ads
KEBON-JERUK_KAWASAN_MASJID-LANGGAR-TINGGI-TEMPAT-IBADAH-BERSEJARAH-DI-PEJOKAN_EMIL_REVISI-01.jpg

Berita Kawasan

Masjid Langgar Tinggi, Tempat Ibadah Bersejarah di Pekojan

Pekojan merupakan salah satu area yang berada di Kecamatan Tambora, Jakarta Barat dan kelurahan ini terkenal sebagai salah satu kawasan bersejarah di Jakarta. Namun di area yang berjarak 6,7 kilometer dari Central Park Jakarta ini, ternyata terdapat sebuah masjid yang menjadi saksi bisu perkembangan kawasan tersebut dari era Kolonial Belanda hingga saat ini. Masjid itu bernama Masjid Langgar Tinggi.

Sebelum membahas Masjid Langgar Tinggi, ada baiknya bila Anda mengetahui wilayah Pekojan terlebih dahulu. Walau saat ini mayoritas warga yang tinggal di Pekojan adalah orang-orang keturunan Tionghoa tapi dahulu yang tinggal di wilayah adalah orang-orang keturunan Arab yang memiliki hubungan erat dengan keberadaan Masjid Langgar Tinggi.

Ketika era Jakarta masih bernama Batavia, wilayah Pekojan dikenal dengan nama ‘Kampung Arab’. Saat itu mayoritas penduduknya adalah imigran yang berasal dari Hadramaut (saat ini Yaman) dan Masjid Langgar Tinggi merupakan peninggalan orang-orang di Kampung Arab tersebut.

Sejarah Masjid Langgar Tinggi

Masjid Langgar Tinggi saat ini menjadi salah satu warisan bersejarah di Jakarta. Nama ‘langgar’ pada Masjid Langgar Tinggi ini sebenarnya bermakna musala. Jadi menurut banyak cerita pada awal pendiriannya, tempat ibadah ini ditujukan sebagai musala bukan masjid karena berdiri di atas sebuah penginapan yang berlokasi dekat Kali Angke.

Sebagaimana dilansir dari jakarta-tourism.go.id, pada abad ke-19, Kali Angke menjadi jalur perdagangan para pedagang keluar masuk ke Batavia. Selain pedagang, para saudagar juga kerap menggunakan Kali Angke sebagai akses transportasi mereka. Salah satu saudagar tersebut bernama Abu Bakar Shihab. Saudagar Muslim asal Yaman itu pun melihat terdapat potensi ekonomi dari hilir-mudik di Kali Angke dan Kampung Arab.

[Baca Juga : Indahnya Masjid Kubah Emas di Depok]

Abu Bakar Shihab pun akhirnya memutuskan untuk mendirikan sebuah penginapan dengan musala atau langgar di lantai atasnya. Inilah cikal bakal Masjid Langgar Tinggi. Pada masa awal perkembangannya, penginapan itu sering digunakan sebagai tempat bersandarnya perahu dan rakit para pedagang yang berasal dari kawasan Tangerang.

Perombakan langgar tersebut baru terjadi pada November 1833 oleh seorang saudagar kaya yang juga menjabat sebagai Kapitan Arab di Pekojan bernama Syekh Sa’id Na’um atau Sa’id bin Salim Na’um Basalamah. Sebutan Kapitan Arab merupakan posisi yang diberikan oleh Pemerintah Hindia Belanda kepada orang terpandang yang bertugas memimpin warga keturunan Arab.

Berdasarkan informasi di buku Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta karya Adolf Heuken (1997), Syekh Sa’id Na’um diberikan wewenang untuk mengurus tanah wakaf milik Syarifah Mas’ad Barik Ba’alwi. Di mana salah satunya adalah tanah tempat berdirinya Masjid Langgar Tinggi dan Syekh Sa’id Na’um pun memanfaatkannya dengan melakukan perluasan terhadap tempat ibadah di Kampung Arab tersebut.

Masjid Langgar Tinggi Saat Ini

Masjid Langgar Tinggi sudah mengalami beberapa kali renovasi. Namun tempat ibadah bersejarah ini masih memiliki bentuk arsitektur yang serupa dengan bangunan-bangunan era Kolonial Belanda, khususnya terlihat di bagian tembok dan gentingnya yang memiliki paduan arsitektur Eropa, Tionghoa dan Jawa.

Berdasarkan keterangan di Aroengbinang.com, saat ini penginapan yang berada di bawah Masjid Langgar Tinggi telah dialihfungsikan sebagai pertokoan. Kabarnya, toko-toko tersebut masih dikelola oleh keturunan Abu Bakar Shihab yang notabene pemilik penginapan tempat berdirinya Masjid Langgar Tinggi.

[Baca Juga : Mengulas Perkembangan Masjid Bersejarah di Kawasan Tebet]

Pendangkalan Kali Angke juga menyebabkan perubahan terhadap Masjid Langgar Tinggi. Pasalnya, akses utama yang dulu digunakan para pengunjung untuk masuk penginapan dan langgarnya terpaksa ditutup karena semakin kotornya sungai Kali Angke. Selain untuk wisata religi, Masjid Langgar Tinggi juga cocok untuk dijadikan lokasi eduwisata yang bisa Anda kunjungi.

Bila ingin mengunjungi masjid bersejarah yang berjarak 6,7 kilometer dari Central Park Jakarta ini, ada baiknya Anda menggunakan angkutan umum seperti ojek online agar tidak perlu memikirkan lokasi parkir sembari menikmati suasana di area dekat Masjid Langgar Tinggi.

ads
ads
ads

Artikel Lainnya

Perhatikan Hal ini Ketika Membuat Taman di Rumah.jpg

Properti dan Solusi

Perhatikan Hal ini Ketika Membuat Taman di Rumah

20 February 2019, 4 a.m.  |  12 Views

Banyak manfaat miliki taman di halaman rumah. Taman memberikan sirkulasi udara yang baik. Memandanginya juga baik untuk mata lelah.

Eka Kurniawan Jaga Kesehatan dengan Bersepeda.jpg

Kesehatan

Eka Kurniawan Jaga Kesehatan dengan Bersepeda

20 February 2019, 5 a.m.  |  29 Views

Mengetik berjam-jam di depan layar komputer dapat mengganggu kesehatan. Sastrawan Eka Kurniawan mengatasinya dengan rajin bersepeda.

Ngopi Instagramable di Serpong 1.jpg

Kuliner

4 Tempat Ngopi Instagramable di Serpong

20 February 2019, 3 a.m.  |  12 Views

Secangkir kopi panas jadi kenikmatan hakiki yang tak terbantahkan. Tak ayal, tempat ngopi juga hadir dengan interior instagramable.

Taman Bacaan Inovator.jpg

Pendidikan

Taman Baca Inovator Lahir Atas Nama Literasi

19 February 2019, 4 a.m.  |  48 Views

Gerakan taman bacaan mungkin sudah banyak ditemukan. Namun, Yayasan Taman Baca Inovator punya sentuhan berbeda.


Comments

Please Login to leave a comment.

ads