Ini Tantangan Boja Eatery dan Kopi Tuku Dalam Memulai Bisnisnya

Bisnis

Ini Tantangan Boja Eatery dan Kopi Tuku dalam Memulai Bisnis

Berkecimpung di dunia kewirausahaan atau menjadi entrepreneur di dunia kuliner, pendiri restoran Boja Eatery Kinsky Bunyamin dan pendiri Toko Kopi Tuku serta Toodz House Café Andanu Prasetyo pasti sudah merasakan asam garamnya. Bagi keduanya, hal ini dipandang sebagai tantangan yang membuat mereka harus melakukan penyesuaian agar bisa terus berjuang untuk mengembangkan bisnisnya dan merealisasikan visi-misi yang dibangun mereka untuk usahanya.

Menurut Andanu Prasetyo yang akrab disapa Tyo itu memandang tantangan terbesar yang harus dia hadapi di Toko Kopi Tuku adalah terkait selera pasar mengenai cita rasa kopi, khususnya di Ibu Kota. Pasalnya, hal ini menentukan kira-kira jenis kopi apa serta rasa yang bagaimana yang akan ia sajikan di Toko Kopi Tuku.

[Baca Juga: Demi Tingkatkan Konsumsi Kopi di Indonesia, Lahirlah Toko Kopi Tuku]

“Di (tahun) 2015 itu lagi kenceng-kencengnya namanya third wave coffee. Itu kopi yang taste-nya Arabica dengan cenderung rasa yang floral, fruity, dan sebagainya, lebih ada rasa asam yang ditonjolkan dari kopi. Padahal secara sejarah, kita lebih banyak minum kopi pahit, hitam,” ungkapnya pada talkshow How To Start Business For Young Entrepreneur In This Era di Auditorium Gedung Kawan Lama, Jalan Puri Kencana No.1, Meruya, Kembangan, Jakarta Barat (12/14/2019).

Hal ini tentu saja menjadi tantangan bagi Andanu dengan dirinya yang terus “meraba” pasar serta konsumen yang datang ke Toko Kopi Tuku. Apalagi, pandangan Andanu kala itu hanya fokus pada konsumen di kawasan Jalan Cipete Raya, Jakarta Selatan, dan ia pun mencoba untuk membuat profil kira-kira bagaimana selera masyarakat di sana terhadap kopi yang ingin dinikmati.

Ini Tantangan Boja Eatery dan Kopi Tuku Dalam Memulai Bisnisnya

Hal ini juga mempengaruhi dengan harga yang ditentukan untuk kopinya. Ia pun menghadapinya dengan beradaptasi dan mencoba berusaha menyajikan kopi untuk semua selera konsumen yang datang ke Toko Kopi Tuku di masa awal perkembangannya.

“Aku dulu jualan itu dari harga Rp5.000 sampai Rp33.000. Rp5.000 yang bentuknya gelas, gelas yang di-sealed yang biasanya kayak di tukang-tukang pinggir jalan di dalam cooler box. Rp9.000 itu sebesar piccolo, gelasnya kecil cuman sekitar 90 sampai 100 militer. Rp18.000 itu yang seperti sekarang, kopi tetangga, ada susu, hitam, panas, dingin. Rp25.000 itu kopi-kopi yang third wave coffee tanpa gula, cappucino, piccolo, latte. Rp30.000-an itu seperti yang di chain-chain besar,” jelasnya.

[Baca Juga: Mengintip Bisnis Kuliner Ayam Saus Telur Asin Beromzet Miliaran]

Tantangan juga tentu saja dihadapi Kinsky Bunyamin dengan yang terbesar dan serupa dengan mayoritas entrepreneur lainnya, tentu saja yang dimaksud adalah modal. Pasalnya, menurutnya, dibandingkan sekarang, ia dulu harus mengeluarkan modal dari kentungnya sendiri. Sedangkan saat ini sudah banyak perusahaan modal ventura, investor, serta fintech yang memudahkan pengucuran modal.

“Nomor kedua tantangan yang paling berat itu business partner. Menurutku ada orang-orang yang bisa sendiri membuka bisnis, ada orang-orang yang merasa ‘Oh kayaknya saya enggak bisa deh kalau enggak ada business partner’. Kalau saya selalu dalam membuka bisnis apa pun selalu ada partner, karena saya tahu saya ada weakness,” ungkapnya.

Ini Tantangan Boja Eatery dan Kopi Tuku Dalam Memulai Bisnisnya

Selain itu, senada dengan Andanu, Kinsky juga merasa kesulitan pada awal membuka Boja Eatery terkait bagaimana selera dari pasar di Pluit. Walau ia sudah menggunakan riset pasar dan menyesuaikan rasa, hal yang ia perlu lakukan adalah terus menjaga konsumen terus kembali sehingga pemasukan restorannya stabil. Dari sinilah, ia menemukan solusi pentingnya furnitur dan rasa.

Menurut pendiri Boja Eatery itu dengan furnitur serta dekorasi yang tepat bahkan terkadang berubah sesuai tema, konsumen akan ingin kembali apalagi di era media sosial seperti saat ini, mereka pasti tak lupa untuk mengabadikannya serta mengunggahnya. Sehingga menurutnya desain furnitur juga menjadi solusi baginya dalam menghadapi tantangan di bisnisnya.


Read More

Artikel Lainnya

Konser Full Team Dewa 19 Siap Digelar di Solo.jpg

Hobi dan Hiburan

Konser Full Team Dewa 19 Siap Digelar di Solo

23 September 2022, 15:57

Setelah sukses digelar di Candi Prambanan, konser Dewa 19 yang menghadirkan full team akan kembali manggung bersama dan kali ini digelar di wilayah Solo.

Perkuat Kehadirannya di Jawa Timur, Amartha Kolaborasi dengan BPR Jatim.jpg

Bisnis

Perkuat Kehadirannya di Jawa Timur, Amartha Kolaborasi dengan BPR Jatim

23 September 2022, 13:56

Baru-baru ini Amartha dan BPR Jatim resmi berkolaborasi dalam upaya menyalurkan Rp250 miliar untuk membantu pengembangan bisnis perempuan pengusaha mikro di wilayah Jawa Timur serta Jawa Tengah.

Ini Pandangan Pakar Unpad Terkait Pencegahan HIVAIDS.jpg

Kesehatan

Ini Pandangan Pakar Unpad Terkait Pencegahan HIV/AIDS

23 September 2022, 11:54

Setelah bulan lalu sempat ramai pembahasan kabar ribuan orang di Kota Bandung yang menderita HIV/AIDS, pakar Universitas Padjadjaran memberikan masukan terkait metode pencegahannya, khususnya di wilayah kampus.

Konsistensi Bambang Suprapto dalam Berkarya Melalui Solo Exhibition Uncertainty

Hobi dan Hiburan

Konsistensi Bambang Suprapto dalam Berkarya Melalui Solo Exhibition ‘Uncertainty’

22 September 2022, 18:20

Seniman muda Kota Malang, Bambang Suprapto, menggelar pameran tunggal yang bertajuk ‘Uncertainty’ di Kedai Lantjar Djaya, Kota Malang.


Comments


Please Login to leave a comment.

  • Rine 2 years, 9 months lalu
    rine

    kado spesial x’mas tambahan langsung 5% IDR 100 claim tanpa syarat hanya untuk anda guysss…. anda jago bermain kartu ? anda hebat memprediksi suatu permainan ? anda suka bermain keberuntungan ? buktikan kejagoanmu kehebatanmu kesukaanmu guys…. semua hanya ada di qqharian,info