Kisah Makan Pejuang Bangsa di Hutan Kota UI Depok

Berita Kawasan

Kisah Makam Pejuang Bangsa di Hutan Kota UI Depok

Tahukah Anda tentang keberadaan makam bersejarah di Hutan Kota Universitas Indonesia (UI) Depok? Di makam ini, banyak peziarah yang datang untuk mengunjungi tempat persemayaman terakhir sosok yang disebut juru kunci atau kuncen sebagai pejuang bangsa.

Bila Anda berada di dalam komplek UI dan ingin ke makam ini, bisa menuju ke arah pintu keluar sambil terus menyisir jalur paling kiri. Berjalanlah sekitar beberapa ratus meter hingga tidak ada bangunan. Setelah itu akan ada pos keamanan milik Perhutani DKI Jakarta Selatan di sebelah kanan jalan. Bagunan pos itulah patokannya.

Tepat di seberang pos itu, ada jalan setapak untuk masuk ke makam bersejarah di Hutan Kota UI Depok. Konon, makam tersebut merupakan tempat persemayaman terakhir Syekh Abdurrahman bin Abdullah Al Maghribi atau yang terkenal dengan sebutan Mbah Takol. Berdasarkan beberapa sumber, makam tersebut memang sudah sejak lama ada di dalam Hutan UI, karena sebelumnya kawasan tersebut merupakan pemukiman warga Betawi.

[Baca Juga: Wisata Rumah Tokoh Legendaris Betawi di Kampung Marunda]

Makam ini tergolong makam tua di wilayah Jakarta. Beberapa sumber mengatakan Syekh Abdurrahman ini masih berkaitan dengan keluarga Al Maghribi yang banyak terdapat di Jawa Timur yang identik dengan keluarga besar Walisongo.

Namun, sumber lain menyebutkan gelar Al Maghribi ini juga sering disematkan kepada keluarga keturunan Sayyidina Hasan, yang berasal dari Maroko. Perlu diketahui juga kalau Al Maghribi itu adalah nama lain Maroko pada masa lalu.

Kisah Makan Pejuang Bangsa di Hutan Kota UI Depok Mbah Takol

Cerita dari Mbah Darto

Mengenai Maroko ini, hal yang sama disampaikan Mbah Darto, kuncen yang tahun ini mulai mendedikasikan hari-harinya menjadi penjaga makam. Ia menyampaikan cerita tentang makam yang dijaganya kepada Aufar Rizki dan Jasmine Khairunnisa yang kemudian membagikan cerita tersebut di unggahan Instagram @manusiaui (21/4/2019).

"Di dalam rumah ini ada empat makam utama. Makam Mbah Takol salah satunya, nama aslinya Syeikh Takol. Dia itu ikut berjuang memerdekakan Indonesia, jauh-jauh dia datang dari Maroko,” kata Mbah Darto seperti tercantum dalam unggahan tersebut. Ia menambahkan, kalau makam di luar merupakan makam wagra sekitar yang tadinya menempati wilayah ini.

[Baca Juga: Mengunjungi Kamar Diponegoro di Museum Sejarah Jakarta]

Mbah Darto merasa mendapatkan amanah untuk mengurus makam tersebut agar orang-orang yang berziarah nyaman. Menurutnya, sebelum direnovasi, tempat ini gelap dan tidak terurus. “Alhamdulillah dananya didapat dari peziarah dan pengikut Mbah Takol yang jauh-jauh datang ke sini,” ujarnya.

Pada awal Januari 2019, Mbah Darto mula menjaga makam 24 jam dan menggantikan kuncen sebelumnya, Mbah Masri yang sudah sakit-sakitan. Awalnya, pria asal Purwodadi ini bekerja sebagai supir bis kuning nomor 03 pada 2009. Ia mengambil alih tugas Mbah Masri yang sudah menjadi penjaga makam sejak tahun 1975.

"Nggak banyak yang tahu tentang makam ini, tapi pengikut Mbah Takol dari daerah sering ke sini. Kalau anak UI-nya, ada sekitar tiga orang anak FIB (Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, red.) yang sering berkunjung," kata Mbah Darto.

[Baca Juga: Menilik Program Hospital Tourism di RSUI Depok]

Menurut Mbah Darto, seseorang seperti Mbah Takol layak untuk dihormati. “Beliau itu dulu berperang tanpa diberi upah. Sekarang beliau minta makamnya untuk dijaga, setidaknya bersih dan nyaman untuk orang yang berkunjung. Saya berharap dibantu oleh masyarakat sekitar UI untuk mengurus makam bersejarah ini serta lingkungan sekitarnya,” dia menjelaskan.

Selain makam Syekh Abdurrahmanbin Abdullah Al Maghribi, juga terdapat makam pengikutnya. Di samping paling kanan dari arah pintu masuk adalah Nyi Dasimah dari Cirebon, kemudian ditengahnya ada makam Kyai Mojo (bukan Kyai Mojo yang dekat dengan Pangeran Diponegoro), dan di depan makam ketiganya ada satu makam yang bernama Syekh Jalaludin Al Maghribi.

Read More

Artikel Lainnya

Pelebaran Kreteg Wesi Sampangan, Kota Semarang Selesai Akhir November

Berita Kawasan

Pelebaran Kreteg Wesi Sampangan, Kota Semarang Selesai Akhir November

26 September 2020, 17:46

Menelan anggaran sebesar 20 milyar rupiah, pelebaran akses yang menghubungkan Gunungpati dan Gajahmungkur itu ditargetkan rampung November 2020.

Serunya Nonton Film Bareng di Drive-In Senja Bandung

Hobi dan Hiburan

Serunya Nonton Film Bareng di Drive-In Senja Bandung

26 September 2020, 11:39

Ini dilakukan outdoor. Mudah-mudahan tidak terlalu khawatir juga sama COVID-19. Karena kita berada di mobil sendiri relatif lebih aman.

Di Bawah Rp500 Ribuan, Amazfit Neo Siap Diluncurkan .jpg

Bisnis

Di Bawah Rp500.000-an, Amazfit Neo Siap Diluncurkan

25 September 2020, 18:43

Perusahaan Huami siap meramaikan pasar jam tangan pintar di Indonesia dengan produk Amazfit Neo yang memiliki harga tak sampai Rp500 ribuan.

Memadukan Seni, Sains, dan Teknologi dalam Batik Fractal

Kecantikan dan Fashion

Memadukan Seni, Sains, dan Teknologi dalam Batik Fractal

25 September 2020, 16:06

Ternyata algoritma matematika bisa menghasilkan corak batik. Begini cara membuat batik frctal dengan apliksi yang diciptakan anak bangsa.


Comments


Please Login to leave a comment.