan dapat diterima di lingkungan. Diagnosa awal pun menjadi penentu dari kesembuhan gejala ini.

Grace Hartono, yang merupakan seorang praktisi anak dan pendiri Kids Coaching Jakarta & Sydney mengatakan, dengan diagnosa awal yang tepat, maka akan lebih mudah bagi para terapis untuk melakukan penanganan.

[Baca Juga: Belenggu Stigma Anak dengan Autisme dalam Dunia Pendidikan]

“Deteksi awal itu sangat penting dilakukan oleh yang memiliki hak dan otoritas (dokter, psikolog), dan kemudian baru gejala-gejala itu kita bongkar. Kalau kita penanganannya tepat sasaran maka tentu gejala-gejala tersebut bisa berkurang,” ujar Grace kepada PingPoint.co.id ketika dihubungi via sambungan telepon (9/4/2020).

Salah satu metode penanganan yang diterapkan Grace saat melakukan terapi kepada orang dengan autisme adalah dengan memperbaiki sisi fisiologis dan sistem pencernaannya. Hal itu dilakukan dengan menerapkan pola diet sehat yang diberi nama Kalsada.

Diet Kaldasa, Solusi Mengurangi Prilaku Autisme

Kalsada sendiri merupakan singkatan dari kaldu, sayur dan daging. Tiga komponen bernutrisi tinggi itu diyakini Grace mampu mengurangi gejala autisme pada anak maupun orang dewasa. Selain itu, kalsada juga dapat membuat seseorang bisa lebih tenang dan lebih fokus ketika melakukan segala macam bentuk kegiatan.

“Salah satu diet yang seringkali saya terapkan kepada klien yang berkonsultasi ke saya adalah diet kalsada atau kaldu sayur daging. Itu landasannya juga dari GAPS (Gut and Psychology Syndrome) dan menu tradisional. Jadi ketika anak ini berhasil menerapkan kalsada, itu stimming atau perilaku berulang yang biasa dilakukan orang dengan autisme bisa berkurang tanpa melakukan terapi yang lain,” katanya.

[Baca Juga: Derry dan Dede Yayang Beri Kasih Sayang Penuh Anak dengan Autisme]

Selain karena nutrisinya yang tinggi, alasan Grace memilih menggunakan metode kalsada karena bahannya mudah didapat dan harganya yang sangat terjangkau. Kalsada juga mudah diterapkan di berbagai daerah yang minim akses penanganan terhadap orang-orang dengan autisme.

“Kenapa saya tarik tiga komponen ini, karena saya mempertimbangkan orang dengan keterbatasan dana. Kalau orang di pelosok kan nggak ada terapi. Jadi itu yang sebenarnya pesan penting dari saya bahwa semua program penanganan tersebut bisa diakses dan terjangkau,” tandasnya.

Read More

Artikel Lainnya

Ganjar Minta Mahasiswa Ikut Edukasi Masyarakat Tentang Pandemi Covid-19.jpeg

Pendidikan

Ganjar Minta Mahasiswa Ikut Edukasi Masyarakat Tentang Pandemi

02 June 2020, 21:00

Mahasiswa dapat membantu masyarakat mulai mengedukasi, pendataan hingga menggerakkan ekonomi masyarakat desa.

Mulai 12 April, Pengguna Transportasi Umum Jakarta Wajib Pakai Masker

Bisnis

Selain Masalah Protokol Kesehatan, Ini Tantangan Transportasi Umum Di Masa New Normal

02 June 2020, 20:28

Bila nantinya wacana new normal ini benar-benar diterapkan, maka perlu kesiapan dalam pengaktifan transportasi umum di Ibu Kota.

Atasi Gerah di Rumah Tanpa AC_1.jpg

Properti dan Solusi

Atasi ‘Gerah’ di Rumah Tanpa AC dengan Cara Ini

02 June 2020, 20:23

Selain menggunakan AC, cara berikut dapat dipraktikkan agar tidak merasa kepanasan di dalam rumah.

Masa Transisi di Malang, Karyawan Boleh Tetap Kerja dari Rumah

Berita Kawasan

Masa Transisi di Malang, Karyawan Boleh Tetap Kerja dari Rumah

02 June 2020, 20:00

Selama masa pandemi COVID-19, perusahaan dapat menentukan pekerja yang perlu bekerja di kantor atau bekerja dari rumah.


Comments


Please Login to leave a comment.