Gerak Perempuan Ini 3 Pokok Masalah dalam RUU Ketahanan Keluarga

Pendidikan

Gerak Perempuan: Ini 3 Pokok Masalah dalam RUU Ketahanan Keluarga

Di tengah pro-kontra RUU Omnibus Law Cipta Kerja, publik turut dihebohkan dengan kontroversi draft RUU Ketahanan Keluarga. Rancangan legislasi tersebut turut menuai kontroversi di masyarakat lantaran isi undang-undang tersebut mengembalikan peran perempuan ke ranah domestik atau mengurus urusan rumah tangga saja. Tak ayal, RUU yang diinisiasi oleh DPR ini pun seketika menuai protes di kalangan masyarakat, terutama kaum perempuan.

Kelompok masyarakat sipil yang tergabung dalam Gerak Perempuan, menjadi salah satu elemen masyarakat sipil yang menyatakan penolakannya terhadap RUU Ketahanan Keluarga. Dalam siaran pers yang diterima oleh PingPoint.co.id (24/2/2020), setidaknya ada tiga persoalan utama terkait isi substansi RUU Ketahanan Keluarga.

[Baca Juga: Ini Alasan Aliansi Masyarakat Sipil Tolak RUU Omnibus Law Cipta Kerja]

1) Tumpang Tindih Dengan Regulasi yang Ada

Keberadaan RUU Ketahanan Keluarga berpotensi tumpang tindih dengan peraturan yang telah ada, seperti UU No 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Sebab, dalam UU Perkawinan jua telah mengatur perihal hubungan antara suami dan istri.

Selain itu, dalam draft RUU Ketahanan Keluarga turut mengatur perihal tata cara pengangkatan anak. Padahal, dalam aturan sebelumnya hal tersebut sudah diatur di PP No. 54/2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak. Oleh karenanya, keberadaan RUU ini dinilai berpotensi membebani anggaran negara.

Gerak Perempuan Ini 3 Pokok Masalah dalam RUU Ketahanan Keluarga

2) Melanggengkan Ketidakadilan gender

Menurut Gerak Perempuan, secara substantif muatan RUU ini kian melegitimasi ketimpangan gender di Indonesia. Sebelumnya, perihal peran domestik perempuan sendiri secara eksplisit diatur dalam UU Perkawinan Pasal 31 ayat (3). Dalam undang-undang yang dibuat oleh rezim Orde Baru tersebut disebutkan “Suami adalah kepala keluarga dan istri ibu rumah tangga.”

Hal tersebut membuat peran perempuan terbatas hanya untuk melayani keluarga saja. Akibatnya, perempuan dibatasi untuk berpartisipasi dalam bidang ekonomi, sosial dan politik. Dampaknya perempuan menjadi lemah secara ekonomi. Mereka menjadi tenaga kerja murah dan dianggap mengerjakan pekerjaan yang mudah di masyarakat.

3) Diskriminatif pada Minoritas

Gerak Perempuan turut melihat bahwa rancangan regulasi ini jua mengabaikan keragaman identitas gender dan orientasi seksual seseorang. Hal ini dapat dilihat pada pasal 500 draft RUU Ketahanan Keluarga yang menyebutkan bahwa orientasi seksual selain heteroseksual dan transgender adalah ancaman fisik dan memasukkan homoseksual dan biseksual sebagai bentuk penyimpangan seksual. Adanya pasal tersebut dapat melegitimasi tindakan diskriminatif terhadap masyarakat non-heteroseksual dan transgender yang merupakan minoritas dan kerap mendapatkan tekanan dari berbagai pihak.

[Baca Juga: Menelisik Penyebab Polemik RUU Omnibus Law Cipta Kerja]

Hal tersebut dinilai tak sejalan dengan aspek keilmuan yang digunakan untuk menelaah keragaman gender dan seksualitas. Sebab, dalam naskah akademik tidak disebutkan The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders atau DSM V atau pun The 10th Revision of the International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems atau ICD-10 sebagai rujukan.

Oleh karenanya, Gerak Perempuan tak hanya conflict of norm, tetapi juga bertentangan dengan panduan internasional. Atas persoalan tersebut, Gerak Perempuan menolak DPR untuk membahas RUU Ketahanan Keluarga. Sekaligus juga mendesak agar DPR melakukan pembahasan dan pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

[Baca Juga: FRI: Dampak RUU Cipta Kerja Lebih Tajam pada Perempuan]

Untuk diketahui, Gerak Perempuan merupakan koalisi masyarakat sipil yang terdiri dari sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat. Di antaranya Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Serikat Sindikasi, Perempuan Mahardhika, dan Asia Justice and Rights.


Read More

Artikel Lainnya

Ini Komunitas Unpad Peduli Anabul Penghuni Area Kampus.jpg

Pendidikan

Ini Komunitas Unpad Peduli Anabul Penghuni Area Kampus

06 February 2023, 14:53

Bergabung dalam UnpadSF, sejumlah mahasiswa Universitas Padjadjaran mengisi sela-sela waktunya untuk membantu serta melindungi anabul yang tinggal di sekitaran kampus Unpad.

CFD Kota Medan Bawa Berkah Bagi Pengusaha UMKM.jpg

Bisnis

CFD Kota Medan Bawa Berkah Bagi Pengusaha UMKM

06 February 2023, 12:51

Selain untuk berolahraga, CFD Kota Medan juga menjadi momen berkumpul bersama keluarga serta teman dan ini menjadi berkah tersendiri bagi pelaku usaha UMKM Kota Melayu Deli.

Dorong Digitalisasi Daerah, Amartha Hadirkan Desa Digital di Sulawesi Tengah.jpg

Bisnis

Dorong Digitalisasi Daerah, Amartha Hadirkan Desa Digital di Sulawesi Tengah

03 February 2023, 16:35

Demi memastikan tidak adanya ketimpangan digital di daerah pedesaan luar Jawa, Amartha Foundation baru-baru ini meresmikan desa digital di wilayah Sulawesi Tengah.

tiket.com Hadirkan Layanan Pemesanan Kereta Cepat Jakarta-Bandung.jpg

Bisnis

tiket.com Hadirkan Layanan Pemesanan Kereta Cepat Jakarta-Bandung

03 February 2023, 14:20

Melalui kemitraan dengan PT KCIC, pengguna tiket.com ke depannya bisa memesan tiket untuk layanan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB).


Comments


Please Login to leave a comment.

  • Rine 2 years, 11 months lalu
    rine

    yuuukkk MABAR game qqharian,club guuys.... seru asik dan bisa bikin bengkak tak terbatas rek tabungan kita juga, banyak bonus bonus yang bisa kita dapatin dan jackpot yang luar biasaaa.... mau kaya ya di qqharian,club ajaaa bukan yang lain.. <a href="https://qqharian.org/" rel="nofollow noopener" title="JOIN NOW">Click Disini</a>