Yayasan Markoding Melatih Coding 87 Siswa Tidak Mampu di Jakarta Timur

Pendidikan

Markoding Melatih Coding 87 Siswa Tak Mampu di Jakarta Timur

Materi coding sistem dalam pendidikan tergabung dalam mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Namun, pada 2013 mata pelajaran TIK dihapuskan dari kurikulum SMA. Pada tahun akademik 2019-2020, siswa SMA dapat mengambil TIK sebagai mata pelajaran opsional. Artinya, siswa tidak wajib mengambil mata pelajaran ini. Bagi siswa tidak mampu, keputusan ini mempersempit kesempatan mereka untuk mengakses pembelajaran coding secara formal di sekolah.

Kondisi ini membuat sekelompok orang bertanya, lalu bagaimana mengatasi kesenjangan akses ke pelajaran ilmu komputer bagi siswa tidak mampu? Yayasan Markoding pun hadir untuk memberikan pelatihan coding bagi siswa tidak mampu. Dibentuk pada 2017, Markoding tahun lalu melatih 87 siswa tidak mampu di Jakarta Timur melalui program pilot dan bekerja sama dengan 20 volunteer mentor-profesional programmer dari startup terkemuka di Indonesia.

[Baca Juga: Siswi Ini Berhasil Membuat Aplikasi untuk Bantu Donor Darah]

Salah satu pendiri Yayasan Markoding Rhita Simorangkir dalam tulisannya di theconversation.com (4/2/2019) mengatakan, siswa dari keluarga mampu cenderung memiliki akses informasi yang lebih baik sehingga mereka cenderung menyadari pentingnya untuk belajar coding untuk masa depan kerja mereka. Bagi siswa tersebut, mereka dapat belajar coding dari kursus privat dan berbagai platform kursus online.

“Sedangkan siswa dari keluarga tidak mampu cenderung tidak menyadari pentingnya belajar coding. Bahkan jika siswa tersebut menyadari pentingnya coding, mereka dihadapi oleh kesulitan yang cukup tinggi untuk mempelajari coding,” tulisnya. Rhita kemudian mencontohkan, seorang siswa yang ikut program Markoding merasa kesulitan terbesar dalam memahami materi yang diberikan adalah kata-kata baru coding yang asing dan dalam bahasa Inggris.

[Baca Juga: Pemanfaatan Teknologi Audio Visual untuk Mendongeng]

Dengan demikian, apakah siswa tidak mampu akan makin tersingkir dari kesempatan kerja di sektor digital? Tergantung dari upaya pemerintah dan masyarakat untuk mengatasi potensi masalah tersebut. Masalah yang lebih besar adalah ketidakcocokan antara kebutuhan industri teknologi dan kualifikasi lulusan sekolah.

Yayasan Markoding Melatih Coding 87 Siswa Tidak Mampu di Jakarta Timur

Atasi Ketidakcocokan Keahlian

Ia menambahkan, setiap tahun setidaknya terdapat 1,2 juta lulusan SMA. Masalah ketidakcocokan keahlian dapat dilihat, salah satunya, dari indikator tingkat pengangguran. Berdasarkan data World Development Indicators 2017, tenaga kerja dengan pendidikan menengah (SMA/ sederajat) memiliki tingkat pengangguran tertinggi di Indonesia (8,37 persen) jika dibandingkan dengan kelompok pendidikan SD-SMP (2,43 persen) dan pendidikan tinggi (4,9 persen).

Melihat ada jarak yang cukup jauh antara dunia kerja sektor teknologi dan kemampuan siswa pendidikan menengah, Yayasan Markoding berusaha mengatasi ketidakcocokan keahlian (skill gap) dengan memberikan pelatihan koding pada siswa tidak mampu.

[Baca Juga: Literasi Digital yang Harus Dikuasai Agar Bisa Bijak Berinternet]

Sebelum pelatihan, terlihat adanya ketidakseimbangan keahlian dasar komputer di sekolah-sekolah di Jakarta. Dari empat sekolah yang menjadi tempat pelatihan Markoding, satu sekolah di wilayah paling marjinal memiliki keahlian dasar komputer yang sangat minim. Sebagai contoh, siswa-siswa di sekolah tersebut kesulitan mengetik di layar komputer atau tidak dapat membuka e-mail.

“Namun, setelah dilatih dan didampingi oleh mentor profesional selama 4 minggu, siswa-siswa di sekolah ini berhasil memperoleh rata-rata nilai tes yang sama dengan 3 sekolah lainnya,” Rhita menjelaskan.

[Baca Juga: IndoSterling Forum Ulas Hubungan Sosial Media dan Politik Milenial]

Menurutnya, coding mendorong siswa untuk membangun keahlian berpikir kritis, sistematis dalam memecahkan masalah, dan melatih berpikir logis. Selain itu, coding tidak hanya mengembangkan kemampuan bahasa pemrograman, tapi juga kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah. Dua kemampuan ini yang dibutuhkan dalam pasar tenaga kerja saat ini dan pada masa depan.

Read More

Artikel Lainnya

Naughty by Nature, Gerai KFC Tematik Pertama di Indonesia.jpg

Kuliner

Naughty by Nature, Gerai KFC Tematik Pertama di Indonesia

23 October 2020, 17:21

Dengan berbagai menu yang tak ditemukan di gerai lainnya, Naughty by Nature hadir sebagai KFC tematik pertama yang ada di Indonesia.

Bioskop di Ibu Kota Sudah Dibuka! Ini Pesan Anggota DPRD DKI dan Menparekraf.jpg

Hobi dan Hiburan

Bioskop di Ibu Kota Sudah Dibuka! Ini Pesan Anggota DPRD DKI dan Menparekraf

23 October 2020, 16:46

Mulai pekan ini, sejumlah bioskop di DKI Jakarta sudah mulai kembali beroperasi namun anggota DPRD DKI dan Menparekraf menitipkan pesannya untuk para pengusaha bioskop.

Kurangi Limbah Plastik, Mahasiswi Unpad Kembangkan Pasta Gigi Ramah Lingkungan.jpg

Pendidikan

Kurangi Limbah Plastik, Mahasiswi Unpad Kembangkan Pasta Gigi Ramah Lingkungan

23 October 2020, 15:39

Empat mahasiswi Unpad berhasil menciptakan pasta gigi ramah lingkungan yang dibuat demi mengurangi limbah plastik yang dipicu pasta gigi konvensional

Antisipasi Banjir, Wali Kota Jakarta Barat Koordinasi Pencegahan Genangan .jpg

Berita Kawasan

Antisipasi Banjir Kebon Jeruk, Pemkot Jakarta Barat Koordinasi Pencegahan Genangan

23 October 2020, 14:37

Sebagai salah satu lokasi yang kerap terjadi banjir, Wali Kota Jakarta Barat gelar koordinasi dengan para pimpinan wilayah Jakarta Barat demi cegah genangan


Comments


Please Login to leave a comment.