KEBON-JERUK_KAWASAN_MASJID-ANGKE-JADI-CERMINAN-JAKARTA-YANG-MULTIKULTUR_EMIL_REVISI-01.jpg

Berita Kawasan

Masjid Angke Jadi Cerminan Jakarta yang Multikultur

Berbagai bangunan di Jakarta sebenarnya menggambarkan bagaimana sejarah panjang Ibu Kota yang bersifat multikultural. Salah satu contohnya terlihat di sebuah tempat ibadah umat Muslim yang berlokasi di Tambora Jakarta. Tempat ibadah tersebut bernama Masjid Angke.

Masjid Angke yang juga dikenal dengan nama Masjid Al-Anwar berlokasi di Jalan Pangeran Tubagus Angke, Gang Mesjid I, Angke, Tambora, Jakarta Barat. Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua yang ada di kawasan Jakarta dan dari bangunannya sudah terlihat kesan multikultur yang erat dengan sejarah pendirian tempat ibadah umat Islam tersebut.

Sejarah Masjid Angke

Sejarah berdirinya Masjid Angke sebenarnya terdapat dua versi di mana keduanya menggambarkan bagaimana keadaan Jakarta pada era Kolonial Belanda yang dihuni oleh para warga dari multietnis. Sejarah versi pertama pendirian masjid ini berkaitan erat dengan lokasi Masjid Angke yaitu di area Kampung Bali yang kala itu dikenal dengan nama “Kampung Goesti”.

Sekadar informasi, sebagaimana dilansir dari aroengbinang.com, nama ‘Goesti’ di kampung tersebut diambil dari Kapitan Bali bernama Goesti atau Gusti Ketut Badulu yang ditunjuk untuk memimpin area pemukiman itu. Kapitan Bali ini terkenal karena berjuang bersama ratusan pengikutnya melawan tentara Kolonial Belanda di Malabar dan Ternate.

Sesuai dengan tulisan yang berada di pintu Masjid Angke, tempat ibadah umat Muslim itu dibangun pada tahun 1761 dan tepat berada di kawasan pemukiman orang-orang Bali yang kala itu tinggal di Batavia. Sebagaimana dilansir dari Masjid-Masjid Tua di Jakarta, pada pertengahan abad ke-18, masyarakat Bali yang berada di pemukiman tersebut berpindah agama dari Hindu ke Islam. Oleh karena itu, sejumlah pengamat sejarah memandang ada kemungkinan besar orang-orang Bali sebagai pihak yang mendirikan masjid tersebut.

Sedangkan versi kedua dalam pendirian tempat ibadah ini adalah Masjid Angke dibangun oleh mualaf keturunan Tionghoa dan ini tidak terlepas dengan tragedi kelam yang terjadi pada 1740. Tragedi itu dikenal dengan Geger Pecinan yang di mana puluhan ribu warga etnis Tionghoa dibantai oleh pasukan Belanda yang dibantu warga dari etnis lainnya di Batavia.

Sebagian orang-orang Tionghoa yang selamat dari tragedi itu ada yang memilih melarikan diri ke wilayah Angke. Penjelasan ini pun diperkuat oleh pengelola Masjid Angke, Muhammad Abiyan Abdillah. “Menurut cerita sejarah orang-orang tua kita, setelah pembantaian (Geger Pecinan) itu, sebagaian besar mengungsi ke kampung sini (Angke) dan dilindungi oleh penduduk yang sudah ada sebelumnya yaitu orang Hindu Bali dan Muslim,” ujar Muhammad Abiyan Abdillah, sebagaimana dikutip dari BBC.com.

Kemudian lambat laun, ada sejumlah warga etnis Tionghoa di kawasan Kampung Bali yang akhirnya memutuskan menjadi mualaf dan salah satunya adalah Nyonya Tan Nee Oey (dibaca Nio) yang menikah dengan pria Banten. Ia disebut sebagai orang yang memprakarsai pendirian Masjid Angke. Nyonya Tan Nee Oey tidak sendiri dalam pembangunan masjid di Tambora Jakarta tersebut. Dirinya dibantu oleh Syaikh Liong Tan yang menjadi arsitek Masjid Angke atau Masjid Al-Anwar.

Secara bentuk, eksterior dari Masjid Angke sudah mencerminkan pengaruh multikultur yang kuat. Arsitektur utamanya memiliki bentuk yang serupa dengan masjid-masjid tua di Jawa namun berbagai pengaruh budaya lain pun menghiasi masjid ini.

Pengaruh budaya lain di masjid yang berlokasi di Tambora Jakarta itu terlihat di beberapa titik. Dengan contoh di penutup jendelanya yang memiliki aksen ala kebudayaan Bali. Kemudian hiasan di atap ujung Masjid Angke juga mendapatkan pengaruh dari motif ukir Bali yang dikenal dengan nama “punggel”. Lalu ujung atap melengkung di masjid tersebut menyerupai desain atap rumah tradisional Tinghoa dan terakhir pengaruh Belanda terlihat dari pintu utama masjid serta ornamen di jendela.

Read More

Artikel Lainnya

Dari Candaan Istri Wali Kota Jakbar, Warga Kampung Tanjung Duren Miliki Septic Tank

Berita Kawasan

Begini Asal Muasal Warga Kampung Tanjung Duren Miliki Septic Tank

19 November 2019, 09:00

Istri Wali Kota Jakarta Barat tak menyangka gurauannya yang mengangkat isu kampung di Tanjung Duren Utara yang tidak memiliki septic tank menjadi viral.

Inspirasi Nama Anak Indonesia Seunik Lembah Manah, Cucu Jokowi

Berita Kawasan

Inspirasi Nama Anak Indonesia Seunik Lembah Manah, Cucu Jokowi

19 November 2019, 08:00

Nama anak dari bahasa Indonesia sedang naik daun beberapa tahun belakangan ini. seperti Lembah Manah, berikut beberapa pilihan nama anak yang unik.

Lauv Siap Meriahkan Istora Senayan pada Juni 2020

Berita Kawasan

Lauv Siap Meriahkan Istora Senayan pada Juni 2020

18 November 2019, 20:00

Penyanyi ternama asal Amerika Serikat Lauv akan menggelar konser di Istora Senayan pada tahun depan dalam rangka promosi album perdananya.

Kisah #AksiHidupBaik Sang Inisiator Penghijauan Kelurahan Karang Anyar

Berita Kawasan

Kisah #AksiHidupBaik Sang Inisiator Penghijauan Kelurahan Karang Anyar

18 November 2019, 19:00

Euis Kurniawati adalah salah satu nominasi Ibu Ibukota Awards Bidang Pelestarian Lingkungan. Simak #AksiHidupBaik yang dilakukannya di sini.


Comments


Please Login to leave a comment.