MENDALAMI PENDIDIKAN SEJARAH PERJUANGAN INDONESIA LAWAN PKI DI CIPAYUNG

Pendidikan

Mendalami Sejarah Perjuangan Indonesia Pertahankan Pancasila

Perjalanan panjang Nusantara dalam mempertahankan status Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI sebenarnya sudah diajarkan kepada buah hati Anda di pelajaran sekolah khususnya memasuki usia SMP atau SMA. Namun pendidikan sejarah juga penting dilakukan dengan mendatangi langsung lokasi seperti monumen atau museum agar mereka lebih dapat mengerti bagaimana pentingnya peran para pejuang. Salah satu tempat yang bisa digunakan untuk pendidikan sejarah tersebut berlokasi di Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta.

Tempat tersebut bernama Monumen Pancasila Sakti. Monumen ini berdiri di area yang memiliki luas tanah 14,6 hektar dan menjadi bentuk penghormatan serta demi mengingat perjuangan para Pahlawan Revolusi yang rela gugur demi mempertahankan ideologi Pancasila di Indonesia dari ideologi komunis yang disebarkan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pelajaran mengenai Pancasila sebenarnya mulai masuk ke dalam kurikulum sekolah. Namun, Anda dapat mulai mengenalkannya kepada buah hati secara personal agar dapat menghargai perjuangan para pahlawan serta menumbuhkan rasa nasionalisme dalam diri mereka dengan mengunjungi Monumen Pancasila Sakti.

Monumen ini berlokasi di Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur yang dibangun berdasarkan prakarsa mantan Presiden Indonesia, Soeharto. Pembangunan monumen ini tidak terlepas dari keinginan beliau agar bangsa Indonesia, khususnya generasi muda, tidak melupakan perjuangan tujuh Pahlawan Revolusi. Para pahlawan itu terdiri dari Jenderal Ahmad Yani, Mayjen TNI R. Suprapto, Mayjen TNI M.T Haryono, Mayjen TNI Siswondo Parman, Brigjen TNI DI Panjaitan, Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo dan Perwira TNI Lettu Pierre Tendean.

Lantas apa saja yang bisa dijadikan sebagai acuan pendidikan sejarah di tempat ini? Berikut ini beberapa tempat yang ada di kompleks Monumen Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya, Ciracas yang dapat menjadi acuan tersebut:

Mempertahankan Pancasila

Di museum ini terdapat diorama yang menggambarkan berbagai peristiwa pergerakan PKI. Dari mulai gerakan mereka saat revolusi kemerdekaan hingga tragedi tahun 1965.

Sebagaimana dilansir dari situsbudaya.id, diorama-diorama penting yang ada di sini terdiri dari diorama rapat persiapan pemberontakan PKI, latihan sukarelawan PKI di Lubang Buaya, Penculikan Jenderal Ahmad Yani hingga proses lahirnya Supersemar. Di sini juga terdapat foto-foto yang menggambarkan peristiwa 30 September 1965, salah satunya adalah proses pengangkatan jenazah para Pahlawan Revolusi.

Pembuangan Jenazah Pahlawan Revolusi

Tempat ini juga merupakan lokasi pembuangan jenazah para Pahlawan Revolusi. Terdapat sumur yang dikenal dengan nama Lubang Buaya ini memiliki tulisan yang sangat penting demi menumbuhkan rasa nasionalitas. Tulisan itu berbunyi, “Cita-cita perjuangan kami untuk menegakkan kemurnian Pancasila tidak mungkin dipatahkan hanya dengan mengubur kami dalam sumur ini.”

Usut punya usut, sebelum menjadi Sumur Maut, tempat ini ternyata menjadi sumber air para warga setempat. Sebagaimana dilansir dari okezone.com, Perwira Seksi Pembimbingan Informasi Monumen Pancasila Sakti menjelaskan bahwa Sumur Maut itu milik keluarga Bambang Haryono yang awalnya digunakan para warga untuk mengambil air.

Rumah Lokasi Pos Komando

Di kompleks Monumen Pancasila Sakti juga terdapat sebuah rumah yang dikatakan sebagai lokasi PKI ketika merencanakan penculikan para pahlawan revolusi tersebut. Saat itu yang memimpin rapat perencanaan tersebut adalah Letkol Untung.

Rumah yang berada di Lubang Buaya, Cipayung tersebut juga dikenal dengan nama Pos Komando. Kondisi rumah ini dijaga sedemikian rupa agar tidak berubah karena menjadi cagar budaya. Dari mulai petromaks, lemari kaca sampai mesin jahit yang ada di sana masih terjaga kondisinya seperti ketika terjadi peristiwa 30 September 1965.

Itulah sejumlah tempat yang Anda bisa kunjungi bersama buah hati yang beranjak remaja di Monumen Pancasila Sakti. Karena dengan kunjungan tersebut, mereka akan dapat lebih menghargai sejarah perjuangan para pahlawan dibandingkan hanya sekadar belajar melalui buku pelajaran.

Read More

Artikel Lainnya

Lagu Kembali Ke Awal Ciptaan Glen Fredly Jadi Soundtrack Film Twivortiare

Berita Kawasan

Kembali Ke Awal Karya Glen Fredly Jadi Soundtrack Film Twivortiare

19 July 2019, 21:00  |  10 Views

Setelah merilis lagu Orang Biasa, Glen Fredly kembali merilis single Kembali ke Awal yang juga dijadikan sebagai original soundtrack film Twivortiare dari rumah produksi MD Pictures.

TP PKK Bina Kesehatan Keluarga di Tangerang

Berita Kawasan

Tim Penggerak PKK Bina Kesehatan Keluarga di Tangerang

19 July 2019, 20:00  |  8 Views

PKK memberikan segala macam informasi mulai dari hidup tertib dan teratur, standar gizi dan wawasan kesehatan.

Nilai Transaksi di IFRA 2019 Capai Rp793 Miliar

Bisnis

Nilai Transaksi di IFRA 2019 Capai Rp793 Miliar

19 July 2019, 19:00  |  7 Views

Nilai transaksi yang dicapai membuat panitia IFRA 2019 semakin optimistis dalam membatu memajukan industri franchise Indonesia melalui pameran berkualitas.

Asian Development Tour Siap Digelar di Gunung Geulis Golf

Berita Kawasan

Asian Development Tour Siap Digelar di Gunung Geulis Golf

19 July 2019, 18:00  |  7 Views

Turnamen golf Asian Development Tour akan diikuti 144 pegolf dari hampir 20 negara. Turnamen golf internasional ini berhadiah senilai total 75.000 USD.


Comments


Please Login to leave a comment.