Hari Peduli Autisme Sedunia, Pendidikan Seksualitas Yang Terabaikan Bagi Autisme

Pendidikan

Hari Peduli Autisme Sedunia, Pendidikan Seksualitas yang Terabaikan

Hari Peduli Autisme Sedunia diperingati setiap tanggal 2 April sejak PPB menetapkannya pada tahun 2007. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan autisme dan menciptakan dunia yang lebih baik bagi orang dengan autisme.

Meski hingga saat ini belum ada obat atau terapi khusus yang dapat menyembuhkan autisme. Sehingga gangguan ini bersifat seumur hidup. Oleh karena sekarang ini informasi terkait autisme telah mudah didapat seperti informasi mengenal gejala autisme mulai dari gangguan komunikasi, gangguan interaksi sosial, dan gangguan pola perilaku, maka layanan bagi penyandang autisme sudah mulai tersedia.

Hari Peduli Autisme Sedunia, Pendidikan Seksualitas Yang Terabaikan Bagi Autisme

Layanan autisme yang saat ini tersedia kebanyakan layanan terapi antara lain untuk meningkatkan kemampuan motorik halus, kemampuan komunikasi atau terapi wicara, kemampuan panca indera, kemampuan motorik kasar, kemampuan akademik, dan kemampuan berperilaku dengan lingkungan sekitar.

Namun, dalam perkembangannya, patut disadari bahwa orang dengan autisme juga sama dalam tubuh kembang dengan orang kebanyakan dimulai dari usia anak- anak, remaja, hingga dewasa. Saat mereka mulai mengeksplorasi dirinya dan lingkungan, orang dengan autisme ini juga memiliki masalah kesehatan tubuh termasuk anggota tubuh yang sensitif, dalam hal ini adalah kesehatan dan organ seksualnya.

[Baca Juga: Kiat Menjalin Komunikasi Bersama Anak dengan Autisme]

Alih- alih seperti pemahaman tentang perbedaan anggota tubuh perempuan dan laki- laki saja seharusnya juga harus disadari orang dengan autisme sejak usia sedini mungkin. Dengan kata lain, dibutuhkan pendidikan seksualitas bagi anak- anak saat mereka mulai memperhatikan dunia di sekitarnya, mulai belajar untuk mengenali tubuhnya sendiri, dan membandingkan diri dengan teman- temannya. Sedangkan di pihak lain, bagi sebagian besar masyarakat kita masih menganggap tabu tentang pendidikan seksualitas diajarkan pada anak- anak, terlebih pada penyandang autisme.

Seksualitas Orang dengan Autisme

Tim redaksi PingPoint.co.id merasa penting menyebarluaskan masalah ini kepada pointers setelah kami mengikuti acara daring Selasa (6/4/2021) yang diselenggarakan oleh LETTS Talk bekerjasama dengan beberapa lembaga yang peduli dengan isu difabel. Kegiatan ini diadakan dalam memperingati Hari Peduli Autisme Sedunia bertema “Pendidikan Seks, Seksualitas, dan Warga Autistik.”

Pendek kata, acara ini berisi diskusi dari pengalaman langsung penyandang autisme dewasa dan orang tua yang memiliki anak penyandang autisme tentang pentingnya pendidikan seksualitas diajarkan kepada mereka. LETTS Talk sendiri merupakan inisiatif sukarela atau volunteer dan swadaya dalam memfasilitasi berbagai kegiatan dalam rangka produksi dan sirkulasi pengetahuan dan informasi tentang seks dan seksualitas, tidak terkecuali difabel.

Suka-Duka di Balik Pertumbuhan Anak dengan Autisme

Seperti dilansir di website LETSS Talk yang merangkum diskusi dari pengalaman orang tua yang memiliki anak autisme dengan salah satu pendiri dan relawan LETTS Talk Diah Irawaty. Shinta Kristanto, orang tua dari anak autisme mengawali kisahnya bagaimana waktu itu pada tahun 2000-2001 sangat sulit menemukan layanan pendidikan dan kurikulum bagi anak autistik. Hal itu terjadi ketika anaknya yang berusia dua tahun tujuh bulan didiagnosa autistik. Pendidikan bagi penyandang autisme belum sepenuhnya tersedia dan keterbatasan semakin besar terkait pendidikan khusus tentang seks dan seksualitas,

Para orang tua dalam keterbatasan pengetahuan dan informasi harus mencari sendiri tentang autisme. Padahal akses terhadap informasi dan pengetahuan tentang autisme juga belum tersedia secara memadai, apalagi pengetahuan seks dan seksualitas bagi penyandang autisme. Bahkan Shinta, biasa disapa, melanjutkan kisahnya ketika mendatangi salah satu SLB swasta di kotanya jika guru di sana bercerita bagaimana murid- murid dengan disabilitas yang telah akil baligh melakukan masturbasi di sembarang tempat seperti di sofa dan bangku. Jadi saya tidak tahu bagaimana pendidikan dari orang tua dan guru mengajarkan pendidikan seks dan seksualitas kepada anak- anak mereka. Namun, sungguh disesalkan apabila pendidikan seks dan seksualitas tetap dianggap tabu untuk diajarkan.

[Baca Juga: Menyatukan Keberagaman di Hari Kesadaran Autisme Sedunia]

Sebaliknya, berdasarkan kejadian yang Shinta ceritakan ini tentu saja para anak difabel ini rentan mengalami kekerasan seksual di masyarakat. Apalagi untuk anak autisme yang kebanyakan tidak bisa mengungkapkan perasaannya. Shinta pun mengalami sendiri bagaimana ketika anaknya telah memasuki masa dewasa kadang sering mengalami kebingungan dan rasa frustrasi terkait perubahan perilaku yang terjadi di lingkungan sekitar terutama dengan lawan jenis. Kadang anak saya tidak bisa menahan emosi jika kami beritahu sehingga membuat kami sulit berkomunikasi dengannya.

Hal ini disebabkan cara kita menjalin komunikasi harus dilakukan dengan kalimat sederhana yang paling dimengerti oleh anak autisme, misalnya dengan menggunakan media gambar seperti gambar tubuh manusia bagian tubuh mana yang bisa dan boleh ditunjukkan kepada orang lain dan mana yang tidak boleh. Anak autisme haru tahu itu. Lalu menjelaskan melalui media gambar dalam lingkaran sosial anak seperti siapa saja yang disebut pihak keluarga, dokter, guru, teman, dan orang lain/ asing sehingga anak autisme tahu bagian tubuh mana yang harus diperlihatkan dan itu hanya bisa diperlihatkan ke siapa saja? Termasuk juga dijelaskan bagian tubuh mana yang hanya boleh disentuh oleh orang lain.

[Baca Juga: Diet Kalsada, Solusi Mengurangi Prilaku Autisme]

Selain itu, penyandang autisme pun perlu dibekali pengetahuan ketika dia harus memenuhi kebutuhan biologisnya harus ditempat tertutup dan aman di mana tidak orang lain yang melihat misal di kamar mandi atau di kamar sendiri, kalau sudah punya. Yang lain, anak autisme juga perlu diberitahu bagaimana menjaga kebersihan alat- alat vitalnya sendiri, misal bagaimana cara membersihkannya pada bagian tertentu. Semua ini harus diajarkan dan dikomunikasikan secara detail dengan cara yang paling mudah dimengerti oleh autisme yakni melalui media gambar.

Kesimpulan yang dapat kami sampaikan perlu peran pemerintah, misalnya Dinas Pendidikan menyusun ulang kurikulum terutama untuk anak difabel, terlebih autisme. Masalah ini perlu mendapat perhatian serius mengingat jumlah penyandang autisme diperkirakan sejumlah 2,4 juta orang dengan pertambahan penyandang baru 500 orang setiap tahunnya di seluruh Indonesia menurut Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak.


Read More

Artikel Lainnya

UTBK di ITB Capai 23.705 Orang 3.jpg

Pendidikan

Sebanyak 23.705 Orang Ikuti UTBK di Institut Teknologi Bandung

15 April 2021, 09:00

Pelaksanaan UTBK di ITB terdapat di beberapa lokasi, yakni di Kampus ITB dan di sejumlah sekolah menengah

pusdai3.jpg

Berita Kawasan

Kasus Terkonfirmasi COVID-19 Menurun, Masjid Pusdai Bandung Gelar Salat Tarawih Berjamaah

15 April 2021, 08:30

Kota Bandung menunjukan grafik menurun, sehingga beberapa Masjid besar di Kota Bandung sudah diizinkan untuk melakukan salat tarawih berjamaah.

Vaksinasi UPi 3.jpg

Kesehatan

Universitas Pendidikan Indonesia Lakukan Vaksinasi untuk Ribuan Dosen dan Tenaga Kependidikan

15 April 2021, 08:00

Sebanyak 2.000 Dosen dan Tenaga Kependidikan melakukan vaksinasi di Gymnasium UPI pada 5-7 April kemarin. Vaksinasi kali ini mayoritas diperuntukan bagi dosen dan tenaga pendidikan UPI yang berusia di bawah 60 tahun.

Dekan Psikologi Undip

Pendidikan

Prof. Dian Ratna Sawitri, Sosok di Balik Prodi Terfavorit UNDIP

14 April 2021, 06:30

Prodi paling Favorit yang banyak diminati calon mahasiswa pada SBMPTN tahun 2021 di Universitas Diponegoro adalah Prodi Psikologi. Prodi ini memiliki peminat mencapai 3.538 orang.


Comments


Please Login to leave a comment.