8. Teknik Menyunting Berita

Bisnis

Mendorong Posisi Perempuan di Media Lewat Penguatan Soft Skill

Upaya membangun kesetaraan gender dalam dunia kerja masih menjadi aral bagi pekerja perempuan. Tak terkecuali, para perempuan yang bekerja di industri media.

Sejumlah riset menunjukkan adanya diskriminasi yang dialami oleh para pekerja perempuan yang berkarier di media, termasuk para jurnalisnya. Seperti hasil riset yang dilakukan Women’s Media Center tahun 2019 misalnya, yang menunjukkan bahwa 63 persen siaran berita utama atau prime time news dibawakan oleh presenter laki-laki. Sedangkan presenter perempuan yang mereportase berita utama hanya 37 persen.

Hasil riset tersebut juga menunjukkan jurnalis perempuan cenderung lebih banyak ditugaskan untuk meliput isu kesehatan, gaya hidup dan wisata. Sedangkan jurnalis pria lebih banyak meliput seputar olahraga, teknologi dan berita internasional dan politik. Setidaknya, 90 persen jurnalis laki-laki meliput isu olahraga. Hanya 10 persen jurnalis perempuan yang ditugaskan meliput isu olahraga.

Mendorong Posisi Perempuan di Media Lewat Penguatan Soft Skill

Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Unika Atmajaya Jakarta Adinda Dwifatma mengatakan, hal ini menunjukkan adanya ketidaksetaraan gender yang dialami oleh jurnalis perempuan. Menurutnya, hal tersebut terjadi akibat adanya privatisasi perempuan.

“Meskipun perempuan jadi jurnalis tetap diberinya ranah yang privat atau topik yang cewek banget kayak lifestyle dan entertainment. Hal-hal yang dalam tanda kutip kurang serius. Sementara untuk isu international news, politik, ekonomi itu ranahnya cowok,” kata Adinda, saat ditemui jurnalis PingPoint.co.id usai mengisi acara Diskusi Mendorong Posisi Perempuan di Media, Jakarta (11/3/2020).

Dita mengatakan, urusan perempuan acap kali ditempatkan di ranah-ranah privat. Padahal, setiap jurnalis memiliki kompetensi pada bidangnya masing-masing. Oleh karenanya, menurut Dita jurnalis perempuan pun juga memiliki kompetensi untuk bidang politik dan ekonomi.

Minim Jadi Pemimpin

Dita juga memaparkan, belum banyak jurnalis perempuan yang duduk sebagai pengambil kebijakan. Hal tersebut sebagaimana berdasarkan FGD yang dilakukan oleh PPMN terhadap pemimpin redaksi perempuan.

“Jadi fenomenanya seperti ini, waktu di level reporter, mungkin jumlah perempuannya seimbang, tetapi ketika naik ke level pemimpin redaksi, itu kemudian berkurang, akhirnya banyak yang cowok di level yang tinggi,” paparnya.

Tantangan dalam dunia jurnalistik ini turut dirasakan oleh Pemimpin Redaksi Harian Kompas Ninuk Pambudy. Hal ini berdasarkan pengalamannya saat mengawali karir sebagai jurnalis. Kala itu, Ninuk menjadi jurnalis saat dekade tahun 80’an.

[Baca Juga: Masalah Perempuan dalam Industri Media: Pelanggaran Hak & Objektifikasi]

Pada waktu itu, rezim Orde Baru menciptakan stereotip bahwa perempuan itu ibu rumah tangga yang melayani suami. Hal ini berdampak pada sistem kerja yang cenderung maskulin, seperti jam kerja yang tidak teratur dan larut malam.

“Jadi memang ada banyak tantangan-tantangan karena pekerjaannya sendiri sifatnya maskulin. Kalau dalam arti kata jam kerjanya,” kata Ninuk.

Bias gender pun juga terjadi pada bingkai atau framing pemberitaan media. Dita mengatakan, perempuan sering kali menjadi objek dalam pemberitaan sehingga konten yang disajikan diskriminatif dan seksis.

Mendorong Posisi Perempuan di Media Lewat Penguatan Soft Skill

“Penyebabnya karena struktur yang menganggap perempuan menarik sebagai objek. Jadi kalau ada politisi atau polisi yang berprestasi, kalau dia perempuan pasti akan disebut, seperti sudah jago cantik lagi. Sudut pandang seperti itu tidak akan terjadi kalau beritanya laki-laki,” kata Dita.

Adapun salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mendorong posisi perempuan di Media yakni dengan penguatan soft skill. Board of News Director CNN Indonesia TV Desi Anwar mengatakan, perlu adanya penguatan soft skill, seperti komunikasi, kolaborasi dan empati. Penguatan soft skill ini utamanya perlu dilakukan pada laki-laki karena menurutnya, laki-laki cenderung mempunyai ego karena status yang dimilikinya.

[Baca Juga: Netflix dan UN Women Luncurkan Film 55 Perempuan Hebat]

“Saya melihat apa yang terjadi sekarang itu biasanya bukan pada perempuan, tapi lebih laki-laki. Mungkin karena budaya, tekanan sosial, kebiasaan atau dari sistem hierarki kekeluargaan atau dari segi politik dan sebagainya,” jelasnya.

Hal yang senada juga diutarakan oleh Ninuk. Ninuk menambahkan, pendidikan jurnalistik menjadi salah satu cara untuk membangun kesetaraan gender bagi jurnalis agar membuat konten berita yang tidak bias gender.

“Saya sepakat peran penting pendidikan penting sekali dan harus dimulai dari rumah dan lembaga-lembaga media dalam membuat konten juga harus diperhatikan,” kata Ninuk.


Read More

Artikel Lainnya

Hadirkan Menu Desserts di Cabang Gandaria City, Fore Coffee Gandeng Oma Ell y.jpg

Kuliner

Hadirkan Menu Desserts di Cabang Gandaria City, Fore Coffee Gandeng Oma Elly

07 December 2022, 16:31

Fore Coffee baru-baru ini mengumumkan menu pendamping baru yang tepat untuk jadi teman minum kopi dan menu ini merupakan hasil kreasi kolaborasi dengan Oma Elly.

Bantu Sesama, Kawan Lama Group Gelar Aksi Donor Darah di 27 Kot a.jpg

Bisnis

Bantu Sesama, Kawan Lama Group Gelar Aksi Donor Darah di 27 Kota

07 December 2022, 14:29

Pada akhir pekan lalu, Kawan lama Group kembali menggelar aksi donor darah secara serentak di puluhan gerai ACE serta Informa yang tersebar di 27 kota.

Amartha Gandeng Puluhan Ribu UMKM di Sumatera Barat untuk Go Digital.jpg

Bisnis

Amartha Gandeng Puluhan Ribu UMKM di Sumatera Barat untuk Go Digital

07 December 2022, 12:26

Perusahaan Amartha mengumumkan berhasil menggandeng hingga lebih dari 50.000 UMKM di Sumatera Barat untuk proses adopsi digitalisasi via Amartha+.

Wow, Perwakilan Indonesia Raih Juara Kedua di Kompetisi Chatime Global Tea-Rist a.jpg

Bisnis

Wow, Perwakilan Indonesia Raih Juara Kedua di Kompetisi Chatime Global Tea-Rista

06 December 2022, 16:16

Hadapi perwakilan Chatime dari enam negara lainnya, tea-rista Chatime Indonesia berhasil menyabet juara kedua di kompetisi brewed tea tingkat dunia di Taiwan.


Comments


Please Login to leave a comment.

  • Suki 2 years, 8 months lalu
    suki

    Bola165 ,co game yang tiada bosan-bosannya untuk dimainkan, gimana mau bosan?? gara-gara game ini nih, makin ceria dompet gue... gak perlu repot ke sana ke mari cari rejeki.... gak percaya?? silahkan aja tengok dan jangan lupa, join now kalo mau ceria juga isi dompet kalian boss...