Inspiratif! Melirik Perjalanan Bisnis Kopi Legendaris di Pasar Jatinegara

Bisnis

Inspiratif! Melirik Perjalanan Bisnis Kopi Legendaris di Pasar Jatinegara

Menjadi seorang pengusaha membutuhkan jiwa serta tekad yang kuat untuk menjalankan sebuah usaha. Rintangan apapun yang ada di depan mata, seorang wirausahawan harus siap menghadapinya. Mungkin gambaran wirausaha ini dapat tercermin dari sebuah toko yang menjajakan kopi legendaris di kawasan Pasar Jatinegara.

Kopi legendaris tersebut memiliki merek “Bis Kota” yang dijual dan diproduksi oleh Toko Sedap Jaya. Sebelum mendekat ke toko yang beralamat di Pintu Pasar Timur No 40 Jatinegara itu, Anda langsung dapat menghirup aroma kopi yang harum dan menggugah selera. Tidak kira-kira, bisnis kopi legendaris ini sudah berdiri semenjak 1939. Uniknya, hingga kini Toko Sedap Jaya masih tetap menggunakan penggilingan kopi yang sudah berusia puluhan tahun untuk produk kopi Bis Kota. “Mesin ini sudah dipakai sejak masa (penjajahan-red) Jepang,” ucap generasi ketiga dari pemilik toko Sedap Jaya, Wong Fiefie Widjaja, sebagaimana dilansir dari suara.com.

Perjalanan bisnis Kopi Bis Kota pun saat ini masih terus dijalankan oleh generasi kedua pemilik Toko Sedap Jaya yaitu ayah Fiefie, Martono Widjaya, yang bersama istri dan anaknya berhasil membuat kopi ini tetap eksis hingga kini. Martono Widjaya mengatakan bahwa menjadi wirausaha sudah menjadi passion-nya. “Terus terang nilai sekolah saya jelek, senangnya dagang. Jadi tiap minggu anter kopi ke pasar-pasar kecil, Pasar Cisalak, Pasar Cibubur, Pondok Gede,” ucapnya dalam video Jurnal DAAI TV yang diakses dari Youtube.com.

Pada video tersebut, Martono pun mengenang ketika orangtuanya masih baru merintis usaha dan sudah harus menghadapi rintangan dari tentara Jepang. “Orangtua tuh tahun 1939 itu waktu dagang kopi masih sembunyi-sembunyi, masalahnya sering diganggu sama orang Jepang,” jelas Martono.

Berkat usaha yang gigih dari ayah Martono Widjaya, usaha kopi legendaris di Pasar Jatinegara ini dapat bertahan hingga lebih dari tujuh dekade. Sekadar informasi, ketika bisnis kopi ini pertama kali dirintis, nama ‘Kopi Terompet’ dipilih sebagai mereknya. Namun semenjak 1943, tulisan “Toko Sedap Djaja d/h Wong Hin. Kopi Wahid No 1 Bis Kota. Kopi pilihan dari Djawa jang paling baik, Terdjual di mana-mana warung. Tergiling dan terbungkus di Djl. Pintu Pasar Timur 40” pun melekat di bungkus kopi tersebut.

“Pertama kali tuh (kopi yang dijual-red) gambarnya bis atasnya terompet. Tahun 1943, diubah namanya jadi Bis Kota,” kenang Martono Widjaya mengenai merek kopi yang dijualnya. Ia mengatakan bahwa usaha Kopi Bis Kota pun semakin maju setelah tahun 1969, khususnya sampai tahun 1970-an di mana dalam sehari bisa terjual hingga dua ton kopi.

Martono Widjaya memastikan bahwa rintangan serta persaingan yang dimunculkan oleh berbagai merek kopi di era modern tidak membuatnya gentar. “Jaga mutu! Kalau misalnya minuman mutunya jelek, minum wah gak enak, gak mungkin kedua kali diminum. Kedua, pelayanannya bagus. Kita mesti melayaninya dengan sopan santun sama si pembeli. Kalau ada yang belanja, ditanya apa-apa kita menjawabnya ogah-ogahan, tentu rasanya kurang enak. Orang gak hormati dia (si penjual-red),” ucapnya.

Para pelanggan Kopi Bis Kota tetap setia datang ke Toko Sedap Jaya karena mereka merasa mendapatkan produk yang fresh. Pasalnya, berbeda dengan kopi sachet modern, Anda bisa langsung melihat proses penggilingan hingga pembungkusan kopi di toko tersebut.

Terdapat dua jenis kopi yang digemari para pelanggan Toko Sedap Jaya hingga mereka rela datang ke Pasar Jatinegara untuk membelinya. Kopi yang pertama adalah jenis Robusta yang dijual dengan harga Rp9.500 untuk 250 gram. Kedua adalah kopi jenis Arabika yang dibanderol dengan harga Rp72.000 per kilogramnya.

Read More

Artikel Lainnya

Geliat Bisnis Properti Masa Era New Normal di Kota Semarang

Properti dan Solusi

Geliat Bisnis Properti Era New Normal di Kota Semarang

10 April 2021, 18:47

“Hikmah dari kebijakan di rumah saja membuat para penghuni rumah mulai menyadari bahwa rumah yang mereka tinggali perlu pembenahan di beberapa bagian,” ujar Hafid Santoso pemilik H+S Architect, usaha konsultan arsitek di kota Semarang

Tirta Nirwana 1.jpg

Hobi dan Hiburan

Tirta Nirwana Songgoriti: Pertemuan Kerajaan Medang, Singosari, dan Tionghoa

10 April 2021, 18:07

Berwisata ke Tirta Nirwana kita bisa sedikit mencuil pelajaran pertemuan sejarah kerajaan di Indonesia dan Tionghoa. Lebih dari itu, bermain air di sini sangatlah menyenangkan.

Teletubies 1.jpg

Hobi dan Hiburan

Menghabiskan Waktu di Bukit Teletubies Bersama Gunung Arjuno

10 April 2021, 17:08

Berwisata di tempat menyejukkan yang tak perlu bayar tiket atau parkir ada di Kota Batu, yakni Bukit Teletubies.

Pebisnis Louhan 1.jpg

Bisnis

Cerita Pebisnis Ikan Louhan, Berawal dari Hobi Hingga Untung Jutaan Rupiah

10 April 2021, 16:09

Memiliki keunikan tersendiri, ikan louhan diminati banyak orang. Ada yang menjadi hiasan di rumah, sampai menjadikannya peluang usaha.


Comments


Please Login to leave a comment.