Di Antara Hewan Peliharaan, Kucing Disinyalir Paling Berpotensi Terkena COVID-19.jpg

Kesehatan

Kucing Disinyalir Hewan Peliharaan Risiko Tinggi COVID-19

Seperti yang sudah diwartakan, hewan peliharaan dapat berpotensi virus SARS-CoV-2 dan terkena penyakit COVID-19. Namun di antara semua hewan peliharaan yang populer menjadi teman manusia, ternyata ada satu jenis yang disinyalir lebih berpotensi terkena COVID-19 dibandingkan hewan peliharaan lainnya. Hewan yang dimaksud adalah kucing dan hal ini ditemukan dalam penelitian serta didukung pandangan ahli.

Ciri zoonotik atau kemampuan virus yang dapat berpindah serta menginfeksi manusia kechewan atau sebaliknya dari SARS-CoV-2 sebenarnya sudah terkonfirmasi ketika seekor harimau bernama Nadia di kebun binatang New York, Amerika Serikat dites positif terkena COVID-19. Bahkan tak hanya Nadia, beberapa “kucing besar” lainnya di kebun binatang tersebut, termasuk singa, juga terinfeksi virus tersebut usai menunjukkan gejala kehilangan napsu makan dan batuk kering.

[Baca Juga: Peliharaan Tertular COVID-19, Bisakah Hewan Kembali Menulari Manusia?]

Selain itu, ada beberapa kasus lainnya di Amerika Serikat dengan hewan peliharaan yang terinfeksi COVID-19. Namun berbeda dengan manusia, hewan yang terkena SARS-CoV-2 terlihat tak menunjukkan gejala gangguan kesehatan yang serius. Dokter hewan yang menjabat Executive Vice President EcoHealth Alliance Dr. William Karesh menyebut, bila dibandingkan anjing, kucing justru menjadi hewan peliharaan yang kemungkinan besar terkena COVID-19 dan menyebarkan ke sesama spesiesnya.

“Anjing muncul dalam kasus yang langka terkena virus tersebut tapi virus itu tidak berkembang dengan baik di (tubuh) anjing. Orang-orang mengetahui anjing mereka terinfeksi karena penasaran akibat orang-orang di rumah mereka sangat sakit dan berpikiran untuk sekalian melakukan tes dengan anjing mereka demi melihat apakah anjing mereka terkena. Dan anjing-anjing itu memang terkena virus tapi mereka tidak sakit. Kucing tampaknya lebih rentan dan mampu menginfeksi kucing lainnya,” ungkap Karesh, sebagaimana dikutip dari channel Vox di YouTube (1/6/2020).

Di Antara Hewan Peliharaan, Kucing Disinyalir Paling Berpotensi Terkena COVID-19 2.jpg

Penjelasan Karesh tersebut didukung dengan penelitian yang pada Mei 2020 dipublikasikan di New England Journal of Medicine. Penelitian ini dilakukan oleh para ilmuwan dari Jepang serta Amerika Serikat dan dipimpin Profesor Ilmu Patobiologi Fakultas Hewan di University of Wisconsin Yoshihiro Kawaoka.

Dalam penelitian itu, para ilmuwan memaparkan virus SARS-CoV-2 yang diisolasi dari pasien manusia yang positif COVID-19 ke tiga ekor kucing. Kemudian berselang sehari setelah proses itu, kucing-kucing tersebut menjalani swab test di bagian hidung mereka dan diketahui kedua kucing positif terkena COVID-19. Dalam kurun waktu tiga hari, semua kucing telah terinfeksi.

[Baca Juga: Bisakah Bulu Hewan Jadi Media Penyebaran COVID-19?]

Kemudian uji coba dilanjutkan dengan memasukkan tiga kucing yang positif itu ke kandang masing-masing. Lalu ilmuwan pun menempatkan tiga kucing baru sehat yang belum terinfeksi ke kandang tiga kucing terkena COVID-19. Setiap hari, mereka melakukan swab test dari hidung serta dubur keenam kucing tersebut. Dalam kurun waktu dua hari, salah satu kucing yang sehat terdeteksi mulai melepaskan virus atau shedding usai menjalani swab test dari hidung. Kemudian dalam kurun waktu enam hari, semua kucing mulai melepaskan virus dari hasil swab test hidung tapi berdasarkan tes dari area duburnya tak ditemukan indikasi keberadaan virus.

Pada akhir penelitian terungkap bahwa keenam kucing itu melepaskan virus SARS-CoV-2 melalui saluran pernapasan mereka hingga enam. Namun virus ini tidak bersifat mematikan dan tak menunjukkan gejala mereka sakit hingga mereka terbebas dari COVID-19 sepenuhnya.

Mungkinkan Hewan Bisa Terinfeksi COVID-19

Walau belum ada bukti konkret bahwa virus SARS-CoV-2 memang langsung dapat menginfeksi manusia dengan kucing sebagai carrier-nya tapi para peneliti mengambil kesimpulan penelitian mereka bahwa kucing dapat menjadi inang tanpa gejala untuk COVID-19. “Ini sangat penting mengingat terdapat potensi penularan SARS-CoV-2 antara anggota keluarga dengan kucing yang tinggal bersama dalam kebijakan ‘shelter-in-place’ (#dirumahaja),” tulis para peneliti tersebut di New England Journal of Medicine, sebagaimana dilansir dari cbsnews.com (14/5/2020).

Yoshihiro Kawaoka dan rekannya, Peter Halfman, yang turut memimpin penelitian ini memberikan masukannya untuk para pemilik kucing. Di mana mereka meminta agar Anda tetap menjaga kucing peliharaan di rumah tidak keluar dan sangat meminimalisir kontak antara kucing itu dengan orang lain.


Read More

Artikel Lainnya

UM UndipOK3.jpg

Pendidikan

Tak Lolos SBMPTN 2021? UNDIP Buka Jalur Mandiri Hingga 17 Juni 2021

16 June 2021, 18:06

Ujian Mandiri (UM) UNDIP akan dilaksanakan dengan menggunakan dua macam tes sekaligus, yaitu ujian online dan unggahan portofolio.

pengaruh-media-untuk-anak.jpg

Pendidikan

Perkembangan Anak Akan Terhambat Karena Informasi Tak Seusai Usia

16 June 2021, 16:04

Hal itu mengemuka dalam webinar Eksploitasi Anak Di Media yang dilaksanakan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Medan Area (Fisipol UMA).

jalur-mandiri-unimed.jpg

Pendidikan

Unimed Buka Pendaftaran Mahasiswa Baru Jalur Mandiri

16 June 2021, 15:35

Seleksi Jalur Mandiri merupakan seleksi yang dilakukan oleh PTN secara mandiri berdasarkan hasil ujian tertulis berbasis komputer (CBT) dan penilaian portofolio.

3 Pilar Datangi Kantor di Glodok yang T etap Beroperasi Setelah Pegawainya Positif COVID-19.jpg

Berita Kawasan

3 Pilar Datangi Kantor di Glodok yang Tetap Beroperasi Setelah Pegawainya Positif COVID-19

16 June 2021, 15:03

Unsur tiga pilar di Kelurahan Glodok mendatangi kantor di wilayahnya yang nekat beroperasi setelah empat pegawainya positif COVID-19.


Comments


Please Login to leave a comment.