kampung kulitanOK2.jpg

Bisnis

Mengenal Kampung Kulitan, Sentra Penjual Gilo-Gilo

Di kota Semarang, Pointers masih dapat menemukan jajanan murah yang dijual dalam gerobak dan biasa disebut dengan gilo-gilo. Gilo-Gilo memang menyediakan camilan dan beragam jajanan serta buah potong yang dibeli oleh masyarakat yang sedang beristirahat siang. Nama gilo-gilo sendiri berasal dari kata-kata “ki lo ono, ki lo ono” ketika orang-orang melihat makanan apapun tersedia dalam gerobak gilo-gilo. Kata tersebut kemudian diplesetkan menjadi gelo ono dan akhirnya menjadi gilo-gilo.

Bermacam jenis camilan tersedia di dalam gerobak gilo-gilo seperti buah-buahan, gorengan, donat bahkan nasi bungkus. Biasanya penjual gilo-gilo akan mempersiapkan dagangannya di pagi hari sekitar pukul 08.00 WIB dan mulai berkeliling menjelang siang ketika orang-orang sedang mencari makan siang. Tapi tahukah Pointers jika ada kampung yang menjadi sentra pedagang Gilo-gilo di kota Semarang, namanya Kampung Kulitan.

kampung kulitanOK.jpg

Kampung Kulitan memang dikenal oleh masyarakat kota Semarang sebagai kampung bekas tempat tinggalnya Taspirin, seorang konglomerat pribumi yang hidup di masa kolonial Belanda. Tidak ada yang tahu persis sejak kapan kampung Kulitan dikenal sebagai kampung gilo-gilo. Ada yang mengatakan jika kampung gilo-gilo ini ada sejak tahun 1980an. Bahkan dahulu penjual gilo-gilo di Kampung Kulitan pernah mencapai 50 orang lebih, namun saat ini keberadaannya bisa dihitung dengan jari.

Alasan utama yang membuat pedagang gilo-gilo di Kampung Kulitan jumlahnya semakin menyusut adalah karena perkembangan zaman dimana saat ini masyarakat memiliki beragam pilihan kuliner yang lebih menarik dibandingkan Gilo-gilo. Selain itu, tidak adanya regenerasi penjual Gilo-gilo yang saat ini telah berusia diatas 40 tahun membuat penjual Gilo-gilo terus menurun jumlahnya, karena biasanya anak-anak dari para pedagang ini lebih memilih bekerja di kantor.

[Baca Juga: Kranggan, Kampung Sentra Kulit Lumpia yang Berproduksi 24 Jam]

Pada umumnya pedagang Gilo-Gilo di kampung Kulitan merupakan perantau dari kota lain yang tinggal di rumah Boro atau tempat tinggal sementara selama berjualan Gilo-Gilo di kota Semarang. Jangan tanya kelayakan rumah Boro, karena tempat ini memang diperuntukkan bagi para perantau yang tidak mampu membayar mahal tempat tinggal layaknya kamar kos-kosan. Dengan membayar Rp3.000 per hari, para perantau dari berbagai daerah ini bisa mendapatkan tempat berteduh sederhana dilengkapi tempat tidur seadanya layaknya barak tanpa bilik penyekat antar para penghuni rumah Boro.

kampung kulitanOK3.jpg

Biasanya rumah Boro ini banyak ditemukan di pinggiran kampung dan di dekat pasar Johar. Meskipun bukan merupakan tempat tinggal yang layak, para pedagang Gilo-gilo tetap bertahan tinggal di rumah Boro Kampung Kulitan karena beberapa alasan, selain untuk mencukupi kebutuhan keluarga di kampung halaman, di daerah ini juga dekat dengan pemasok camilan yang dijual di gerobak Gilo-Gilo. Pasalnya Ibu-ibu rumah tangga yang memproduksi berbagai macam gorengan, martabak hingga sate-satean untuk penjual Gilo-gilo tinggal dikampung ini.

Karena termasuk kategori camilan masyarakat kecil, harga jajanan dan makanan yang dijual di gerobak gilo-gilo tentunya sama sekali tidak menguras kantong karena berkisar antara Rp1.000 hingga Rp3.000 saja. Dahulu penghasilan yang didapatkan pedagang gilo-gilo bisa mencapai Rp1 juta hingga Rp2 juta per harinya, namun sejak pandemi Corona melanda penghasilan mereka menurun drastis.


Read More

Artikel Lainnya

Jelang Imlek 2022, Ini Curhatan Pengrajin Barongsai di Tengah Pandemi.jpg

Bisnis

Jelang Imlek 2022, Ini Curhatan Pengrajin Barongsai di Tengah Pandemi

18 January 2022, 16:06

Walau menjelang perayaan Imlek 2022, pengrajin barongsai di Kota Tangerang mengaku kesulitan menjual produknya akibat pandemi COVID-19.

Gaungkan Budaya Literasi, SMPN 6 Yogyakarta Dirikan Tugu .jpg

Pendidikan

Gaungkan Budaya Literasi, SMPN 6 Yogyakarta Dirikan Tugu

18 January 2022, 15:01

SMPN 6 Yogyakarta menghadirkan tugu khusus dengan tujuan menggaungkan budaya literasi di sekolahnya.

Pemprov DKI Jakarta Siap Gelar Tantangan Baca Jakarta 4 Kali Setahun.jpg

Pendidikan

Pemprov DKI Jakarta Siap Gelar Tantangan Baca Jakarta 4 Kali Setahun

18 January 2022, 14:02

Dengan tujuan semakin mendorong geliat minat baca di Ibu Kota, program tantangan Baca Jakarta di tahun 2022 ini siap digelar lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Bahas Kampus Merdeka, Mendikbudristek Temui Mahasiswa Unpad.jpg

Pendidikan

Bahas Kampus Merdeka, Mendikbudristek Temui Mahasiswa Unpad

18 January 2022, 13:03

Mendikbudristek Nadiem pada pekan ini berkunjung ke Unpad untuk membahas mengenai penerapan program MBKM di universitas negeri tersebut.


Comments


Please Login to leave a comment.