ads
MATRAMAN_KAWASAN_SEJARAH PASAR HEWAN JATINEGARA_EMIL-01.jpg

Berita Kawasan

Meester Cornelis dan Pasar Hewan Jatinegara

Terlepas pro dan kontra reputasi yang kerap diberitakan di Pasar Hewan Jatinegara, tempat ini berada di salah satu lokasi bersejarah yang ada di DKI Jakarta. Pasalnya, tempat jual-beli binatang dan perlengkapannya itu berada di area Pasar Jatinegara yang erat hubungannya dengan sosok pendirinya yang dipanggil “Meester Cornelis”.

Meester (dibaca mister atau tuan) Cornelis terlahir bernama Cornelis Senen. Ia berasal dari keluarga terpandang keturunan portugis dari Selamon di Pulau Lontar, Kepulauan Banda. Pria yang lahir di tahun 1600-an itu datang ke Batavia pada 1621 usai ia diasingkan ketika wilayah sekitar tempat lahirnya mulai diduduki oleh VOC atau Vereenigde Oostindische Compagnie.

Saat sampai di area Batavia, Cornelis pun ikut tinggal di area yang mayoritas masyarakatnya berasal dari Kepulauan Banda, yaitu Kampung Bandan. Ketika berada di sana, Cornelis memilih berprofesi sebagai guru agama Kristen dan lambat laun, dan dihormati hingga dipandang sebagai seorang tokoh masyarakat.

Cornelis pertama kali membuka sekolah untuk anak Pribumi di Jakarta pada 1632. Saat memberikan ceramah, ia menggunakan bahasa Melayu serta Portugis dan Cornelis pun kerap disapa Meester yang saat itu dimaknakan dengan citranya sebagai guru atau tuan yang bijaksana.

Selain menjadi guru, Cornelis juga mendapatkan tugas untuk memberikan pelayanan rohani bagi orang-orang yang merdeka (mantan budak) serta Portugis. Menjadi pengawas calon-calon baptis dan menguji guru pun diemban oleh pria itu.

Walau memiliki citra yang baik, Cornelis tidak pernah dijadikan pendeta resmi dan hanya mendapatkan gelar calon pendeta saja. Padahal saat itu, ia lulus ujian sebagai pendeta dan mendapatkan dukungan dari Gubernur Jendera Hindia Belanda. Terdapat indikasi penolakan ini memiliki hubungan dengan asal muasal Cornelis yang bukan merupakan orang Belanda.

Karena memiliki citra terpandang, Cornelis pun dipercaya sebagai seorang wijkmeester atau “kepala kampung” di Kampung Bandan. Saat itu, pihak pemerintahan kolonial memberikan izin kepada Cornelis untuk membuka lahan di tepi Sungai Ciliwung dan menebang kumpulan pohon jati yang ada di sana.

Sayangnya, kepemilikan wilayah itu baru diberikan kepada Cornelis saat itu mengembuskan napas terakhirnya di tahun 1661. Wilayah tersebut (kini Jatinegara) akhirnya mendapatkan nama panggilan “Meester Cornelis” oleh warga Batavia yang mengacu kepada nama sang tuan guru. Area Meester Cornelis sempat mengalami pengembangan pada awal abad ke-18. Saat itu pihak pemerintahan Kolonial Belanda membangun jalan dari pusat Kota Batavia ke sana sehingga pemukiman pun berkembang hingga tahun 1706 muncullah Pasar Kamis (karena dibuka setiap hari Kamis).

Pasar Kamis inilah yang akhirnya menjadi bibit Pasar Jatinegara yang mencakup wilayah Pasar Hewan Jatinegara. Ketika pasar itu semakin meluas dan ramai namanya pun diganti. Pasar ini pun akhirnya diberi nama memiliki nama Meester Passer (Pasar Meester) atau Pasar Lama Jatinegara dan berada di wilayah kabupaten bernama Meester Cornelis pada era penjajahan Belanda. Saat itu wilayah kabupaten tersebut mencakup area Bekasi, Cikarang, Matraman dan Kebayoran.

Namun, nama Meester Cornelis pun mengalami perombakkan ketika masa pendudukan Jepang dan dirombak dengan nama Jatinegara. Diklaim bahwa nama itu dipilih karena keberadaan pohon jati yang terbilang banyak dan masih memenuhi wilayah tersebut pada era pendudukan Negeri Sakura di Tanah Air.

Terdapat juga klaim bahwa nama Jatinegara sudah digunakan oleh Pangeran Ahmad Jayakarta ketika ia mendirikan pemukiman Jatinegara Kaum yang berlokasi di wilayah Pulo Gadung. Pada versi ini, nama Jatinegara memiliki makna “negara sejati”.

Itulah benang merah yang menghubungkan antara sosok seorang “tuan guru” dengan Pasar Hewan Jatinegara. Sejarah ini memperlihatkan bagaimana peran Cornelis yang bukan merupakan seorang warga asli Jakarta dapat membantu perkembangan Ibu Kota hingga namanya pun diabadikan sebagai tempat pusat ekonomi di Jakarta Timur.

ads
ads
ads

Artikel Lainnya

Perhatikan Hal ini Ketika Membuat Taman di Rumah.jpg

Properti dan Solusi

Perhatikan Hal ini Ketika Membuat Taman di Rumah

20 February 2019, 4 a.m.  |  4 Views

Banyak manfaat miliki taman di halaman rumah. Taman memberikan sirkulasi udara yang baik. Memandanginya juga baik untuk mata lelah.

Eka Kurniawan Jaga Kesehatan dengan Bersepeda.jpg

Kesehatan

Eka Kurniawan Jaga Kesehatan dengan Bersepeda

20 February 2019, 5 a.m.  |  7 Views

Mengetik berjam-jam di depan layar komputer dapat mengganggu kesehatan. Sastrawan Eka Kurniawan mengatasinya dengan rajin bersepeda.

Ngopi Instagramable di Serpong 1.jpg

Kuliner

4 Tempat Ngopi Instagramable di Serpong

20 February 2019, 3 a.m.  |  4 Views

Secangkir kopi panas jadi kenikmatan hakiki yang tak terbantahkan. Tak ayal, tempat ngopi juga hadir dengan interior instagramable.

Taman Bacaan Inovator.jpg

Pendidikan

Taman Baca Inovator Lahir Atas Nama Literasi

19 February 2019, 4 a.m.  |  48 Views

Gerakan taman bacaan mungkin sudah banyak ditemukan. Namun, Yayasan Taman Baca Inovator punya sentuhan berbeda.


Comments

Please Login to leave a comment.

ads