Masalah Perempuan di Industri Media, Hak Dilanggar Hingga Jadi Objek

Berita Kawasan

Masalah Perempuan dalam Industri Media: Pelanggaran Hak & Objektifikasi

Meski telah diatur dalam undang-undang, tapi tetap saja masih ditemukan pelanggaran terhadap hak-hak perempuan. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan Perwakilan Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Jakarta Bagian Gender Fadiyah dalam acara konferensi pers Aksi Hari Perempuan Internasional 2020, di Jakarta Pusat (5/3/2020).

Fadiyah mengatakan, pekerja perempuan dan representasi perempuan di media masih menjadi masalah. Pada kasus pekerja perempuan misalnya, dia mengatakan masih banyak hak yang dilanggar, seperti masalah cuti haid.

Masalah Perempuan di Industri Media, Hak Dilanggar Hingga Jadi Objek

“Posisi buruh perempuan di media masih banyak yang dilanggar. Seperti cuti haid banyak di beberapa media yang belum menyediakan cuti haid untuk wartawannya. Belum lagi ada media yang memberikan cuti haid tapi jatuhnya hanya sekali dalam setahun. Jadi disuruh milik dalam setahun mana yang paling sakit,” kata Fadiyah.

Selain cuti haid, jurnalis perempuan juga mengalami masalah dalam cuti melahirkan. Dia mengungkapkan, banyak jurnalis perempuan yang dalam kondisi hamil besar tapi masih melakukan kegiatan liputan di lapangan.

“Banyak wartawan perempuan yang walaupun sudah dalam keadaan hamil besar mereka tetap dipaksakan bekerja ke lapangan.Jadi mereka dalam keadaan hamil delapan bulan mereka masih lari-larian mengejar narasumber dan tidak dimasukkan ke kantor,” terangnya.

[Baca Juga: Ini 6 Tuntutan Aliansi Masyarakat Sipil di Hari Perempuan Internasional]

Persoalan jam kerja dan upah lembur pun menjadi tantangan yang dihadapi oleh jurnalis perempuan. Meski dalam UU Ketenagakerjaan telah diatur waktu kerja delapan jam sehari dan bila lembur mendapat upah, namun pada implementasinya tak sesuai dengan regulasi sebagaimana mestinya.

“Banyak media yang liburnya dalam seminggu hanya satu hai. Belum lagi ditambah dalam satu hari itu jam kerjanya lebih dari dan jam. Dan, tidak ada uang lembur juga menjadi masalah,” paparnya.

Cong-Kawasan-Catcalling--Permasalahan-yang-Kerap-Dialami-Perempuan-di-Jakarta.jpg

Kendala lain yang dihadapi oleh jurnalis perempuan terkait perlindungan saat melakukan peliputan. Dia mengatakan bahwa perlindungan terhadap jurnalis di lapangan belum diakui sebagai bagian dari kecelakaan kerja. Hal ini berdampak ketika jurnalis perempuan mengalami pelecehan seksual di luar kantor yang dianggap tidak masuk dalam perlindungan pekerjaan.

“Semisal saat perempuan melakukan meliput bekerja di lapangan. Ketika mereka mendapatkan pelecehan dari narasumber itu seolah-olah bukan konsekuensi dari pekerjaan.seolah olah itu di luar pekerjaan karena terjadi di luar kantor. Padahal sebenarnya masih dalam lingkup pekerjaan,” jelasnya.

[Baca Juga: Aman Ikut Aksi Hari Perempuan Internasional dengan Alat Pelindung Diri]

Oleh karena itu, menurutnya implementasi UU Ketenagakerjaan belum dijalankan dengan baik. Hal ini pun kian diperparah dengan adanya RUU Cipta Kerja. Menurutnya, bila rancangan legislasi tersebut disahkan, justru akan memperburuk kondisi pekerja.

“Bukan saja memperburuk, juga menghilangkan sejumlah perlindungan hak-hak wartawan,”katanya.

Objektifikasi Perempuan di Media

Pembingkaian perempuan dalam media pun menjadi problem tersendiri. Fadiyah mengatakan bahwa representasi perempuan dalam media acap kali menjadi objek. Hal ini dapat dilihat dalam pemberitaan kasus kekerasan seksual yang dialami perempuan.

”Sering kali dalam kasus kekerasan seksual nama korban diumbar, bukan difokuskan ke pelaku" ungkapnya.

Fadiyah menjelaskan, objektifikasi perempuan dalam media terjadi akibat ruang redaksi media yang masih sangat heteronormatif atau masih didominasi oleh laki-laki. Hal itu berdampak pada pembingkaian atau framing berita yang dibuat menjadi sulit untuk menggunakan perspektif gender yang baik. Kondisi ini pun diperparah dengan tuntutan kerja cepat dan kuota berita yang banyak sehingga berpengaruh terhadap kualitas berita.

“Jadi sebenarnya masalah kesadaran gendernya di ruang redaksi masih kurang ditambah lagi tuntutan yang besar dari perusahaan,” tuturnya.


Read More

Artikel Lainnya

Karedok Jadi Metode Penguatan Literasi untuk Anak Sekolah di Jakarta Utar a.jpg

Pendidikan

Karedok Jadi Metode Penguatan Literasi untuk Anak Sekolah di Jakarta Utara

09 December 2022, 15:51

Pemkot Jakarta Utara memiliki program bernama Karedok yang pada dasarnya menggabungkan kegiatan edukatif seru untuk menguatkan literasi bagi anak-anak sekolah di wilayahnya.

Suasana Kemeriahan Natal 2022 Terlihat di Kota Sol o.jpg

Berita Kawasan

Suasana Kemeriahan Natal 2022 Terlihat di Kota Solo

09 December 2022, 13:49

Sejak awal Desember 2022, suasana perayaan Natal sudah bisa dilihat di Kota Solo dengan lampu-lampu yang menghiasi jalan bahkan dibentuk ala pohon Natal.

Mulai Dijual Hari Ini, Infinix Note 12 2023 Dibanderol dari Rp2,6 Jutaa n.jpg

Bisnis

Mulai Dijual Hari Ini, Infinix Note 12 2023 Dibanderol dari Rp2,6 Jutaan

09 December 2022, 11:46

Infinix Indonesia pada pekan ini secara resmi meluncurkan Note 12 2023 dan sudah bisa dibeli dalam momen first sale pada hari ini 9 Desember 2022.

Cianjur Berduka, Tim Fakultas Keperawatan Unpad Berikan Layanan untuk Korban Gem pa.jpg

Kesehatan

Cianjur Berduka, Tim Fakultas Keperawatan Unpad Berikan Layanan untuk Korban Gempa

08 December 2022, 15:41

Selama tiga hari, relawan dari Fakultas Keperawatan Unpad berada di lokasi posko korban gempa Cianjur untuk memberikan layanan kesehatan fisik dan mental bagi para korban.


Comments


Please Login to leave a comment.