ads
Kenapa Harus Hati-Hati Memberitakan Kasus Bunuh Diri.pptx.jpg

Kesehatan

Kenapa Harus Hati-Hati Memberitakan Kasus Bunuh Diri?

Pemberitaan kembali memberitakan terjadinya kasus bunuh diri tepatnya pada Senin sore (11/3/2019) di Pondok Indah Mal (PIM) 2, Jakarta Selatan. Diketahui dalam berbagai media memberitakan seorang pria yang melakukan aksi bunuh diri sempat dibawa ke Rumah Sakit Pondok Indah, namun nyawanya tidak bisa diselamatkan.

Di hari yang sama, tepatnya pukul 18.45 seorang wanita juga melakukan aksi bunuh diri di apartemen kawasan Margonda, Depok yang menyebabkan kematian dan telah dikabarkan berbagai media. Setiap orang memang memiliki potensi untuk melakukan bunuh diri yang bergantung pada kesehatan mentalnya. Namun, apakah yang memicu terus terjadinya korban dari tindakan bunuh diri?

Menurut Psikolog Dinastuti, bunuh diri adalah fenomena yang kompleks dan mustahil untuk mengetahui motivasi seseorang bunuh diri. Meskipun pelaku sebelumnya telah menuliskan alasan di balik tindakannya, bisa saja hal yang dituliskan bukan alasan sesungguhnya dan tentu korban tidak bisa ditanya jika tindakan bunuh dirinya mengakibatkan kematian.

[Baca Juga: Jangan Takut Konsumsi Obat Demi Kesehatan Jiwa]

Bunuh diri bukan sebuah penyakit sehingga tidak bisa menular, kecuali yang dimaksud 'menular' adalah saat ada pemberitaan mengenai kejadian bunuh diri, kemudian disusul oleh kejadian-kejadian bunuh diri yang lain sebagaimana keterangan dari Dinastuti melalui email kepada Pingpoint.co.id (13/3/2019).

Profesor psikologi di Stetson University, Florida, Christopher Ferguson telah melakukan penelitian yang menunjukkan ‘penularan’ bunuh diri terjadi karena beberapa hal. Mengutip hasil wawancara American Psychological Association pada apa.org (13/3/2019), Ferguson mengatakan sepertiga dari kumpulan penelitiannya salah satunya adalah oleh teman sebaya atau seseorang di lingkungan sosialnya yang telah melakukan tindakan tersebut. Faktor lain adalah dengan media berita yang meliput tentang bunuh diri dan acara televisi fiksi bahkan musik heavy metal.

[Baca Juga: 3 Psikolog Tulis Buku Latihan Penerimaan Diri]

Mengutip dari artikel terjemahan time.com (13/3/2019), bukan rahasia bagi para ahli kesehatan mental bahwa paparan bunuh diri baik secara langsung atau melalui media dan hiburan dapat membuat orang lebih cenderung untuk menggunakan perilaku bunuh diri. Fenomena tersebut memiliki nama ‘penularan’ bunuh diri.

Bunuh diri dikatakan ‘menular’ dari beberapa faktor seperti hasil penelitian Ferguso memang berdasarkan kasus bunuh diri yang diikuti oleh kasus-kasus yang lain sehingga tidak bisa diatasi agar tidak ‘menular’. Namun, menurut Dinastuti bisa dicegah dengan tidak menggunggah tentang kejadian bunuh diri di media sosial atau grup komunikasi telepon genggam (Whatsapp, Line, dan sebagainya) baik berita maupun foto.

Hati-hati Memberitakan Bunuh Diri

Selain demi menghormati dan menghargai keluarga dan teman yang ditinggalkan, menggunggah kejadian bunuh diri tanpa tahu perkaranya bukan hal yang etis atau bijaksana. Di sisi lain, informasi yang akurat dan bermanfaat mengenai cara-cara mengelola stres atau gejala depresi dan menjaga kesehatan jiwa untuk mencegah pemikiran serta usaha bunuh diri perlu disampaikan dan disebarluaskan. Terutama oleh pakar yang kompeten (psikiater, psikolog klinis, peneliti bidang kesehatan jiwa, tenaga kesehatan jiwa, serta aktivis LSM bidang kesehatan jiwa) supaya orang awam lebih waspada mengenai risiko terjadinya bunuh diri.

Dinastuti juga menerangkan, wartawan serta media juga perlu lebih berhati-hati serta empatik saat memberitakan mengenai kejadian bunuh diri misalnya :

  • Tidak menyebutkan metode bunuh diri
  • Tidak menyebutkan nama lengkap ataupun informasi spesifik mengenai pelaku serta keluarga
  • Tidak berspekulasi mengenai penyebab tindak bunuh diri

Orang-orang yang tengah menghadapi tekanan hidup dan merasa putus asa atau mengalami gejala depresi, bisa jadi mendapatkan ide untuk bunuh diri saat membaca berita mengenai tindak bunuh diri yang ditulis tanpa pertimbangan yang matang atau memperhitungkan aspek kemanusiaan.

[Baca Juga: Program Kesehatan Jiwa di Puskesmas Cakung Jakarta Timur]

Peneliti utama studi dan seorang psikiater di Sunnybrook Health Sciences Center Dr. Mark Sinyor turut angkat bicara mengenai peran media dalam melaporkan kasus bunuh diri pada time.com (13/3/2019). Menurut Sinyor, wartawan idealnya tidak akan memperlakukan bunuh diri sebagai kisah hiburan tetapi sebagai apa yang sebenarnya, yakni tentang kisah kesehatan.

Bantu Pencegahan Bunuh Diri

Dr. Ayal Schaffer seorang professor psikiatri di University of Toronto dalam lansiran time.com (13/3/2019) mengatakan pesan harapan sebaiknya disampaikan media dalam pencegahan bunuh diri misalnya menyebut orang yang telah pulih dari krisis bunuh diri juga dapat membantu.

Menurut Schaffer, bagian dari pesan harapan dapat menimbulkan perasaan bahwa seseorang benar-benar dapat melakukan sesuatu dengan melawan perasaan keputusasaan dan ketidakberdayaan yang terkait dengan bunuh diri.

Sementara Dinastuti menambahkan untuk setiap pemberitaan mengenai kejadian bunuh diri sebaiknya juga memberikan tips pencegahan bunuh diri bagi pembaca yang memerlukan atau mencantumkan informasi atau nomor layanan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) kesehatan jiwa yang bergerak mencegah bunuh diri yang dapat dihubungi.

LSM atau komunitas yang melayani kesehatan jiwa dan bergerak mencegah bunuh diri di Indonesia seperti Into The Light Indonesia dan Get Happy mungkin bisa menjadi solusi bagi siapapun yang mempunyai pemikiran bunuh diri atau bisa segera menemui psikolog atau psikiater di berbagai Rumah Sakit yang memiliki klinik kejiwaan.

ads
ads
ads

Artikel Lainnya

Mi yang Enak Menurut Pencerita Kuliner

Kuliner

Mi yang Enak Menurut Pencerita Kuliner

22 March 2019, 11:00  |  10 Views

Menurut pencerita kuliner Ade Putri Paramadita mi yang enak bergantung pada empat hal. Simak penjelasannya berikut ini.

Kasus Obesitas di Indonesia Banyak Dialami Usia Muda

Kesehatan

Kasus Obesitas di Indonesia Banyak Dialami Usia Muda

22 March 2019, 12:00  |  4 Views

Data Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan bahwa penduduk dewasa berusia di atas 18 tahun yang mengalami obesitas sebesar 21,8 persen dan meningkat dari tahun 2013.

Komunitas Pecinta Kura-kura Indonesia

Berita Kawasan

Komunitas Pecinta Kura-kura Indonesia, Bukan untuk Jual Beli

22 March 2019, 10:00  |  25 Views

Penjual hewan biasanya ikut komunitas hobi untuk bisa lebih dekat dengan konsumen. Tidak demikian di Komunitas Pecinta Kura-kura Indonesia yang melarang jual-beli.

Cara Mencegah Demensia Sejak Dini

Kesehatan

Cara Mencegah Demensia Sejak Dini

22 March 2019, 14:00  |  5 Views

Mencegah demensia sejak awal adalah langkah terbaik yang bisa Anda lakukan untuk melindungi kesehatan otak. Tidak perlu menunggu hingga usia 65 tahun.


Comments


Please Login to leave a comment.

ads