East Ventures Pendanaan Startup Berbeda dengan Pendanaan Tradisional.jpg

Bisnis

East Ventures: Pendanaan Startup Berbeda dengan Pendanaan Tradisional

Anda mungkin kerap mendengar atau membaca pemberitaan bagaimana perusahaan startup di Indonesia menerima suntikan dana atau funding dari perusahaan modal ventura dalam bentuk seed funding, pendanaan Seri A, bahkan Seri B. Bagi orang-orang awam yang tak terlalu akrab dengan dunia finansial atau mengikuti berita-berita yang berhubungan dengan startup, istilah tersebut akan terasa asing. Bahkan mungkin saja terdapat asumsi pendanaan ini serupa dengan funding sebuah perusahaan yang dilakukan melalui bank atau secara konvensional melalui investor. Padahal menurut perusahaan modal ventura East Ventures, jenis pendanaan perusahaan startup memiliki perbedaan bila dibandingkan pendanaan konvensional.

East Ventures sendiri sudah berdiri dari tahun 2009 dan menjadi saksi bagaimana perkembangan perusahaan startup yang kala itu masih bisa dihitung dengan jari karena pengaruh adopsi internet yang masih belum masif. Saat ini, perusahaan modal ventura itu a telah memberikan penyuntikan dana atau memimpin ronde seri pendanaan ke lebih dari 180 portfolio dengan lebih dari 300 entrepreneur. Jadi jika membahas mengenai pendanaan perusahaan startup, East Ventures sudah tak perlu diragukan lagi kredibilitasnya.

East Ventures Pendanaan Startup Berbeda dengan Pendanaan Tradi sional.jpg

Menurut Co-Founder East Ventures Wilson Cuaca, sebelum membahas mengenai bagaimana pendanaan perusahaan startup, ada baiknya Anda mengetahui bagaimana sistem funding konvensional non-perusahaan modal ventura. Hal yang paling menjadi sorotan dalam pendanaan tradisional adalah terkait break even atau momen di mana pendapatan perusahaan setara dengan modal yang telah dikeluarkan.

“Sebelum ada ventures capital, bagaimana sistem funding dari bank atau dari investor biasa? Si entrepreneur akan membuat proposal, habis itu dia membuat projection lima tahun ke depan, dari proyeksi ini dia butuh dana berapa, break even di tahun ke berapa, misalnya di tahun keempat sehingga si investor tahu persis kalau dia kasih uang (nilai) A nanti setelah empat-lima tahun break even funding-nya, bisnisnya jalan, dia bisa dapat uangnya balik. Kurang lebih seperti itu, ini linear,” ujar Wilson dalam sesi tanya jawab di program Venture Capital & Startup Funding Process melalui Zoom (19/2/2021).

[Baca Juga: East Ventures dan Traveloka Kuncurkan Pendanaan USD1,1 Juta ke Member.id]

Dengan sistem ini maka proses bisnisnya layaknya garis linear yang diawali dengan pembangunan perusahaan yang biasanya disertai dengan aset serta suatu produk yang sudah siap dijual atau dipasarkan dan pelan-pelan naik (dengan suntikan dana), tapi ini sangat berbeda dengan perusahaan startup yang fokusnya di digital. Perbedaan utamanya menurut Wilson, karena perusahaan startup tak memiliki aset dan sepenuhnya kekayaan intelektual alias intellectual property right.

“Artinya pada saat kita (perusahaan startup digital) membangun sesuatu, kita harus membangun platform-nya dulu, harus dapetin user-nya bahkan sebelum kita bisa monetize. Titik kapan kita bisa monetize kadang-kadang tidak bisa diprediksi, tergantung dari faktor eksternal, ekosistem, dan sebagainya,” sambungnya.

[Baca Juga: Baru Diluncurkan Dua Bulan Lalu, Desty Raih Pendanaan Awal dari East Ventures]

Co-Founder East Ventures itu menuturkan, karena kondisi inilah perusahaan startup tak bisa diberikan pendanaan sekali layaknya funding tradisional dan akan disuntikkan pendanaan beberapa kali bisa saja melalui seed funding atau Seri A bahkan ronde seri pendanaan. Karena menurutnya, bila perusahaan startup langsung diberikan pendanaan sekali dan langsung dalam jumlah besar padahal perusahaan tersebut baru berdiri maka kondisi ini dapat memicu investor menguasai mayoritas saham dari startup tersebut. Kondisi inilah yang tak diinginkan perusahaan modal ventura seperti East Ventures.

“Digital startup itu berbeda karena berkaitan intellectual property right, itu berkaitan dengan daya pikir si founder. Sehingga konsep kita itu selain funding-nya harus berkali-kali, karena kita tidak tahu berapa banyak dia butuhnya, juga kita tidak mau menguasai company-nya, kita selalu mengambil minority share. Penggabungan funding yang berkali-kali dan minority share inilah yang menjadi round of investment (ronde seri pendanaan,” imbuh Wilson Cuaca.


Read More

Artikel Lainnya

IMG_03122021_102258_(1100_x_600_piksel).jpg

Bisnis

Dari Usaha Rumahan, Sirup Markisa Noerlen Jadi Oleh-oleh Khas Medan

03 December 2021, 22:09

Sirup markisa Noerlen menggunakan bahan baku buah markisa segar dan berkualitas dari Berastagi, Karo, Sumatera Utara, tanpa pengawet dan pewarna dan sangat menyehatkan."

IMG_03122021_105549_(1100_x_600_piksel).jpg

Kecantikan dan Fashion

Tetap Tampil Fashionable Meski Pakai Sepatu Bekas

03 December 2021, 21:09

Seperti yang ada di Pasar Melati Medan. Di sini merupakan pusatnya penjualan sepatu bekas murah namun bermerk di Kota Medan.Pasar ini berada Jalan Flamboyan Medan Tuntungan, Sumatera Utara.

IMG_03122021_184213_(1100_x_600_piksel).jpg

Bisnis

Aplikasi Kuncie dan Fita dari Telkomsel Raih Google Play Awards 2021

03 December 2021, 20:04

Walau belum genap setahun kedua aplikasi tersebut dihadirkan, tapi sambutan khususnya dari pengguna OS Android sudah semakin meningkat.

Catat! Ganjl-Genap di Jalan Margonda Siap Diuji Coba 4 Desember 202 1.jpg

Berita Kawasan

Catat! Ganjl-Genap di Jalan Margonda Siap Diuji Coba 4 Desember 2021

03 December 2021, 19:07

Pemkot Depok siap memulai kebijakan ganjil-genap di kawasan Jalan Margonda Raya mulai besok siang!


Comments


Please Login to leave a comment.