IMG_25112021_110040_(1100_x_600_piksel).jpg

Kesehatan

Kesulitan Kenal Huruf, Ini Solusi untuk Anak Penderita Disleksia

Penderita disleksia cenderung akan mengalami gangguan belajar dalam mengolah informasi yang diperolehnya. Disleksia adalah salah satu bentuk gangguan belajar (learning disorder) yang ditandai dengan kesulitan membaca karena anak tidak mampu membedakan satu huruf dengan huruf lainnya.

Umumnya mereka kesulitan membedakan huruf-huruf yang ada “perutnya” seperti kesulitan membedakan huruf ‘b’ dengan ‘d’ atau ‘p’ dengan ‘q’ yang memiliki arah berbeda.

Irna Minauli, Psikolog Kota Medan dan selaku Direktur Minauli Consulting mengatakan, anak yang mengalami disleksia tidak memiliki masalah dengan IQ, artinya mereka memiliki IQ rata-rata atau bahkan di atas rata-rata. Dengan demikian mereka masih mampu mengikuti pelajaran dan kesulitan mereka hanya dalam masalah bacaan. Akan tetapi untuk kemampuan berhitung dan yang lainnya mereka tidak terkendala.

[Baca Juga: Lingkungan yang Ramah Anak Berkebutuhan Khusus dalam Berkebun]

“Berbeda dengan anak yang mengalami keterbelakangan mental (mental retardation) yang ditandai dengan IQ yang di bawah rata-rata (di bawah 70) sehingga mereka bukan hanya mengalami kesulitan membaca namun juga kesulitan berhitung dan masalah akademis yang lainnya,” tuturnya, (25/11/2021).

Sementara itu, anak yang mengalami keterbelakangan mental dapat ditelusuri dari adanya keterlambatan dalam perkembangan fisik awal. Misalnya, kalau anak normal bisa tengkurap umur 3-4 bulan maka anak yang terbelakang mental baru bisa tengkurap umur 6 bulan. Demikian pula dengan kemampuan berjalan, kalau anak normal umumnya bisa berjalan usia 12 bulan maka anak yang mengalami keterbelakangan mental baru bisa jalan di usia 2 tahun atau lebih.

irna-tanggapi-saipul-jamil.jpg

“Keterlambatan mental lebih mudah dideteksi dibandingkan dengan disleksia. Pada kasus disleksia mereka tumbuh secara normal, namun gangguannya baru terlihat pada saat mereka masuk SD. Ketika anak-anak lain sudah bisa membaca namun mereka mengalami kesulitan untuk mengenali huruf, namun tidak terganggu dalam kemampuan berhitung dan lainnya,” jelasnya.

Terkadang banyak orangtua yang bersikap denial (menyangkal) dengan mengatakan bahwa anaknya mengalami disleksia padahal sebenarnya mengalami keterbelakangan mental. Untuk memastikannya maka perlu dilakukan pemeriksaan inteligensi.

“Kalau IQ-nya di atas 90 dan anak mengalami kesulitan membaca maka kemungkinan dia mengalami disleksia. Namun kalau IQ di bawah 70 maka masuk kategori keterbelakangan mental. Diagnosis ini perlu dipastikan karena akan berpengaruh terhadap terapi yang tepat karena keduanya membutuhkan penanganan yang berbeda,” ucapnya.

[Baca Juga: Rumah Musik Anak Special, Ruang Kreativitas ABK]

Dalam menghadapi anak penderita disleksia, orangtua harus mampu memahami gangguan yang dihadapi anaknya.

“Anak tidak perlu dimarahi atau dihukum karena ketidakmampuannya. Orangtua perlu secara sabar membimbing dan mengarahkan anak. Misalnya, orangtua membantu memperkenalkan huruf dengan cara yang menyenangkan misalnya sambil bernyanyi 'b perutnya di depan sedangkan d perutnya di belakang'. Meskipun pada beberapa kasus disleksia anak juga mengalami kesulitan orientasi ruang sehingga tidak bisa membedakan mana kiri dan kanan serta mana depan dan belakang,” paparnya.

Selain itu, Irna juga menyampaikan orangtua yang memiliki anak gangguan disleksia agar memberi perhatian khusus pada anak dan membantu anak memahami isi bacaan.

[Baca Juga: Hari Peduli Autisme Sedunia, Pendidikan Seksualitas yang Terabaikan]

“Solusi pendidikan untuk anak dengan disleksia adalah memberi perhatian khusus pada anak dan mengajak teman-temannya untuk membantu anak memahami isi bacaan. Selain itu, anak perlu mendapat pelajaran tambahan atau kursus membaca dengan metoda gestalt di mana anak belajar membaca dengan melihat keseluruhan dan bukan mengeja," dia menjelaskan.

"Akan lebih membantu jika dilakukan langsung secara konkrit pada benda-benda tersebut. Misalnya, orangtua membuat tulisan ‘pintu’, ‘jendela’, ‘meja’, dan ‘kursi’. Awalnya tulisan-tulisan tersebut ditempelkan pada benda sesuai dengan huruf. Kemudian, tulisan dicopot dan anak harus menempelkan sesuai dengan huruf yang ada,” tutupnya.


Read More

Minauli Consulting

Konsultan

+6281263384242
None

Artikel Lainnya

Jelang Imlek 2022, Ini Curhatan Pengrajin Barongsai di Tengah Pandemi.jpg

Bisnis

Jelang Imlek 2022, Ini Curhatan Pengrajin Barongsai di Tengah Pandemi

18 January 2022, 16:06

Walau menjelang perayaan Imlek 2022, pengrajin barongsai di Kota Tangerang mengaku kesulitan menjual produknya akibat pandemi COVID-19.

Gaungkan Budaya Literasi, SMPN 6 Yogyakarta Dirikan Tugu .jpg

Pendidikan

Gaungkan Budaya Literasi, SMPN 6 Yogyakarta Dirikan Tugu

18 January 2022, 15:01

SMPN 6 Yogyakarta menghadirkan tugu khusus dengan tujuan menggaungkan budaya literasi di sekolahnya.

Pemprov DKI Jakarta Siap Gelar Tantangan Baca Jakarta 4 Kali Setahun.jpg

Pendidikan

Pemprov DKI Jakarta Siap Gelar Tantangan Baca Jakarta 4 Kali Setahun

18 January 2022, 14:02

Dengan tujuan semakin mendorong geliat minat baca di Ibu Kota, program tantangan Baca Jakarta di tahun 2022 ini siap digelar lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Bahas Kampus Merdeka, Mendikbudristek Temui Mahasiswa Unpad.jpg

Pendidikan

Bahas Kampus Merdeka, Mendikbudristek Temui Mahasiswa Unpad

18 January 2022, 13:03

Mendikbudristek Nadiem pada pekan ini berkunjung ke Unpad untuk membahas mengenai penerapan program MBKM di universitas negeri tersebut.


Comments


Please Login to leave a comment.