Ini Sejarah Singkat Stasiun Gambir

Berita Kawasan

Ini Sejarah Singkat Stasiun Gambir dari Masa ke Masa

Stasiun Gambir sebenarnya memiliki sejarah yang cukup panjang dari zaman penjajahan Belanda. Pada tahun 1697, lahan yang kita kenal sebagai tempat pemberhentian kereta api terbesar di Jakarta ini milik orang Belanda bernama Cornelis Chastelein. Lahan itu dibeli dan dibangun rumah beserta penggiling tebu, dan dinamakan Weltevreden.

Namun, Weltevreden diubah menjadi sebuah pemberhentian kereta api yang diberi nama Halte Koningspelin. Halte inilah yang menjadi cikal bakal Stasiun Gambir. Mengutip cekaja.com (10/10/2019), jalur kereta pertama dibuka Nederlands-Indische Spoowerg Maatschappij (NISM) di Batavia pada 16 September 1871. Jalur tersebut menghubungkan Gambir yang saat itu masih bernama Koningspelin dengan Pelabuhan Sunda Kelapa.

Ini Sejarah Singkat Stasiun Gambir

Saat itu, halte kereta api digunakan untuk kereta yang mengangkut barang serta penumpang menuju dan dari Pelabuhan Sunda Kelapa. Halte kereta api kemudian berubah menjadi Stasiun Weltevreden pada 4 Oktober 1884 hingga tahun 1906 dipakai untuk pemberangkatan tujuan Bandung dan Surabaya.

[Baca Juga: Stasiun Gambir Akan Pensiun Layani Kereta Jarak Jauh Mulai 2021]

Pada 1928, Stasiun Weltevreden direnovasi dengan gaya art deco dan atap peron yang diperpanjang hingga 55 meter. Stasiun sempat berubah nama menjadi Batavia Weltevreden SS pada 1937. Namun, setelah kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, resmi menyandang nama Stasiun Gambir hingga sekarang sebagaimana melansir budaya-indonesia.org (5/8/2019).

Ini Sejarah Singkat Stasiun Gambir

Stasiun Gambir memiliki jalur layang setelah dilakukan renovasi besar-besaran pada tahun 1992. Sejak mulai didirikan sebagai halte kereta api hingga Indonesia Merdeka, tentu Stasiun Gambir menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Indonesia. Salah satunya adalah Stasiun Gambir menjadi pemberhentian kereta api yang membawa para serdadu Pembela Tanah Air (PETA) pada 8 Maret 1945.

Stasiun Gambir juga pernah disinggahi Jenderal Sudirman saat berunding dengan pasukan Sekutu pada November 1948. Menurut catatan Moehkadi dalam Akademi Militer Yogyakarta dalam perjuangan Fiisik 1945-1949 yang dikutip tirto.id (15/10/2019), Jenderal Sudirman tiba di Stasiun Gambir dengan dikawal 15 taruna Militaire Academie Yogyakarta dan disambut rakyat Jakarta.

[Baca Juga: Stasiun Manggarai Siap Operasikan KA Bandara]

Bagi para penumpang yang tiba di Stasiun Gambir, dulunya menggunakan kereta kuda atau delman sebagai transportasi penghubung agar sampai ke tempat tujuan. Pengarang legendaris Pramoedya Ananta Toer merupakan salah satu tokoh yang pernah singgah di Stasiun Gambir pada masa itu, tepatnya pada tahun 1942.

Stasiun Gambir hingga kini tak hanya menjadi area operasi PT KAI, tapi juga bus Damri yang menyediakan angkutan menuju Bandara Soekarno-Hatta dan Lampung.

Read More

Artikel Lainnya

Di Antara Hewan Peliharaan, Kucing Disinyalir Paling Berpotensi Terkena COVID-19.jpg

Kesehatan

Kucing Disinyalir Hewan Peliharaan Paling Berpotensi Terkena COVID-19

03 June 2020, 20:00

Berdasarkan penelitian ahli, di antara semua hewan peliharaan yang dapat terinfeksi COVID-19, kucing berpotensi paling besar terkena.

sejarah KA semarang_1.jpg

Berita Kawasan

Menelusuri Jejak Stasiun Kereta Api Pertama di Semarang

03 June 2020, 19:47

Stasiun Semarang Gudang merupakan stasiun yang dibangun kala penjajahan Belanda. Namun, stasiun tersebut bukanlah stasiun kereta api pertama di Semarang.

Hadapi New Normal, Ini Tips untuk Pengusaha Ikan Hias 2.jpg

Bisnis

Hadapi New Normal, Ini Tips untuk Pengusaha Ikan Hias

03 June 2020, 19:00

Berhasil tetap mendapatkan keuntungan serta omzet yang besar di kala PSBB Depok, Ivan memberikan sarannya untuk para pengusaha ikan hias, khususnya ikan cupang dalam menghadapi kondisi new normal.

Imbas Pemberlakuan KLB, Jumlah Penumpang di Bandara Adi Soemarmo Turun

Bisnis

Imbas COVID-19, Penumpang Pesawat Melalui Solo Menurun 80 Persen

03 June 2020, 18:00

Pada hari biasanya jumlah penumpang melalui Bandara Adi Soemarmo mencapai 2.000 orang per hari. Namun, sejak April menurun sekitar 800 orang per hari.


Comments


Please Login to leave a comment.