ads
CEMPAKA PUTIH_KESEHATAN_KENALI PENYAKIT THALASEMIA DENGAN DIAGNOSI YANG TEPAT_OCI_REVISI 01-01.jpg

Kesehatan

Kenali Penyakit Thalasemia dengan Diagnosis yang Tepat

Penyakit thalasemia banyak ditemukan pada orang Italia, Yunani, Timur Tengah, Asia dan Afrika. Namun, Indonesia termasuk salah satu negara dengan angka kejadian thalasemia yang tinggi. Diperkirakan jumlah penderita thalasemia di Indonesia bakal mencapai 20 sampai 25 ribu orang pada tahun 2028 nanti.

Begitu disampaikan Dr. dr. Pustika Amalia Wahidayat, SpA(K) dari Departemen Hematologi-Onkologi Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta seperti dikutip dari liputan6.com (17/9/2018). Perkiraan tersebut berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan (Riskesdas) tahun 2015 yang menunjukkan bahwa penderita thalasemia di Indonesia ada 7.029 kasus. Data ini meningkat dari tahun 2014 dengan 6.647 kasus.

“Jumlah kasus thalasemia memang meningkat. Dari hasil pantauan di RSCM saja tahun 2016, ada 1.637 pasien thalasemia. Bahkan pasien baru mencapai 50 sampai 60 pasien per tahunnya,” tambah Pustika. Sayangnya, di Indonesia deteksi untuk thalasemia agak sulit dilakukan oleh karena memerlukan pemeriksaan DNA dan pemeriksaan tersebut baru dapat dilakukan di beberapa kota besar saja.

[Baca Juga : Waspada Bahaya Kanker Hati pada Pria]

Thalasemia merupakan salah satu penyakit genetik terbanyak di dunia yang ditandai dengan tidak terbentuk atau berkurangnya salah satu rantai globin baik itu -α ataupun -β yang merupakan komponen penyusun utama molekul hemoglobin normal. Berdasarkan hal tersebut thalasemia dibedakan menjadi thalassemia -α dan thalassemia -β.

Berdasarkan data dari Lembaga Eijkman, angka kejadian thalasemia -α di Indonesia sekitar 2,6-11 persen, banyak ditemukan di Pulau Sulawesi, yaitu pada Suku Bugis ataupun Suku Kajang. Sedangkan thalasemia -β, ditemukan rata-rata sekitar 3-10 persen, dengan pembawa sifat terbanyak ditemukan di Pulau Sumatera, dan sekitar hampir 10 persen di daerah Palembang. Di Pulau Jawa, angka pembawa sifat sebesar 5 persen. Sedangkan untuk kelainan hemoglobinopati, pembawa sifat hemoglobin E ditemukan sebesar 1,5-33 persen dan terbanyak didapatkan di Pulau Sumba.

Secara klinis, menurut Pustika seperti dimuat di situs Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), thalasemia dibagi menjadi tiga jenis:

  1. Thalasemia mayor yang mengakibatkan pasien memerlukan transfusi darah yang rutin agar kuat seumur hidupnya.
  2. Thalasemia intermedia bila pasien membutuhkan transfusi tetapi tidak rutin maka disebut sebagai thalasemia intermedia.
  3. Pembawa sifat thalasemia bila pasien tanpa gejala dan secara kasat mata tampak normal.

Diagnosis Dini

Semakin dini diagnosis thalasemia ditegakkan dan semakin cepat anak mendapatkan transfusi darah yang memadai, maka harapan dan kualitas hidup anak tersebut akan semakin baik. Oleh karena itu, Anda harus mewaspadai tanda atau gejala klinis yang timbul walaupun hanya ringan dan jangan mengabaikannya.

Gejala tersebut antara lain:

- Anak akan tampak pucat akibat turunnya kadar hemoglobin (Hb).

- Kadang anak terlihat kuning atau ikterus akibat hemolisis yang berat.

- Dapat disertai tanda gangguan fungsi jantung.

Masih dari sumber situs IDAI, tanda atau gejala lainnya yang mungkin muncul adalah terabanya benjolan pada perut anak saat orangtua memandikan anaknya. Pembesaran ini biasanya adalah organ limpa yang membesar akibat kompensasi dari anemia kronis, karena limpa bekerja keras membantu kerja tulang untuk membentuk sel darah merah.

Hal lain yang perlu diperhatikan menurut Pustika adalah karena penyakit thalasemia ini merupakan penyakit genetik atau bawaan yang diturunkan berdasarkan hukum Mendel atau Hukum Asortasi atau Hukum Berpasangan Secara Bebas, maka jika dua pembawa sifat atau penderita thalasemia minor menikah, mereka berpeluang mempunyai 25 persen anak yang sehat, 50 perseb anak sebagai pembawa sifat dan 25 persen anaknya sebagai thalasemia mayor.

[Baca Juga : Mengenal Apa itu Hemodialisa di RS Anna Pekayon

Peluang ini terjadi pada setiap pembuahan atau kehamilan, karenanya bisa saja dalam satu keluarga semua anaknya merupakan pengidap thalasemia mayor, atau malah mungkin tampak sehat, karena tidak memberikan gejala sama sekali. Tetapi belum tentu mereka sehat, karena tetap mempunyai peluang sebagai thalasemia minor. Oleh karena itu, jika kedua orangtua diketahui sebagai pembawa sifat thalasemia harus sesegara mungkin memeriksakan diri mereka dan anak keturunannya untuk segera dapat segera diidentifikasi sedini mungkin.

[Baca Juga : 8 Penyebab Sakit Pinggang]

Selain keluarga, Pustika juga mengingatkan agar para dokter yang menemukan pasien dengan anemia harus segera mencari penyebabnya, karena anemia adalah suatu gejala bukan suatu diagnosis. Selain itu, dia menyarankan perlunya dilakukan pemeriksaan indeks eritrosit seperti Mean Corpuscular Volume (MCV), Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH), dan Red Cell Distribution Width (RDW), karena mungkin saja kadar Hb normal, tetapi terdapat adanya gambaran mikrostik hipokromik. Perlu diingat bila temukan gambaran mikrostik hipokrom perlu dipikirkan kemungkinan defisiensi besi, dan thalasemia sebagai penyebab tersering dari kondisi tersebut.

Pemeriksaan penyakit Thalasemia bisa dilakukan di Divisi Hemato-Onkologi Anak. Sebagai pusat rujukan pelayanan kesehatan di Indonesia, divisi ini juga mengelola Pusat Thalasemia dan Pusat Hemofolia. Untuk Thalasemia telah dapat pula dilakukan diagnosis prenatal (bekerjasama dengan Eijkman). Pelayanan pasien keganasan pada anak dilakukan secara multidisiplin dan terpadu dengan divisi atau departemen terkait.

ads
ads
ads

Artikel Lainnya

Perhatikan Hal ini Ketika Membuat Taman di Rumah.jpg

Properti dan Solusi

Perhatikan Hal ini Ketika Membuat Taman di Rumah

20 February 2019, 4 a.m.  |  12 Views

Banyak manfaat miliki taman di halaman rumah. Taman memberikan sirkulasi udara yang baik. Memandanginya juga baik untuk mata lelah.

Eka Kurniawan Jaga Kesehatan dengan Bersepeda.jpg

Kesehatan

Eka Kurniawan Jaga Kesehatan dengan Bersepeda

20 February 2019, 5 a.m.  |  29 Views

Mengetik berjam-jam di depan layar komputer dapat mengganggu kesehatan. Sastrawan Eka Kurniawan mengatasinya dengan rajin bersepeda.

Ngopi Instagramable di Serpong 1.jpg

Kuliner

4 Tempat Ngopi Instagramable di Serpong

20 February 2019, 3 a.m.  |  12 Views

Secangkir kopi panas jadi kenikmatan hakiki yang tak terbantahkan. Tak ayal, tempat ngopi juga hadir dengan interior instagramable.

Taman Bacaan Inovator.jpg

Pendidikan

Taman Baca Inovator Lahir Atas Nama Literasi

19 February 2019, 4 a.m.  |  48 Views

Gerakan taman bacaan mungkin sudah banyak ditemukan. Namun, Yayasan Taman Baca Inovator punya sentuhan berbeda.


Comments

Please Login to leave a comment.

ads