Mengapa Orang-orang Tetap Bisa Dermawan di Kala Pandemi

Kesehatan

Mengapa Orang-orang Tetap Bisa Dermawan di Kala Pandemi?

Di tengah bayang-bayang ancaman krisis ekonomi dan krisis ketersediaan pangan akibat pandemi COVID-19, nyatanya beragam aksi solidaritas justru muncul di masyarakat. Seiring dengan meningkatnya jumlah pasien dan orang yang terdampak di Indonesia, berbagai macam bentuk bantuan sosial pun mengalir dari masyarakat hingga lembaga non pemerintah.

Mulai dari penggalangan dana, relawan, dan berbagai macam bantuan lainnya diberikan untuk orang yang terdampak pandemi. Dilansir dari DW.com (4/5/2020), pandemi Covid-19 tak hanya memicu ketakutan dan sikap egois masyarakat, seperti panic buying. Tetapi dapat juga mendorong solidaritas, saling menolong, dan empati.

Mengapa Orang-orang Tetap Bisa Dermawan di Kala Pandemi

Lebih lanjut, artikel tersebut menjelaskan mengapa keinginan untuk menolong di masyarakat dapat terjadi meski tengah dilanda pandemi. Peneliti dari University of Würzburg Anne Böckler-Raettig mengatakan bahwa hal ini menunjukkan realitas sosial begitu jauh lebih kompleks.

“Perilaku prososial atau prosocial behaviour banyak bentuknya dan setiap orang memiliki perannya atau repertoarnya sendiri. Terkadang kita semua sangat egois. Dan terkadang kita semua sangat adil, kooperatif dan prososial,” kata Böckler-Raettig, peneliti yang fokus pada isu prosocial behaviour.

Altruisme dan Empati

Untuk memahami kondisi tersebut dapat dilihat dari pengalaman seorang pelajar, Lena yang terdorong untuk membantu orang lain di kala pandemi. Suatu ketika ia melihat seorang kakek berdiri di depan jejeran rak kosong sebuah supermarket. Hal itu terjadi akibat masyarakat panic buying saat dilanda pandemi.

Padahal, orang lanjut usia seharusnya tetap di rumah dan dilarang melakukan kontak langsung dengan orang yang berpotensi menularkan COVID-19. “Kakek itu mungkin harus pergi ke beberapa toko untuk mendapatkan semua barang yang dibutuhkannya. Itulah yang membuat saya berpikir,” kata Lena.

Berkaca dari hal itu, Lena dan temannya Ana mulai memuat grup Facebook Corona Hilfe Bonn di pertengahan bulan Maret. Hanya dalam empat jam sudah ada 400 anggota yang bergabung. Kini total ada 1000 orang yang bergabung. Beberapa diantara mereka ingin menolong tunawisma, petani dan perawat.

[Baca Juga: Solidaritas Tanpa Batas, Kota Depok Dibanjiri Donasi Selama Pandemi]

“Banyak anggota yang menyumbangkan pengalamannya dan menetapkan prioritas individu. Ada seorang anggota yang menawarkan untuk berbicara di telepon bagi orang-orang yang sulit mengatasi masa isolasi. Saya benar-benar tersentuh,” katanya.

Menurut Böckler-Raettig, kondisi ini dikarenakan motivasi rela menolong orang lain atau motivasi altruistik. “Hal pertama yang kita lakukan ketika ingin menolong adalah kita ingin seseorang lebih baik dan kita ingin mengurangi penderitaan mereka,” jelasnya.

Kendati demikian, apakah motivasi altruistik ini benar-benar ada pada diri seseorang juga masih kontroversi. Böckler-Raettig berpendapat kalau semua motiv altruisme adalah niat untuk berbuat kepada orang lain. Seperti pada kasus Lena, dia seperti mencoba menempatkan dirinya “Apa yang saya harapkan bila dalam kondisi seperti (kakek) itu?”

Selain altruisme, menurut Neuroscientist and developmental psychologist di Max Palanck Institute Human Cognitive and Brain Sciences di Leipzig Charlotte Grosse Wiesmann, empati dan kasih sayang adalah dua hal yang penting dalam prosocial behaviour. “Sikap menolong adalah sikap fundamental,” katanya.

Terlahir untuk Saling Menolong

Dapat dikatakan bahwa manusia pada dasarnya terlahir untuk saling menolong sesama. Grosse Wiesmann mencontohkan, pada anak satu tahun misalnya secara spontan untuk menolong dengan mengambil benda yang jatuh dan memberikannya kepada orang dewasa.

Anak-anak sangat baik untuk mengenali tujuan orang lain di usia yang sangat dini. Grosse Wiesmann menjelaskan bahwa pada awalnya sikap anak-anak memang tak ada hubungannya dengan altruisme, tetapi dapat memperdalam ikatan sosial. Oleh karenanya, pada masa perkembangan anak ini sangat penting untuk dapat mengenali tujuan dan mencoba belajar membantu orang lain.

Mengapa Orang-orang Tetap Bisa Dermawan di Kala Pandemi

Dia mengatakan sebagaimana teori yang dikembangakan Developmental psychologist Michael Tomasello, pada usia dua tahun rasa empati anak-anak mulai akan sedikit berkembang. “Mereka mulai menyadari emosi orang lain dan bereaksi pada mereka - sebagai contoh dengan mencoba menenangkan orang yang menangis,” jelasnya.

Timbal Balik

Respon timbal balik menjadi motivasi lainnya dari orang-orang yang memberi bantuan. Sebab, siapapun yang membuat orang lain nyaman, maka dapat meningkatkan peluangnya untuk mendapatkan hal serupa ketika dibutuhkan.

Oleh karenanya, keinginan membantu orang lain dari individu dapat memicu efek domino dengan semakin banyaknya orang yang tergugah untuk menolong juga. Kendati demikian, hal ini ternyata juga menimbulkan dampak lainnya. Orang dapat menjadi ketergantungan dengan bantuan.

“Tetapi seandainya orang sudah tahu betapa prososialnya untuk dapat menerima bantuan. Menolong dan bermurah hati dapat menjadi penghargaan bagi para relawan. Jadi orang yang menerima bantuan juga dapat melakukan sesuatu yang baik,” kata Böckler-Raettig.

[Baca Juga: Garda Depan Lawan COVID-19, Tim Medis Masih Butuh Banyak Bantuan]

Böckler-Raettig optimis bila rasa tolong-menolong tetap akan terus ada meski pandemi berlalu. “Semakin sering kita menunjukkan prosocial behaviour dan sadar betapa menyenangkan untuk melakukannya - baik dalam masyarakat, teman atau secara pribadi - semakin kita mengulangi perilaku ini (prosocial behaviour) juga,” katanya.

Pada kasus Lena dan Ana yang kini tengah menjalani karantina, dalam waktu singkat langsung ada 11 orang yang menawarkan diri untuk membantunya menyediakan coklat. Hal ini memperlihatkan bahwa bentuk prosocial behaviour juga ada dalam bentuk yang sederhana.

“Setiap gerakan itu berarti,” kata Böckler-Raettig.


Read More

Artikel Lainnya

Dorong Digitalisasi Daerah, Amartha Hadirkan Desa Digital di Sulawesi Tengah.jpg

Bisnis

Dorong Digitalisasi Daerah, Amartha Hadirkan Desa Digital di Sulawesi Tengah

03 February 2023, 16:35

Demi memastikan tidak adanya ketimpangan digital di daerah pedesaan luar Jawa, Amartha Foundation baru-baru ini meresmikan desa digital di wilayah Sulawesi Tengah.

tiket.com Hadirkan Layanan Pemesanan Kereta Cepat Jakarta-Bandung.jpg

Bisnis

tiket.com Hadirkan Layanan Pemesanan Kereta Cepat Jakarta-Bandung

03 February 2023, 14:20

Melalui kemitraan dengan PT KCIC, pengguna tiket.com ke depannya bisa memesan tiket untuk layanan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB).

Kolaborasi Pertamina NRE - Bike to Work Kampanyekan Green Mobility

Berita Kawasan

Kolaborasi Pertamina NRE - Bike to Work Kampanyekan Green Mobility

02 February 2023, 17:41

Peresmian unit tempat parkir sepeda dilakukan oleh Corporate Secretary Pertamina NRE Dicky Septriadi, Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Chaidir, dan Ketua Umum B2W Fahmi Saimima.

Siap Digelar 25 Februari 2023, Ini Semua Line-ups Woke Up Fest 2023.jpg

Hobi dan Hiburan

Siap Digelar 25 Februari 2023, Ini Semua Line-ups Woke Up Fest 2023

02 February 2023, 15:41

Setelah memberikan teaser siapa saja yang akan tampil, akhirnya pihak penyelenggara mengumumkan siapa saja yang nanti siap menghibur Anda di Woke Up Fest 2023.


Comments


Please Login to leave a comment.