Geliat Sektor Properti Ketika, Sebelum, dan Sesudah Pandemi

Properti dan Solusi

Geliat Sektor Properti Ketika, Sebelum, dan Sesudah Pandemi

Indonesia masih belum mampu membendung ganasnya pandemi COVID-19. Pada Jumat (8/5/2020) sore, terjadi penambahan 367 kasus positif dan 23 pasien meninggal di tanah air. Pemerintah melalui situs covid19.go.id, melaporkan data terbaru perkembangan dari penyebaran virus SARS-CoV-2.

Hingga kini, di skala nasional, tercatat 13.112 kasus positif yang telah terkonfirmasi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 943 pasien dilaporkan meninggal, sedangkan 2.494 lainnya dinyatakan sembuh. Provinsi DKI Jakarta masih jadi penyumbang kasus terbesar, sebanyak 4.855 kasus. Dengan rincian 745 pasien sembuh dan 423 pasien meninggal dunia.

Tak ada satu orang pun menyangka, bahwa makhluk berukuran kurang dari 100 nanometer ini bisa membuat Indonesia dan negara-negara lain di berbagai belahan dunia jadi kalang kabut, lantaran krisis multi aspek yang ditimbulkan.

Geliat Sektor Properti Ketika, Sebelum, dan Sesudah Pandemi

Bahkan aspek ekonomi pun turut terimbas COVID-19. Dari berbagai sektor bisnis yang terdapat pada aspek ekonomi nasional, properti adalah salah satu sektor bisnis yang cukup terdampak dari munculnya pandemi.

Melalui keterangan resmi yang diterima PingPoint.co.id, Jumat (8/5/2020), Coldwell Banker Commercial mengumumkan hasil kajiannya yang bertajuk Ringkasan Pasar Properti Indonesia di Tengah Pandemi COVID-19. Managing Partner of Strategic Advisory Tommy Bustami menjelaskan, kajian ini memberikan gambaran utuh kondisi di sektor properti di tanah air—khususnya Jabodetabek—saat pandemi, sebelum pandemi dan proyeksi di sektor ini saat sesudah pandemi. Berikut penjabarannya.

Geliat Sektor Properti Ketika, Sebelum, dan Sesudah Pandemi

Pra-Pandemi, Masih Menjanjikan

Tommy menungkapkan, hingga akhir 2019, pasar properti menunjukkan sentimen yang lebih menjanjikan, ditunjukkan dengan indikator pasar yang sebagian besar pergerakannya positif baik pada sektor properti komersial maupun residensial. Sentimen positif ini terus berlanjut hingga awal 2020, sebelum kasus COVID-19 pertama kali merebak di awal Maret 2020.

Bahkan pada awal penyebaran COVID-19, kinerja pasar properti komersial dan residensial tetap kondusif dimana berbagai strategi diterapkan pada sektor properti untuk tetap menjaga kinerja pasar. “Analisis dilakukan pada April 2020 dengan basis data berdasarkan survei primer yang telah kami lakukan pada akhir Maret hingga pertengahan April 2020,” terang Tommy.

Kajian ini, sambung Tommy, dibuat untuk mencoba mengidentifikasi kinerja pasar properti di tengah pandemi COVID-19 di Jabodetabek. Ada pun lingkup studi sektor properti yang dikaji dalam tulisan ini meliputi:

  1. Properti komersial, terdiri dari sektor Perkantoran, Retail (mall), Hotel, Apartemen, dan Kawasan Industri.
  2. Properti residensial, yaitu berupa kompleks perumahan (Rumah Tapak).

[Baca Juga: Anak Muda Paling Terpukul Saat Terjadi Krisis Ekonomi Akibat Pandemi]

Eksis Meski Pandemi

Sejalan dengan penyebaran COVID-19 yang signifikan di beberapa kota besar, termasuk Jakarta sebagai epicentrum penyebaran di Indonesia, maka kinerja pasar properti pada akhirnya terpengaruh. Rincinya, tingkat penyerapan, occupancy rate, dan jumlah permintaan sebagian besar sektor properti mengalami penurunan secara bertahap.

Perlahan tapi pasti. Indonesia akhirnya mesti mengakui dan menghadapi kenyataan. Maksudnya, lanjut Tommy, penyebaran COVID-19 telah berdampak pada semua aspek, termasuk salah satu diantaranya adalah sektor properti.

“Tingkat pengaruh COVID-19 terhadap sektor properti berbeda antara satu kota ke kota lain, tergantung pada besarnya skala pasar properti yang ada dan tingkat penyebaran COVID-19 di masing-masing kota,” jelasnya.

Lebih jauh dia menjelaskan, hanya satu dari sekian banyak pasar yang dimiliki sektor properti, bisa dikategorikan tetap eksis di tengah terjangan pandemi COVID-19. Rinciannya adalah sebagai berikut:

POTENSI BISNIS SERVICE APARTEMEN

1) Pasar Apartemen & Hotel

Diungkap Tommy, selama pandemi, jumlah penjualan unit apartemen di Jabodetabek turun tajam di kisaran antara 45,1% hingga 75,8%, lantaran calon pembeli lebih menahan transaksi akibat adanya imbauan social distancing. Beberapa strategi penjualan dan pemasaran pun harus dilakukan agar bisnis bisa bertahan dalam situasi ini, dengan cara meningkatkan juga menyediakan layanan virtual dan online.

Selain itu, sambung dia, pandemi COVID-19 juga menyebabkan beberapa proyek tertunda proses konstruksinya, karena kendala ketersediaan stok material bangunan yang harus di impor dari negara-negara terdampak COVID-19. “Pembeli dengan tujuan investasi cenderung memutuskan untuk bersikap wait and see, menunjukkan bahwa investasi properti bukanlah prioritas mereka situasi ini,” ujar Tommy.

Di sisi lain, tutur Tommy, pasar hotel merupakan bagian dari sektor properti yang paling terdampak COVID-19. Data di lapangan menyebut, tingkat hunian di Jabodetabek turun 16,7% hingga 20,4% dari kuartal sebelumnya, dengan rata-rata tingkat hunian hanya 47,6% hingga 49,4%.

“Kondisi ini merupakan kinerja pasar hotel yang terburuk selama 10 tahun terakhir. Situasi semakin memburuk pada pertengahan April karena lebih dari 90 hotel mengalami penutupan sementara,” tukasnya.

Geliat Sektor Properti Ketika, Sebelum, dan Sesudah Pandemi

2) Pasar Perkantoran & Retail

Meskipun tingkat hunian gedung perkantoran tetap stabil dibandingkan Q4-2019, COVID-19 berdampak besar pada menurunnya aktivitas sewa-menyewa sehubungan tertundanya lease agreement atau mundurnya calon penyewa baru. “Calon penyewa baru dan bahkan penyewa yang sedang dalam tahap negosiasi serta dalam proses fitting-out melakukan penundaan,” bebernya.

Selain itu, lanjut dia, banyak pula perusahaan yang mempertimbangkan kembali rencana relokasinya pada tahun ini dikarenakan situasi ketidakpastian ekonomi ke depannya. Ditambah, sebagian besar perusahaan telah melakukan work from home dan akhirnya pun beberapa gedung melakukan penyesuaian pada jangka waktu kontrak dan biaya operasionalnya.

Sama halnya dengan perkantoran, tutur Tommy, tingkat hunian retail cenderung stabil dan penurunan tingkat hunian juga tidak signifikan. Penurunan signifikan terjadi pada jumlah pengunjung yang dimulai akhir Maret, dari ribuan menjadi hanya ratusan pengunjung per hari.

“Saat ini, sebagian besar toko di pusat retail melakukan penutupan sementara, kecuali supermarket, toko obat, perbankan (layanan digital), restoran (hanya untuk dibawa pulang), dan toko yang melayani belanja online,” ceplosnya.

Geliat Sektor Properti Ketika, Sebelum, dan Sesudah Pandemi

3) Pasar Lahan Industri & Pergudangan

Tommy menjelaskan, penyerapan lahan industri dan pergudangan pada kuartal pertama tahun 2020 (Q1-2020) mengalami penurunan sebanyak 64,8% dan 56,2% dibandingkan dengan kuartal keempat tahun sebelumnya (Q4-2019).

Menurutnya, permintaan menurun secara signifikan karena kehadiran pandemi telah membatasi kunjungan investor dari luar negeri ke Indonesia. Sekitar 80% pengusaha sektor industrial pun sependapat bahwa COVID-19 berdampak terhadap finansial perusahaan, data ini dikutip Tommy dari survei terbaru yang diterbitkan National Association of Manufacturers (NAM).

Ditengah terbatasnya permintaan di Jabodetabek, dia menuturkan bahwa selama Q1-2020 masih terdapat penyerapan. Yang berasal dari sektor pharmaceutical, konstruksi, dan logistik yang melakukan transaksi di Purwakarta, Subang, dan Banten. Selaras itu, permintaan untuk gudang terus didominasi oleh perusahaan berbasis logistik.

“Selain itu juga, pertumbuhan bisnis online cukup baik, terutama untuk bahan makanan, telah mendorong tren positif pasar pergudangan, meskipun dengan penyerapan yang lebih terbatas dibandingkan Q4-2019,” jelasnya.

4 PERUMAHAN DEKAT KAWASAN INDUSTRI DI KABUPATEN BEKASI

4) Pasar Perumahan

Hingga Q1-2020, total pasokan perumahan yang aktif di pasar primer diperkirakan sekitar 123.199 unit, dimana 67,5% sudah terjual, menyisakan sekitar 38.776 unit rumah belum terjual. Mayoritas pasokan berada di wilayah Bekasi-Karawang (46,6%), Bogor (24,3%), dan Tangerang-Banten (21,1%), sedangkan sisanya tersebar di Depok dan Jakarta.

Tommy berpendapat, COVID-19 telah memberikan pengaruh terhadap pasokan maupun permintaan perumahan selama Q1-2020, terindikasi dari penurunan pasokan baru sebesar 5% dibandingkan Q4-2019 dan penyerapan permintaan yang cukup rendah pada proyek-proyek baru yang diluncurkan selama Q1-2020.

Akibat pandemi, kata dia, sebagian besar peluncuran proyek baru yang direncanakan pada pertengahan Maret ditunda karena kebijakan Pemerintah yang menghimbau social distancing dan membatasi jumlah orang yang boleh berkumpul. Sehingga, dikhawatirkan pada terbatasnya jumlah calon pembeli yang hadir. Namun karena adanya dorongan oleh kontribusi end user (konsumen), mengakibatkan pasar perumahan pada segmen menengah ke bawah tak kehilangan peminat dan geliatnya.

“Beberapa calon pembeli masih melakukan korespondensi dengan agen pemasaran untuk mendapatkan informasi produk di beberapa proyek meskipun di tengah pandemi COVID-19, dengan memanfaatkan layanan virtual. Bahkan beberapa dari mereka datang ke kantor pemasaran untuk menyelesaikan transaksi atau hanya melihat show unit dan kondisi lingkungan serta memastikan kualitas produk,” tuturnya.

Alhasil, Pasar perumahan di Jabodetabek tumbuh positif pada Q1-2020, karena beberapa proyek menikmati penyerapan yang lebih tinggi dibanding tahun lalu, terutama selama periode Januari dan Februari 2020.

Berdasarkan data-data tersebut, kesimpulan awal Tommy menegaskan, bahwa dibandingkan dengan pasar-pasar lain di sektor properti, pada dasarnya perumahan merupakan pasar yang paling bertahan dan terus tumbuh meskipun di tengah pandemi COVID-19. Terutama perumahan dengan harga di bawah satu miliar.

Geliat Sektor Properti Ketika, Sebelum, dan Sesudah Pandemi

Bangkit Pasca-Pandemi

Tommy mengaku cukup sulit meneropong situasi ke depan karena belum ada kepastian kapan pandemi COVID-19 akan berakhir. Dia pun menegaskan, bahwa dalam memproyeksikan sektor properti hanya bisa didasarkan pada kondisi dimana pandemi COVID-19 sudah teratasi dan aktivitas sudah kembali normal.

Karena itu, dalam kajiannya, Tommy membagi proyeksi sektor properti menjadi 2 periode. Yang pertama, Tommy menyebutnya sebagai awal pemulihan. Dalam tahap ini, pasar perumahan diperkirakan akan tumbuh lebih cepat dibandingkan pasar-pasar lainnya, terutama perumahan di kawasan Jabodetabek, lantaran masih tingginya kontribusi permintaan dari end user, sebagai real demand di sektor properti.

“Permintaan perumahan yang dilakukan via online dan virtual selama pandemi akan direalisasikan menjadi transaksi penjualan. Peningkatan permintaan sektor perumahan juga akan didorong oleh transaksi yang berasal dari proyek yang baru diluncurkan, dimana sebelumnya proyek tersebut menunda peluncurannya karena pandemi COVID-19,” cetusnya.

Senada, kinerja pasar apartemen akan sedikit meningkat, namun investor akan mengambil sikap yang lebih hati-hati dalam berinvestasi ke sektor apartemen. Untuk pasar Hotel pun demikian, khususnya di Kota-kota destinasi wisata, akan tumbuh bertahap sejalan meningkatnya Kembali aktivitas pariwisata terutama dari wisatawan lokal

Menurut Tommy, pasar retail pun akan segera kembali beroperasi secara normal. Namun, kondisi pasar diperkirakan masih akan melambat karena penyewa existing akan berkonsentrasi pada outlet mereka saat ini dibanding melakukan ekspansi. “Tenant baru akan mengambil sikap wait and see dalam mengantisipasi perilaku konsumen pasca-pandemi yang diprediksikan akan lebih selektif dalam mengatur pengeluaran,” ramalnya.

Sedangkan, leasing activities di pasar perkantoran akan terus berada dalam tekanan, karena sebagian besar perusahaan berkonsentrasi pada pembenahan kondisi bisnis pasca pandemi sehingga keputusan ekspansi maupun relokasi akan tertahan. Demikian juga pada pasar industri yang akan masih tertekan, karena ketidakpastian investor dalam penanaman modal, pandemi telah mengakibatkan krisis global sehingga modal asing sulit untuk masuk ke dalam negeri dan adanya resistensi dari calon investor untuk menunda investasi sampai pandemi berakhir.

[Baca Juga: IndoSterling Forum-9: Pentingnya Mitigasi Bencana Bagi Perekonomian Indonesia]

Untuk periode yang kedua, Tommy melanjutkan, disebut sebagai kondisi setelah pemulihan. Pada fase ini, pasar dari sektor properti yang mengandalkan ekspansi bisnis lokal dan asing seperti perkantoran, kawasan industri, dan retail akan membutuhkan periode pemulihan yang lebih lama karena kondisi ekonomi global. Sedangkan pasar perumahan akan masuk ke kondisi normal, dimana perumahan di Bodetabek akan bergerak lebih cepat. .

“Hotel di kota-kota bisnis mulai pulih ketika aktivitas MICE dari perusahaan dan pemerintah mulai mendorong permintaan, termasuk pasar di Jabodetabek. Demikian juga soal leasing activities di pasar perkantoran dan retail akan mulai meningkat secara bertahap, meskipun tetap di level sedang,” tandas Tommy.

Read More

Artikel Lainnya

Hari Ulang Tahun Kota Bogor Dirayakan Via Konferensi Video .jpg

Berita Kawasan

Hari Ulang Tahun Kota Bogor Dirayakan Via Konferensi Video

06 June 2020, 13:00

Di ulang tahun ke 538, Hari Jadi Bogor dirayakan dengan sederhana tak seperti biasanya karena terselenggara di tengah pandemi.

berjalan tertib, begini prosedur rapid test di sukolilo2.jpg

Berita Kawasan

Berjalan Tertib, Begini Prosedur Rapid Test di Sukolilo

06 June 2020, 12:00

Sepekan sudah uji cepat dan uji swab dilakukan di penjuru Surabaya. Pelaksanaan relatif berlangsung tertib, seperti yang terjadi di kawasan Terminal Keputih Sukolilo.

Kota Bekasi Perpanjang PSBB Kembali Hingga 2 Juli .jpg

Berita Kawasan

Kota Bekasi Perpanjang PSBB Kembali Hingga 2 Juli

06 June 2020, 11:00

Sembari menjalankan masa new normal, Kota Bekasi kembali memperpanjang masa PSBB selama 28 hari

Begini Caranya Atasi Wajah Berminyak Secara Alami Lidah Buaya

Berita Kawasan

Baru! Kota Malang Ciptakan Kampung Aloe vera di Masa Pandemi COVID-19

06 June 2020, 10:46

Kampung Aloe vera diinisiasi Pertamina Fuel Terminal Malang melalui Program Coorporate Social Responsibility (CSR) yang bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)


Comments


Please Login to leave a comment.