Mengenal Alat Perlindungan Diri untuk Tenaga Medis yang Kini Langka Kacamata Googles

Kesehatan

Kartini Hari Ini: Perjuangan Tenaga Medis Perempuan di Kala Pandemi

Hari Kartini pada 21 April yang identik dengan perayaan akan perjuangan perempuan menjadi lebih sarat makna dengan perjuangan tenaga medis perempuan. Di balik urgensi peran tenaga medis, siapa sangka bahwa mereka termasuk kelompok yang paling rentan terdampak COVID-19. Data World Health Organization (WHO) tahun 2020, dari sekitar 70 persen dari jumlah keseluruhan pekerja sektor kesehatan dan sosial ternyata diisi perempuan. Bahkan di Asia Tenggara jumlahnya mencapai 79 persen.

Sementara di Indonesia, data Persatuan Perawat Nasional Indonesia tahun 2017 menunjukkan dari seluruh perawat di Indonesia, sebanyak 71 persen atau 259.326 diantaranya adalah perempuan. Dominasi kelompok perempuan ini menjadikan mereka termasuk kelompok yang rentan terdampak pandemi COVIDd-19.

Melalui Dinkes Tangerang, Tenaga Medis Dapatkan APD dan Masker

Meski bekerja penuh dengan risiko, tapi para tenaga medis tetap mengabdikan dirinya untuk masyarakat. Pengalaman dr. Suci Zahara menunjukkan bagaimana perannya sebagai bagian tenaga medis perempuan yang berada di garda terdepan dalam menangani pasien COVID-19.

Suci bekerja di salah satu rumah sakit rujukan COVID-19 yang berada di wilayah Jakarta Barat. Tak tanggung-tanggung, ia ditempatkan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) khusus untuk COVID-19.

Meski ia menjadi satu-satunya dokter perempuan yang bekerja di unit tersebut, diakuinya tak ada perlakukan diskriminasi selama bekerja. Baik hak dan tanggung jawab dokter di sana semuanya sama.

[Baca Juga: Hari Kartini dan Nasib Pekerja Perempuan Di Tengah Pandemi]

Namun, bukan berarti profesinya sebagai tenaga medis di tengah pandemi ini tak menimbulkan keresahan. Apalagi ia ditempatkan di IGD untuk menangani COVID-19, yang membuatnya sangat rentan tertular dari pasien.

“Di saat kita harus menangani rasa takut diri sendiri aja, terus kegalauan sendiri belum selesai, tetapi kita harus mau tidak mau menangani pasien yang membutuhkan kita,” kata Suci, dalam acara diskusi publik online Suara Kartini: Perempuan di Garda Depan COVID-19 (21/4/2020).

Selama satu bulan belakangan ini, Suci tidak kembali ke rumah. Ia memilih untuk tinggal sementara di tempat penginapan yang telah disediakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk para tenaga medis.

Pemkab Bekasi Gelar Rapid Test COVID-19 Hari Ini

Hal itu ia lakukan untuk mencegah penularan kepada keluarganya di rumah. Apalagi Suci mengaku belum mendapatkan tes COVID-19. Dia bercerita bahwa ia sempat memutuskan untuk pulang ke rumah lantaran buah hatinya memintanya untuk pulang. Namun, selama di rumah pun ia juga harus mengenakan masker.

“Kebetulan saya single parent, anak saya satu berusia 4 tahun. Kalau dibilang dukanya banyak banget, karena saya harus menitipkan anak saya sama ibu saya. Belum lagi sekolah sekarang e-learning jadi harus koordinasi juga sama orang rumah,” ungkapnya.

Menikmati Profesi

Kendati demikian, ia tetap terus berupaya menikmati profesinya mengingat masyarakat membutuhkannya. Apalagi sekarang ini kapasitas rumah sakit rujukan juga mulai mengalami kesulitan.

“Saya takut kalau lagi jaga itu ketika pasien jatuh dalam keadaan gagal nafas, alatnya tidak ada, ventilator tidak tersedia. Itu yang bikin kadang mental sangat diuji. Belum lagi saat edukasi pasien dinyatakan PDP, pasien menolak dan akhirnya pulang. Itu yang paling dikhawatirkan,” tuturnya.

Selain dokter, tenaga medis dalam laboratorium pun juga memiliki tantangannya tersendiri. Koordinator Pemeriksaan COVID-19 di IMERI FKUI, apt. Editha Reneesten mengungkapkan bagaimana dirinya sebagai bagian dari tenaga medis perempuan yang berada pada garda depan dalam menangani pasien COVID-19 tetap menikmati profesinya.

[Baca Juga: Mengenal Alat Perlindungan Diri untuk Tenaga Medis yang Kini Langka]

Editha mengatakan, dirinya menikmati karena keputusannya untuk menggeluti profesi ini berangkat dari dirinya sendiri. Oleh karenanya, ia menikmati setiap tantangan yang dihadapinya.

“Pasti ada suka dukanya, tetapi saya mencoba ke benefit yang bisa saya dapat dari pekerjaan ini. Jadi jangan fokus ke dukanya,” katanya.

Oleh karenanya, keduanya berharap agar masyarakat mematuhi peraturan pemerintah untuk menerapkan PSBB demi menekan penyebaran pandemi COVID-19. Masyarakat juga diharapkan untuk terus banyak mendalami informasi mengenai COVID-19 secara mandiri. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya stigma negatif bagi tenaga medis yang menangani COVID-19.

“Saat ini bukannya untuk takut, tapi untuk bangkit,” kata Suci.


Read More

Artikel Lainnya

Pastikan Anak Terlindung dari Campak via Vaksinasi, Pemkot Surabaya Siap Sweepin g.jpg

Kesehatan

Pastikan Anak Terlindung dari Campak via Imunisasi, Pemkot Surabaya Siap Sweeping

27 January 2023, 13:57

Banyaknya kasus campak di wilayah perbatasan Surabaya-Madura, mendorong Pemkot Surabaya untuk bergerak secara agresif demi memastikan anak-anak Kota Pahlawan sudah mendapatkan imunisasi campak.

Selama 2022 Ada Puluhan Suspek Campak, Dinkes Kota Yogyakarta Dorong Imunisasi Anak.jpg

Kesehatan

Selama 2022 Ada Puluhan Suspek Campak, Dinkes Kota Yogyakarta Dorong Imunisasi Anak

27 January 2023, 10:55

Dinkes Kota Yogyakarta meminta agar orangtua melindungi buah hatinya dari ancaman penyakit campak dengan segera datang ke puskesmas untuk mendapatkan imunisasi.

East Ventures Pimpin Pendanaan Awal untuk Startup Manufaktur In i.jpg

Bisnis

East Ventures Pimpin Pendanaan Awal untuk Startup Manufaktur Ini

26 January 2023, 15:30

Baru-baru ini perusahaan startup manufaktur Imajin disebut berhasil meraih suntikan pendanaan awal yang dipimpin East Ventures.

Ukur Kemampuan Bahasa Indonesia Mahasiswa, Dosen Unpad Hadirkan Tes Khusus.jpg

Pendidikan

Ukur Kemampuan Bahasa Indonesia Mahasiswa, Dosen Unpad Hadirkan Tes Khusus

26 January 2023, 13:28

Tim dosen Unpad berhasil membuat inovasi tes khusus yang dapat menunjukan bagaimana kompetensi mahasiswa dalam berbahasa Indonesia.


Comments


Please Login to leave a comment.