Ilmuwan Dunia Berlomba-lomba Temukan Vaksin COVID-19

Kesehatan

Ilmuwan Dunia Berlomba-lomba Temukan Vaksin COVID-19

Beberapa bulan belakangan dunia diteror pandemi COVID-19, berbagai Negara dipaksa menjadi terisolasi alias lockdown. Situasi ini mesti dibayar mahal oleh masyarakat global, dengan ratusan ribu nyawa.

Indonesia pun tak luput dari serangan pandemi yang disebabkan Virus Corona baru yang dinamakan SARS-CoV-2 ini. Tercatat hingga Rabu kemarin (18/3/2020), total ada 227 kasus dan 19 orang dilaporkan meninggal dunia akibat terinfeksi wabah ini. Seluruh pihak termasuk pemerintah kena getahnya, mau tidak mau semuanya harus singsingkan lengan baju dan bahu membahu menghadapi COVID-19. Tak terkecuali dari kalangan peneliti dan akademisi tanah air.

Universitas Airlangga Surabaya (Unair) menyatakan akan segera menemukan vaksin untuk mengatasi COVID-19, sebagaimana diberitakan antaranews.com Rabu (18/3/2020). Melalui Institute of Tropical Disease (ITD), Unair tengah menyusun proposal dan siap melanjutkannya ke tahap penyiapan vaksin.

Ilmuwan Dunia Berlomba-lomba Temukan Vaksin COVID-19

Rektor Unair Mohammad Nasih mengungkapkan, ITD telah mengantongi enam sampel spesimen positif COVID-19 dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Kesehatan. Kendati demikian, dia menuturkan untuk menemukan vaksin memerlukan proses yang tidak sebentar, dimulai dari pendekatan, pengujian pada hewan hingga tahap klinis. Biar pun begitu dia optimistis akan mampu mengembangkan dan menemukan vaksin.

“Kami di sini punya pusat riset biomolekul ion yang bisa menghasilkan produk yang relevan, ITD sudah biasa menciptakan vaksin. Kami mohon doa restu, mudah-mudahan tidak memakan waktu yang terlalu lama,” tuturnya.

[Baca Juga: Beberapa Peneliti Bersiap Lakukan Uji Coba Antivirus Corona]

Di sisi lain, kehadiran penelitian dan pengembangan ini turut meramaikan persaingan dua Negara maju Tiongkok dan Amerika Serikat yang saling berpacu menemukan vaksin COVID-19. Diberitakan South China Morning Post, Rabu (18/3/2020), negeri tirai mampu melalui produsen vaksin asal Tianjin, CanSino Biologics telah mengembangkan Sembilan vaksin melalui lima pendekatan berbeda.

Ahli kontrol kualitas produk biologi dan akademisi Chinese Academy of Sciences Wang Junzhi mengatakan, data dari percobaan klinis yang dilakukan oleh peneliti Tiongkok menunjukkan bahwa tes tahap pertama untuk memastikan keamanan vaksin pada manusia akan melibatkan 108 individu sehat, untuk berpartisipasi pada 16 Maret hingga 31 Desember. "Penelitian dan pengembangan vaksin kami untuk Virus Corona, secara umum, adalah yang paling maju di dunia. Kami tidak akan lebih lambat dari negara lain," cetus Wang.

[Baca Juga: Hati-hati Angker, KRL Berisiko Tinggi Jadi Tempat Penularan COVID-19]

Sementara itu, Senin (16/3/2020) Amerika Serikat telah lebih dulu melakukan uji coba klinis vaksin COVID-19. National Institute of Health (NIH) sebagai pihak yang mendanai uji coba vaksin virus yang penularannya sangat cepat ini, menyatakan pengujian akan dilakukan dengan melibatkan 45 sukarelawan muda dan sehat. Mereka akan disuntikkan dosis vaksin Virus Corona yang berbeda.

Dikuti dari Associated Press, Rabu (18/3/2020) otoritas kesehatan AS mengatakan butuh waktu sekitar satu tahun hingga 18 bulan untuk memvalidasi potensi uji coba Vaksin Corona. Vaksin yang dikembangkan oleh NIH dan Moderna Inc. ini diklaim tidak memberikan efek samping yang mengkhawatirkan.

Ilmuwan Dunia Berlomba-lomba Temukan Vaksin COVID-19

Di samping itu, para sukarelawan dipastikan tidak terinfeksi suntikan yang mengandung virus itu sendiri. "Bahkan jika tes di tahap awal berjalan baik, Anda berbicara soal waktu satu tahun atau satu setengah tahun sebelum vaksin benar-benar siap digunakan," ujar Anthony Fauci, Direktur NIH untuk penyakit infeksi dan alergi.

Jennifer Haller, perempuan berusia 43 tahun asal Seattle, menjadi relawan manusia pertama untuk uji coba vaksin COVID-19. Dalam wawancaranya bersama MSNBC, Jennifer berbagi pengalamannya. Perempuan yang bekerja sebagai manajer operasional di sebuah perusahaan teknologi ini mengaku bangga dengan dirinya sendiri dan bersyukur atas hak istimewa yang ia dapatkan.

Menurutnya, setelah divaksin, dirinya akan rajin mencatat suhu tubuh hariannya, lalu efek samping apa saja yang dirasakan. Apa bila ada gejala yang dialami, dia akan segera mengabari otoritas yang berwenang. "Saya akan terus memantau tiap minggunya hingga vaksin kedua saya, sekitar 4 minggu lagi, dan setelahnya saya akan dipantau lagi selama 14 bulan," tuturnya.


Read More

Artikel Lainnya

Karedok Jadi Metode Penguatan Literasi untuk Anak Sekolah di Jakarta Utar a.jpg

Pendidikan

Karedok Jadi Metode Penguatan Literasi untuk Anak Sekolah di Jakarta Utara

09 December 2022, 15:51

Pemkot Jakarta Utara memiliki program bernama Karedok yang pada dasarnya menggabungkan kegiatan edukatif seru untuk menguatkan literasi bagi anak-anak sekolah di wilayahnya.

Suasana Kemeriahan Natal 2022 Terlihat di Kota Sol o.jpg

Berita Kawasan

Suasana Kemeriahan Natal 2022 Terlihat di Kota Solo

09 December 2022, 13:49

Sejak awal Desember 2022, suasana perayaan Natal sudah bisa dilihat di Kota Solo dengan lampu-lampu yang menghiasi jalan bahkan dibentuk ala pohon Natal.

Mulai Dijual Hari Ini, Infinix Note 12 2023 Dibanderol dari Rp2,6 Jutaa n.jpg

Bisnis

Mulai Dijual Hari Ini, Infinix Note 12 2023 Dibanderol dari Rp2,6 Jutaan

09 December 2022, 11:46

Infinix Indonesia pada pekan ini secara resmi meluncurkan Note 12 2023 dan sudah bisa dibeli dalam momen first sale pada hari ini 9 Desember 2022.

Cianjur Berduka, Tim Fakultas Keperawatan Unpad Berikan Layanan untuk Korban Gem pa.jpg

Kesehatan

Cianjur Berduka, Tim Fakultas Keperawatan Unpad Berikan Layanan untuk Korban Gempa

08 December 2022, 15:41

Selama tiga hari, relawan dari Fakultas Keperawatan Unpad berada di lokasi posko korban gempa Cianjur untuk memberikan layanan kesehatan fisik dan mental bagi para korban.


Comments


Please Login to leave a comment.