Kiamat Serangga Penjelasan LIPI dan Dampaknya Bagi Kehidupan

Pendidikan

Kiamat Serangga: Penjelasan LIPI dan Dampaknya Bagi Kehidupan

Tak selamanya serangga menjadi hewan yang mengganggu kehidupan manusia. Faktanya, serangga turut berperan penting terhadap keselamatan bumi.

Dilansir dari laman resmi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) (8/6/2020), sekarang ini baru 20 persen dari dari 5,5 juta serangga di dunia yang teridentifikasi. Dari jumlah tersebut, tersisa 80 persen dari populasi serangga. Jumlahnya pun juga terus berkurang.

Penurunan jumlah serangga ini mengancam keselamatan bumi. Sebab, serangga dan tumbuhan merupakan memiliki peran sangat vital dalam ekosistem. peneliti bidang Entomologi Pusat Penelitian Biologi (LIPI) mengungkapkan bahwa serangga adalah penyerbuk, pengontrol hama, pengelola limbah dan pengurai jasad. Mereka juga merupakan makanan bagi hewan lainnya.

Kiamat Serangga Penjelasan LIPI dan Dampaknya Bagi Kehidupan

“Jadi bayangkan jika serangga punah akan banyak jasad yang menumpuk dan tidak terurai”, kata Djunijajnti, dilansir dari LIPI.go.id (8/6/2020).

Ia pun menjelaskan penurunan serangga menjadi masalah yang sudah terlihat. Dia mengatakan, faktor utama yang menyebabkan hal itu terjadi karena alih fungsi lahan, perubahan iklim, penggunaan pestisida dan pupuk sintetis, serta adanya faktor biologis termasuk patogen dan spesies invasif.

Dia mencontohkan, kupu-kupu Graphium codrus bukanlah kupu-kupu endemik Indonesia, tidak langka dan tidak terancam punah. Jenis kupu-kupu yang digunakan sebagai foto sampul majalah National Geographic Indonesia bulan Mei 2020 itu ternyata jumlahnya hanya ada 21 spesimen dari empat sub-spesies di Museum Zoologicum Bogoriense.

[Baca Juga: 4 Serangga Perusak Kayu Bangunan dan Cara Mengatasinya]

“Kondisi ini menunjukkan bahwa menemukan kupu-kupu tak langka pun sudah cukup sulit. Apalagi mendata dan memperoleh spesies yang tergolong endemik dan langka seperti Ornithoptera Croesus yang merupakan spesies endemik di Maluku Utara dan baru dimasukkan dalam daftar spesies dilindungi di Indonesia pada tahun 2018,” ungkapnya.

Oleh karenanya ia mengingatkan bahwa sudah saatnya setiap individu berkontribusi untuk menekan laju penurunan serangga. “Status kiamat serangga saya setuju dan sangat mengkhawatirkan, ”ujarnya.

Pendataan Serangga

Meski demikian, dia pun menekankan bahwa adanya penurunan biomassa hingga 76 persen perlu dicermati secara detail. Dia pun mengatakan perlu dilakukan pendataan terlebih dahulu karena saat ini belum terlihat jenis serangga yang terancam sehingga belum dapat melakukan prioritas. Terkait hal tersebut, LIPI sendiri masih melakukan pendataan serangga.

“Kami juga mendapatkan dana dari Global Biodiversity Information Facility Untuk melakukan pendataan dan digitalisasi spesimen kupu-kupu,” katanya.

4 Serangga Perusak Kayu Bangunan dan Cara Mengatasinya

LIPI turut membuka kesempatan kepada masyarakat untuk kontribusi spesies yang telah ditemukan. “Masyarakat dapat mengirimkan koleksi dalam bentuk foto spesies dengan melengkapi data tempat dan waktu ditemukan. Koleksi tersebut dapat menjadi data observasi, salah satunya dalam InaBIF,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI lainnya, Cahyo Rahmadi mengatakan, pendataan serangga adalah upaya LIPI untuk melengkapi data yang mana data ini akan menjadi salah satu dasar untuk menyatakan status kepunahan suatu spesies.

[Baca Juga: Selama PSBB, Air Limbah Domestik Ibu Kota Alami Penurunan]

“Negara maju sudah memiliki perbandingan data serangga dari tahun ke tahun. Sedangkan di Indonesia baru sebatas memiliki koleksi spesimen. Inilah yang dianggap sebagai kondisi kritis eksistensi serangga,” terang Cahyo.

Menurutnya, status hewan yang tidak langka dan belum masuk daftar merah bukan berarti sudah aman. Sekarang ini saja, masih sedikit orang yang memperhatikan ekosistem serangga. Oleh karenanya, menurut Cahyo perlu adanya perubahan perilaku masyarakat untuk menghargai keberadaan serangga.

Untuk diketahui, menurut laporan Caspar Hallman dari Radboud University pada tahun 2017, populasi serangga terbang di cagar alam Jerman menurun lebih dari 75 persen selama 27 tahun terakhir. Tak hanya itu, Bayo dan Wyckhuys melaporkan penurunan serangga juga turut terjadi meskipun di kawasan cagar alam yang masih belum terjamah manusia.

Read More

Artikel Lainnya

IBB TV Satelit Bandung132, Kado HUT ke-210 bagi Warga

Berita Kawasan

IBB TV Satelit "Bandung132", Kado HUT ke-210 bagi Warga

27 September 2020, 09:59

IBB TV Bandung132 diresmikan langsung oleh Wali Kota Bandung Oded M. Danial di Pendopo Kota Bandung, 25 September 2020.

Pelebaran Kreteg Wesi Sampangan, Kota Semarang Selesai Akhir November

Berita Kawasan

Pelebaran Kreteg Wesi Sampangan, Kota Semarang Selesai Akhir November

26 September 2020, 17:46

Menelan anggaran sebesar 20 milyar rupiah, pelebaran akses yang menghubungkan Gunungpati dan Gajahmungkur itu ditargetkan rampung November 2020.

Serunya Nonton Film Bareng di Drive-In Senja Bandung

Hobi dan Hiburan

Serunya Nonton Film Bareng di Drive-In Senja Bandung

26 September 2020, 11:39

Ini dilakukan outdoor. Mudah-mudahan tidak terlalu khawatir juga sama COVID-19. Karena kita berada di mobil sendiri relatif lebih aman.

Di Bawah Rp500 Ribuan, Amazfit Neo Siap Diluncurkan .jpg

Bisnis

Di Bawah Rp500.000-an, Amazfit Neo Siap Diluncurkan

25 September 2020, 18:43

Perusahaan Huami siap meramaikan pasar jam tangan pintar di Indonesia dengan produk Amazfit Neo yang memiliki harga tak sampai Rp500 ribuan.


Comments


Please Login to leave a comment.