DEPOK-PENDIDIKAN-LITERASI TIDAK HANYA BEBASKAN BUTA AKSARA-RACHLI-1100 px X 600 px-01.jpg

Pendidikan

Literasi Tidak Hanya Bebaskan Buta Askara

Literasi merupakan suatu upaya bangsa untuk memiliki kemampuan hidup agar mampu bersaing, bahkan melampaui bangsa lain yang lebih maju untuk menciptakan kesejahteraan dunia. Dengan begitu, literasi tidak hanya sekadar upaya suatu bangsa untuk bebas dari buta aksara.

Bangsa dengan budaya literasi tinggi akan menunjukan kemampuan bangsa itu sendiri untuk mempu memenangkan persaingan global yang semakin hari semakin besar tantangannya. Tercatat, pada tahun 2015 lalu angka buta aksara di Indonesia mencapai 5.900.000 juwa dari total penduduk sekitar 260.000.000 jiwa.

Namun, pada tahun 2018, angka tersebut menurun menjadi 3.300.000 jiwa yang belum melek aksara. Pemerintah menargetkan hingga tahun 2019 akan menurunkan jumlah buta aksara di beberapa daerah kantong buta aksara.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, masyarakat Indonesia belum menjadi masyarakat pembelajar. Hal tersebut salah satunya karena masyarakat Indonesia belum menjadi masyarakat membaca.

[Baca Juga: Jauhkan Anak dari Gawai Bersama Klub Buku Nyala Matahari]

“Minat membaca sebenarnya sudah ada, sehingga hanya diperlukan untuk terus menumbuhkannya melalui berbagai upaya,” katanya pada Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) 2019 di kawasan Bojongsari, Depok, seperti dikutip dari kemendikbud.go.id (12/2/2019).

Dengan terbitnya Udang-Undang Nomer 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan, mengamanatkan adanya penguatan sistem perbukuan yang menghasilkan buku bermutu, murah, dan merata, serta menumbuhkembangkan budaya literasi di masyarakat.

Menurut undang-undang tersebut, literasi adalah kemampuan untuk memaknai informasi secara kritis sehingga setiap orang dapat mengakses ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai upaya dalam meningkatkan kualitas hidupnya.

[Baca Juga: Manfaat Literasi untuk Anak Sejak Dini]

Ada enam literasi yang sangat penting dimiliki generasi penerus bangsa saat ini, yakni meliputi literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, serta litersi budaya dan kewarganegaraan.

Enam literasi dasar yang disepakati dalam World Economic Forum pada tahun 2015 itu tidak hanya bagi peserta didik tetapi juga bagi orangtua dan seluruh elemen masyarakat.

Keluarga dalam hal ini orangtua mempuanyai peranan yang sangat besar dalam mengenalkan litersi sejak usia dini. Orangtua bukan hanya wajib mengajarkan anak untuk membaca dan menulis, tapi juga mendorong anak untuk menjadi rajn dan gemar membaca serta mempraktikan hal positif yang didapatnya dalam kehidupan bermasyarakat.

Melihat kondisi arus informasi di dunia digital yang saat ini semakin tidak terbendung bahkan memicu perubahan perilaku masyarakat di bidang komunikasi, bisnis, dan pendidikan. Maka, generasi saat ini perlu dibekali kemampuan literasi digital.

Hal tersebut tentu agar generasi mendatang mampu berpikir kritis, kreatif, dan inovatif. Selain itu, mereka juga akan lebih lancar dalam berkomunikasi dan lebih mampu memecahkan masalah serta lebih mampu berkolaborasi dengan banyak orang.

Read More

Artikel Lainnya

Aman di Masa Pandemi, Terminal Jatijajar Sudah Terapkan Tiket Elektronik .jpg

Berita Kawasan

Aman di Masa Pandemi, Terminal Jatijajar Sudah Terapkan Tiket Elektronik

29 September 2020, 16:08

Salah satu inovasi yang diterapkan di Terminal Jatijajar di masa pandemi seperti sekarang adalah pemberlakukan sistem e-ticketing.

Musim Hujan, Wali Kota Tangerang Persiapkan Langkah Antisipasi Banjir.jpg

Berita Kawasan

Musim Hujan, Wali Kota Tangerang Persiapkan Langkah Antisipasi Banjir

29 September 2020, 15:03

Wali Kota Tangerang memastikan pihaknya sudah mempersiapkan skenario antisipasi terhadap potensi terjadinya banjir akibat musim hujan.

Pemkot Semarang Kejar Target Zona Hijau COVID-19 pada Desember.jpg

Berita Kawasan

Pemkot Semarang Kejar Target Zona Hijau COVID-19 pada Desember

29 September 2020, 14:02

Pemkot Tangerang saat ini tengah bekerja keras untuk mengubah status wilayahnya dari zona orange menjadi zona hijau COVID-19.

Pedagangnya Positif COVID-19, Pasar Ciplak Ditutup Sampai 30 September .jpg

Berita Kawasan

Pedagangnya Positif COVID-19, Pasar Ciplak Ditutup Sampai 30 September

29 September 2020, 13:01

Pasar Ciplak di wilayah Jakarta Selatan disebut ditutup pada pekan ini usai ada pedagang yang positif COVID-19.


Comments


Please Login to leave a comment.