Jaga Kesehatan Mental dengan Mengenali Gaslighting dalam Toxic Relationship

Kesehatan

Jaga Kesehatan Mental dengan Mengenali Gaslighting dalam Toxic Relationship

Anda mungkin sudah mengerti istilah manipulasi. Namun, apakah Anda familiar dengan istilah gaslighting? Gaslighting adalah istilah populer untuk menggambarkan kondisi atau situasi yang dilakukan seseorang untuk memanipulasi dengan cara membalikkan ucapan agar Anda mempertanyakan kembali tindakan yang telah dilakukan hingga terjerat dengan rasa bersalah.

Cukup rumit bukan? Oleh karenanya, pelaku gaslighting sangatlah berbahaya untuk Anda dan jelas memiliki tujuan untuk menjebak kita dalam hubungan yang tidak sehat atau toxic relationship.

Gaslighting merupakan bentuk strategi manipulasi yang memanfaatkan area psikologis seseorang yang menjadi korban dengan mengontrol cara korbannya berfikir dan bertindak agar pelaku mendapatkan apa yang ia inginkan tanpa harus meminta atau mengomunikasikannya secara langsung.

Jaga Kesehatan Mental dengan Mengenali Gaslighting dalam Toxic Relationship

Strategi manipulasi ini mampu mengikat korbannya dalam sebuah toxic relationship sampai berhasil dan berpotensi besar mengakibatkan terjadinya bentuk kekerasan-kekerasan dalam hubungan seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kekerasan seksual (KS), kekerasan berbasis gender baik online maupun tidak (KGBO), kekerasan dalam hubungan berpacaran (KDP), dan lain sebagainya.

Menanggapi hal tersebut, penting bagi Anda untuk dapat mengenali indikasi-indikasi jika kita tengah mengalami gaslighting. Berikut rangkuman PingPoint.co.id dari laman yayasanpulih.org (24/9/2020).

1) Muncul Penyesalan

Pelaku secara tidak sadar melakukan pencucian otak dan mengontrol perasaan-perasaan Anda melalui permainan psikologisnya. Tindakan ini membuat korban merasa bersalah dan berusaha memohon maaf. Mirisnya, isu seperti ini sering kali terjadi pada korban kekerasan seksual karena sehingga mereka merasa menyesal dan merasa harus "membalas" kesalahannya dengan memenuhi keinginan pelaku. Saat ini terjadi, korban merasa dirinya menjadi penyebab masalah yang terjadi, padahal sebaliknya.

[Baca Juga: Ini Cara Atasi Karyawan Toxic ala Presiden Direktur Avrist Assurance]

2) Merasa Sulit untuk Melepaskan

Di sisi lain, gaslighting yang dieksekusikan dengan baik tidak akan Anda sadari. Hingga akhirnya Anda merasa ada kejanggalan dalam relasi yang terjalin. Setelah Anda menyadarinya pun akan merasa berat atau bahkan merasa tidak mungkin untuk memutuskan hubungan begitu saja karena alasan-alasan pribadi. Walau jelas pelaku sangatlah merugikan psikologis dan menjauhkan Anda dari kebahagiaan yang seharusnya juga muncul dari sebuah relasi.

Jaga Kesehatan Mental dengan Mengenali Gaslighting dalam Toxic Relationship

3) Menjadikan Apa yang Anda Hargai Sebagai Senjata

Mempelajari kelemahan-kelemahan Anda adalah salah satu komponen yang membantu pelaku melanggengkan taktik gaslighting-nya. Termasuk menjadikan hal-hal yang sangat Anda hargai keberadaannya sebagai bentuk ancaman atau "senjata". Tidak ada batasan dalam hal ini, bisa saja mengancam privasi Anda dengan mengancam menyebarkan konten seksual atau video dan foto atas dirimu seperti yang dilakukan oleh pelaku kekerasan gender berbasis online (KGBO) kepada korban-korbannya.

4) Membuat Anda Mempertanyakan Diri Sendiri

Pelaku yang memiliki kecenderungan untuk melakukan proyeksi dan membalikkan fakta memang membuat jebakan mental tersebut untuk membuat korbannya terus mempertanyakan dirinya sendiri seperti:

  • “Apakah ini semua terjadi karena sifat saya yang…?”
  • “Apakah yang tadi saya ucapkan menyakiti hatinya?”
  • “Apakah saya harus berhenti meragukannya?”
  • “Apakah benar ini semua salah saya?”
  • “Apakah saya kurang baik?” dan sejenisnya

Semua itu semata untuk membuat Anda terus menyesal dan siap melakukan apapun untuk pelaku.

[Baca Juga: Survei Perubahan Perilaku dan Hubungan Keluarga Saat #DiRumahAja]

Perlu diketahui bahwa gaslighting adalah salah satu taktik yang dilakukan pelaku dan merupakan taktik yang menjadi bibit dari tindak-tindak kekerasan. Maka jika Anda mengalami atau mengetahui orang-orang dengan indikasi tersebut di atas, ketahuilah tidak perlu takut untuk melakukan apa yang terbaik untuk kebahagiaan dan kesehatan psikologis. Jangan biarkan pelaku menjerat Anda dalam rasa sesal dan terperangkap dalam siklus yang sama. Relasi yang baik seharusnya membawa dampak positif bagi pihak-pihak yang terlibat, bukan sebaliknya.

Read More

Artikel Lainnya

Indekos, Toko Bunga, dan Museum, Inilah Perubahan Wajah Gedung Sumpah Pemuda

Berita Kawasan

Museum Sumpah Pemuda Gelar Pameran Sartono: Sang Pejuang Demokrasi

27 October 2020, 17:54

Dalam momen perayaan Sumpah Pemuda tahun ini, Museum Sumpah Pemuda menggelar pameran yang memperlihatkan sosok yang dipandang sebagai tokoh pejuang demokrasi di Indonesia, Sartono.

Dari realme Narzo 20 Hingga AIoT, Pekan Depan realme Rilis Jajaran Produk Baru!.jpg

Bisnis

Dari realme Narzo 20 Hingga AIoT, Pekan Depan realme Rilis Jajaran Produk Baru!

27 October 2020, 15:36

i awal November 2020, realme Indonesia sudah siap memperkenalkan beragam produk barunya, termasuk ponsel pintar yang targetkan mobile gamer.

Jelang Unjuk Rasa Omnibus Law di Surabaya, Wali Kota Risma Lakukan Init.jpg

Berita Kawasan

Jelang Unjuk Rasa Omnibus Law di Surabaya, Wali Kota Risma Lakukan Ini

27 October 2020, 14:29

Wali Kota Risma berpesan kepada warganya yang hendak ikut demonstrasi Omnibus Law pada hari ini.

Persiapan Libur Panjang, Pemprov Jawa Barat Siap Gelar Rapid Test Dadakan.jpg

Berita Kawasan

Persiapan Libur Panjang, Pemprov Jawa Barat Siap Gelar Rapid Test Dadakan

27 October 2020, 13:36

Pemprov Jawa Barat sudah mulai mempersiapkan untuk antisipasi potensi penyebaran COVID-19 saat libur panjang.


Comments


Please Login to leave a comment.