Menengok Pengobatan Pasien COVID-19 di RSPI Sulianti Saroso

Kesehatan

Menengok Pengobatan Pasien COVID-19 di RSPI Sulianti Saroso

Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso yang berada di kawasan Jakarta Utara menjadi salah satu rumah sakit yang menangani kasus COVID-19 di Jakarta. Dua WNI pertama yang terdeteksi positif COVID-19 pun dirawat di rumah sakit tersebut.

Meski Pedoman Penanganan Cepat Medis dan Kesehatan Masyarakat COVID-19 di Indonesia sudah menjelaskan jenis obat apa saja yang diberikan pada pasien dengan hasil rapid test antibodi positif yang perlu dirawat di rumah sakit, namun mungkin masih ada rasa penasaran tentang bagaimana sebenarnya rumah sakit seperti RSPI Sulianti Saroso menangani pasien COVID-19.

Dalam unggahan akun di akun instagram narasi.tv pada Jumat (10/4/2020), Spesialis Paru di RSPI Sulianti Saroso Hariyuki Dewi Faisal menceritakan proses penanganan pasien kasus COVID-19 di rumah sakit tersebut.

Menengok Pengobatan Pasien COVID-19 di RSPI Sulianti Saroso

Hariyuki menuturkan setiap pasien dengan gejala COVID-19 yang tiba di RSPI Sulianti Saroso akan melalui proses screening oleh tenaga medis. Screening bertujuan menentukan status pasien, apakah termasuk dalam Orang Dalam Pemantauan (ODP) atau Pasien Dalam Pengawasan (PDP).

“Kalau dia [pasien] masuk dalam kriteria PDP tapi ringan, kita anjurkan untuk isolasi diri di rumah,” ujarnya.

Anjuran isolasi mandiri bagi PDP dengan gejala ringan tak lain karena ruang isolasi yang terbatas. Oleh karena itu, pasien dengan gejala berat saja yang akan diterima oleh RSPI Sulianti Saroso. “Jadi biasanya yang gangguan napas dan pneumonia yang berat itu yang kita rawat,” lanjutnya.

[Baca Juga: Mengenal Remdesivir dan Kevzara, Obat yang Diuji untuk COVID-19]

Hal ini senada dengan yang tertuang dalam Pedoman Penanganan Cepat Medis dan Kesehatan Masyarakat COVID-19 di Indonesia, bahwa PDP yang dirawat di rumah sakit rujukan pada prinsipnya ialah mereka yang menderita gagal napas berdasarkan analisis darah, atau jika tidak dianalisis darahnya, saturasi oksigen kurang dari 90 persen. Selanjutnya juga bagi mereka yang mengalami penurunan kesadaran dan menunjukkan tanda-tanda sepsis.

Untuk penanganan awal pasien, sambung Hariyuki, karena Corona Virus Disease 2019 adalah panyakit yang disebabkan oleh virus baru dan belum ada obatnya, maka pengobatan menggunakan obat yang sudah ada.

Pasien yang dirawat akan diobati berdasarkan kasus atau gejala yang diderita. Namun, biasanya pasien diberi antivirus yang ada, vitamin melalui infus atau yang masuk ke pembuluh darah, dan tetap diberi antibiotik.

Menengok Pengobatan Pasien COVID-19 di RSPI Sulianti Saroso

Antibiotik merupakan obat yang digunakan pada pasien dengan infeksi bakteri. Alasan Hariyuki mengenai penggunaan antibiotik pada pasien COVID-19 adalah virus sering kali mengalami miss-infection, atau bercampur dengan infeksi bakteri.

“Kalau untuk infeksi berat, kita mengenakan pemakaian klorokuin, karena di beberapa kasus itu berhasil. Cuma kita harus pertimbangkan lagi segala risikonya karena obat ini efek sampingnya banyak,” jelas Hariyuki.

Ia menegaskan klorokuin bukanlah obat untuk mencegah infeksi virus corona baru atau SARS-CoV-2. Klorokuin bahkan dikatakannya memiliki efek samping pada jantung.

[Baca Juga: Avigan, Obat yang Disebut Ampuh Menangani Pasien COVID-19]

Hariyuki juga menceritakan situasi ruang isolasi di rumah sakit tempatnya bekerja itu. Setiap masuk ke ruang isolasi baru karena ada pasien yang baru masuk, maka Alat Pelindung Diri (APD) tenaga medis harus diganti.

Ruang isolasi di RSPI Sulianti Saroso memiliki satu tempat tidur, kamar mandi dalam, dan televisi. Ruang isolasi di sana, jelasnya merupakan ruang bertekanan negatif, yang bersifat mengunci virus di dalam agar tidak keluar ruangan.

“Terus nanti semua yang ada di dalam ini kan pasti akan keluar juga nggak mungkin bersikulasi di dalam kan, akan keluarnya itu sudah terfilter,” paparnya.

[Baca Juga: Saran WHO Perawatan di Rumah Bagi Pasien Positif COVID-19 dan PDP]

Selanjutnya, apabila ada pasien yang dinyatakan sembuh, yang harus dilakukan oleh pasien tersebut adalah menjaga daya tahan tubuh, makan tiga kali sehari, tidur minimal enam jam dalam sehari, rutin mencuci tangan, dan berjemur di bawah sinar matahari.

Di akhir video, Hariyuki menjelaskan bagaimana dirinya mengantisipasi penularan virus kepada keluarga di rumah. Ia terbiasa mencuci tangan, mengganti pakaian yang dikenakannya, memisahkan pakaian tersebut atau kalau bisa langsung direndam.

“Kalau mandi tambahan karena di rumah sakit sebelumnya udah mandi,” ujarnya.


Read More

Artikel Lainnya

Konser Full Team Dewa 19 Siap Digelar di Solo.jpg

Hobi dan Hiburan

Konser Full Team Dewa 19 Siap Digelar di Solo

23 September 2022, 15:57

Setelah sukses digelar di Candi Prambanan, konser Dewa 19 yang menghadirkan full team akan kembali manggung bersama dan kali ini digelar di wilayah Solo.

Perkuat Kehadirannya di Jawa Timur, Amartha Kolaborasi dengan BPR Jatim.jpg

Bisnis

Perkuat Kehadirannya di Jawa Timur, Amartha Kolaborasi dengan BPR Jatim

23 September 2022, 13:56

Baru-baru ini Amartha dan BPR Jatim resmi berkolaborasi dalam upaya menyalurkan Rp250 miliar untuk membantu pengembangan bisnis perempuan pengusaha mikro di wilayah Jawa Timur serta Jawa Tengah.

Ini Pandangan Pakar Unpad Terkait Pencegahan HIVAIDS.jpg

Kesehatan

Ini Pandangan Pakar Unpad Terkait Pencegahan HIV/AIDS

23 September 2022, 11:54

Setelah bulan lalu sempat ramai pembahasan kabar ribuan orang di Kota Bandung yang menderita HIV/AIDS, pakar Universitas Padjadjaran memberikan masukan terkait metode pencegahannya, khususnya di wilayah kampus.

Konsistensi Bambang Suprapto dalam Berkarya Melalui Solo Exhibition Uncertainty

Hobi dan Hiburan

Konsistensi Bambang Suprapto dalam Berkarya Melalui Solo Exhibition ‘Uncertainty’

22 September 2022, 18:20

Seniman muda Kota Malang, Bambang Suprapto, menggelar pameran tunggal yang bertajuk ‘Uncertainty’ di Kedai Lantjar Djaya, Kota Malang.


Comments


Please Login to leave a comment.