PIK_KAWASAN_MELIRIK SEJARAH CHINA TOWN GLODOK_EMIL_REVISI 01-01.jpg

Berita Kawasan

Melirik Sejarah Chinatown Glodok

Wajah DKI Jakarta kerap mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Namun walau seperti itu, beberapa area di Jakarta acap kali tidak disentuh pengembangan demi menjaga bentuk aslinya yang kemudian dijadikan sebagai situs budaya Ibu Kota. Salah satu area yang mengalami kondisi ini adalah Glodok atau yang juga dikenal dengan nama Chinatown Glodok.

Di era modern ini, kawasan Glodok yang masuk ke Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat dikenal sebagai sentra penjualan elektronik. Jadi tak heran jika banyak orang yang berasal dari luar kota, sengaja datang ke Glodok untuk mencari barang elektronik yang mereka inginkan. Hal ini biasanya dipengaruhi dengan harganya yang lebih terjangkau dari pada di tempat lain serta adanya budaya tawar menawar antara penjual dan pembeli.

Namun bila Anda sedikit berjalan dan berkeliling kawasan Glodok maka suasana pecinan dari area ini pun sangat terasa. Dari mayoritas warganya, bentuk bangunannya, hingga berbagai jenis kulinernya sangat mendukung dengan panggilan Chinatown Glodok yang melekat dengan area ini. Namun, bagaimana nama ini muncul? Untuk mengetahuinya, maka kita perlu menarik benang merah ketika Jakarta masih di bawah kolonialisasi Belanda.

Muncul Nama Glodok

Sebenarnya terdapat dua informasi mengenai asal-usul munculnya nama Glodok di area pecinan ini. Pertama adalah nama ini berasal dari bahasa Sunda yaitu “Golodog”. Kata ini bermakna pintu masuk rumah karena area Sunda Kelapa dipandang sebagai pintu masuk ke area Kerajaan Sunda. Sebelum menjadi pecinan, Glodok disinyalir sempat menjadi tempat bermukimnya orang Sunda karena itulah nama ini bisa melekat dengan area tersebut.

Asal usul kedua dari nama Glodok adalah karena suara air pancuran yang berdiri di halama Balai Kota (Stadhuis) yang saat ini menjadi Museum Jakarta. Sinar Harapan mewartakan, pancuran air itu dibangun pada tahun 1743 dan kerap digunakan sebagai tempat minum kuda. Air yang keluar dari pancuran ini pun sering mengeluarkan suara “grojok..grojok”. Namun karena ejaan dari para warga Pribumi, mereka pun memanggil pancuran itu dengan sebutan Glodok. Sejak itulah mereka mengenal kawasan Jakarta Kota sebagai “Glodok Pancoran”.

Sejarah Glodok (1700-1740)

Ketika Pemerintah Kolonial Belanda berada di Jakarta yang saat itu masih bernama Batavia, mereka memicu datangnya para imigran dari berbagai negara. Hal ini disebabkan karena terbukanya kesempatan untuk membangun usaha di Batavia.

Ini yang membuat ribuan warga Tionghoa datang ke pulau Jawa dan hal tersebut menciptakan permasalahan tersendiri. Pasalnya, pada tahun 1700-an, Pemerintah Kolonial Belanda mengeluarkan peraturan pengetatan terhadap gelombang imigran dari China dan acap kali mendeportasi mereka keluar dari Batavia. Hal inilah juga yang mengakibatkan pergesekan antara pribumi bersama tentara Hindia Belanda dengan para imigran dari China. Sebagaimana dikutip dari Indonesia.travel, pergesekan ini diperparah pada 1720 ketika harga gula dunia menurun 50 persen akibat peningkatan kompetisi dan ekspor dari Hindia Barat. Hal ini sangat mempengaruhi ratusan imigran asal China di Batavia yang mayoritasnya berprofesi sebagai buruh pabrik gula. Pada 7 Oktober 1740, ratusan warga Tionghoa pun melakukan unjuk rasa yang berakhir dengan tewasnya 50 tentara Belanda.

Berdasarkan tulisan di buku berjudul “Indonesia” yang ditulis Patrick Witton, insiden tersebut kemudian memicu terjadinya tragedi pembantaian Batavia 1740 atau yang dikenal juga dengan nama “Geger Pecinan”. Pembantaian ini dilakukan oleh tentara Hindia Belanda bersama kaki tangannya yang berasal dari warga pribumi dengan menargetkan para warga Tionghoa yang tinggal di kawasan Batavia.

Setidaknya tragedi ini menyebabkan 10 ribu warga Tionghoa tewas. Sebagaimana dikutip dari buku Tionghoa dalam Pusaran Politik, tentara Hindia Belanda kemudian memindahkan para warga Tionghoa yang selamat dari pembantaian itu ke pecinan atau chinatown yang berada di luar tembok Batavia dan kawasan inilah yang sekarang dikenal dengan nama Glodok. Tujuan pemindahan saat itu adalah agar Pemerintah Hindia Belanda dapat mengawasi pegerakan warga Tionghoa.

Karena itulah kawasan Glodok pun menjadi area pecinan yang hingga kini masih dipertahankan suasananya. Area yang dikenal dengan Chinatown Glodok ini, juga kerap didatangi para wisatawan dari luar atau pun dalam negeri. Mereka datang karena keunikan tersendiri dari Glodok yang mencerminkan perkembangan warga etnis Tionghoa di Jakarta.

Read More

Artikel Lainnya

Lagu Kembali Ke Awal Ciptaan Glen Fredly Jadi Soundtrack Film Twivortiare

Berita Kawasan

Kembali Ke Awal Karya Glen Fredly Jadi Soundtrack Film Twivortiare

19 July 2019, 21:00  |  10 Views

Setelah merilis lagu Orang Biasa, Glen Fredly kembali merilis single Kembali ke Awal yang juga dijadikan sebagai original soundtrack film Twivortiare dari rumah produksi MD Pictures.

TP PKK Bina Kesehatan Keluarga di Tangerang

Berita Kawasan

Tim Penggerak PKK Bina Kesehatan Keluarga di Tangerang

19 July 2019, 20:00  |  8 Views

PKK memberikan segala macam informasi mulai dari hidup tertib dan teratur, standar gizi dan wawasan kesehatan.

Nilai Transaksi di IFRA 2019 Capai Rp793 Miliar

Bisnis

Nilai Transaksi di IFRA 2019 Capai Rp793 Miliar

19 July 2019, 19:00  |  7 Views

Nilai transaksi yang dicapai membuat panitia IFRA 2019 semakin optimistis dalam membatu memajukan industri franchise Indonesia melalui pameran berkualitas.

Asian Development Tour Siap Digelar di Gunung Geulis Golf

Berita Kawasan

Asian Development Tour Siap Digelar di Gunung Geulis Golf

19 July 2019, 18:00  |  7 Views

Turnamen golf Asian Development Tour akan diikuti 144 pegolf dari hampir 20 negara. Turnamen golf internasional ini berhadiah senilai total 75.000 USD.


Comments


Please Login to leave a comment.