Menggunakan Masker

Kesehatan

Ini Protokol Pengasuhan Anak pada Masa Pandemi

Perlu adanya upaya perlindungan khusus untuk anak-anak saat ini. Karena, anak-anak tak hanya rentan terinfeksi COVID-19. Hak-hak mereka juga terancam karena adanya pandemi. Perlu adanya upaya perlindungan khusus untuk anak-anak pada masa pandemi COVID-19. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bekerjasama sejumlah lembaga lainnya telah menyusun Memerlukan Perlindungan Khusus dalam Situasi Pandemi COVID-19.

Deputi Bidang Perlindungan Anak Kemen PPPA, Nahar mengatakan tujuan penyusunan protokol tersebut ialah untuk menjamin keamanan anak-anak di masa pandemi. Caranya dengan dengan memerhatikan dan mencegah risiko, serta menangani dampak kekerasan, perlakukan salah, eksploitasi, dan penelantaran.

Larangan Keluar Rumah Selama Pandemi Bikin Anak Menderita

“Selama pandemi COVID–19, anak juga mengalami risiko keterpisahan dengan orangtua atau pengasuh utama apabila anak harus menjalani isolasi karena terpapar COVID–19, atau sebaliknya apabila pengasuh utamanya menjalani isolasi, bahkan meninggal karena terpapar COVID-19,” ujar Nahar dalam keterangan pers yang diterima PingPoint.co.id (7/5/2020).

[Baca Juga: Begini Pengaruh Larangan Keluar Rumah Selama Pandemi pada Anak]

Salah satu protokol tersebut yakni Protokol Pengasuhan bagi Anak Tanpa Gejala, Anak dalam Pemantauan, Pasien Anak dalam Pengawasan, Kasus Konfirmasi, dan Anak dengan Orangtua/Pengasuh/Wali Berstatus Orang dalam Pemantauan, Pasien dalam Pengawasan, Kasus Konfirmasi, dan Orang Tua yang Meninggal karena COVID-19. Simak beberapa poin isi protokolnya berikut ini.

  1. Bagi anak dalam Pemantauan atau Pasien Anak dalam Pengawasan dengan gejala ringan yang memiliki orangtua atau pengasuh atau wali, harus menjalani prosedur isolasi mandiri tanpa ada resiko bagi anggota keluarga lainnya. Bila tidak memungkinkan, maka petugas medis merekomendasikan keluarga atau wali untuk menghubungi instansi terkait.
  2. Bagi anak dalam Pemantauan atau Pasien Anak dalam Pengawasan dengan gejala ringan yang tidak memiliki orang tua atau wali, atau tidak memiliki tempat tinggal, maka Kepala Rumah Sakit berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan anak mendapat pengasuhan sementara.
  3. Bila anak telah ditetapkan sebagai Pasien Anak dalam Pengawasan dan harus menjalani prosedur perawatan dalam isolasi, petugas medis mengatur dukungan psikososial kepada anak. Mereka juga melakukan komunikasi dengan orang tua atau wali terkait perkembangan kondisi anak serta memfasilitasi kunjungan. Bila tidak ada keluarga atau wali, maka akan berkoordinasi dengan instansi terkait.
  4. Bagi orang dewasa yang ditetapkan sebagai ODP dan merupakan orang tua tunggal atau pengasuh tunggal, maka petugas medis merekomendasikan agar orangtua tunggal atau pengasuh tunggal tersebut menghubungi instansi setempat.
  5. Bagi orang tua tunggal atau pengasuh tunggal yang ditetapkan sebagai PDP dan harus diisolasi, maka kepala rumah sakit dengan koordinasi dinas terkait setempat memastikan anak mendapat pengasuhan sebagaimana peraturan perundang-undangan.
  6. Lalu, bila salah satu atau kedua orang tua meninggal karena COVID-19 dan memiliki anak yang berusia dibawah 18 tahun, Kepala Rumah Sakit melakukan koordinasi dengan menghubungi Dinas terkait setempat. Langkah ini dilakukan untuk memastikan anak yang ditinggalkan mendapatkan pengasuhan yang jelas sebagaimana perundang-undangan.

Untuk diketahui, pelaksana utama protokol ini yaitu Petugas medis, Pekerja Sosial Balai/Loka Rehabilitasi Sosial Anak, Konselor atau staf dari Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak, Konselor psikologis dari Pusat Pelayanan Keluarga, Ketua/pimpinan atau anggota kelompok Perlindungan Anak Terpadu Berbasis, Masyarakat (PATBM)/Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)/Relawan Desa.

Selain protokol tersebut, Kemen PPPA juga membuat Protokol Tata Kelola Data Anak dan Protokol Pengeluaran dan Pembebasan Anak melalui Asimilasi dan Integrasi, Pembebasan Tahanan, Penangguhan Penahanan dan Bebas Murni. Masyarakat dapat mengunduh protokol tersebut pada portal covid19.go.id/protokol.

“Dengan protokol ini diharapkan tidak ada anak yang terlantar, mengalami kekerasan, eksploitasi, stigma dan pengucilan di lingkungan masyarakat. Sebaliknya, selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), anak-anak tetap dapat menerima layanan kesehatan dan pendidikan yang diperlukan, serta tetap terpenuhi hak bermain, berkreasi, berekreasi dan menyatakan pendapat sebagaimana dijamin dalam Undang-Undang Perlindungan Anak,” tutup Nahar.


Read More

Artikel Lainnya

Hadirkan Menu Desserts di Cabang Gandaria City, Fore Coffee Gandeng Oma Ell y.jpg

Kuliner

Hadirkan Menu Desserts di Cabang Gandaria City, Fore Coffee Gandeng Oma Elly

07 December 2022, 16:31

Fore Coffee baru-baru ini mengumumkan menu pendamping baru yang tepat untuk jadi teman minum kopi dan menu ini merupakan hasil kreasi kolaborasi dengan Oma Elly.

Bantu Sesama, Kawan Lama Group Gelar Aksi Donor Darah di 27 Kot a.jpg

Bisnis

Bantu Sesama, Kawan Lama Group Gelar Aksi Donor Darah di 27 Kota

07 December 2022, 14:29

Pada akhir pekan lalu, Kawan lama Group kembali menggelar aksi donor darah secara serentak di puluhan gerai ACE serta Informa yang tersebar di 27 kota.

Amartha Gandeng Puluhan Ribu UMKM di Sumatera Barat untuk Go Digital.jpg

Bisnis

Amartha Gandeng Puluhan Ribu UMKM di Sumatera Barat untuk Go Digital

07 December 2022, 12:26

Perusahaan Amartha mengumumkan berhasil menggandeng hingga lebih dari 50.000 UMKM di Sumatera Barat untuk proses adopsi digitalisasi via Amartha+.

Wow, Perwakilan Indonesia Raih Juara Kedua di Kompetisi Chatime Global Tea-Rist a.jpg

Bisnis

Wow, Perwakilan Indonesia Raih Juara Kedua di Kompetisi Chatime Global Tea-Rista

06 December 2022, 16:16

Hadapi perwakilan Chatime dari enam negara lainnya, tea-rista Chatime Indonesia berhasil menyabet juara kedua di kompetisi brewed tea tingkat dunia di Taiwan.


Comments


Please Login to leave a comment.