Mengenal Skizofrenia sebagai Gangguan Kesehatan Jiwa

Kesehatan

Mengenal Skizofrenia sebagai Gangguan Kesehatan Jiwa

Tahukah Anda bahwasanya banyak masyarakat di Indonesia yang menderita gangguan kesehatan jiwa bernama skizofrenia? Mungkin ada sebagian orang yang sudah tahu mengenai istilah ini dan ada juga yang tidak. Namun faktanya, berdasarkan buku Jiwa Sehat, Negara Kuat: Masa Depan layanan Kesehatan Jiwa di Indonesia jilid I, terdapat sekiar 2,5 juta penduduk di Nusantara yang mengidap gangguan kesehatan jiwa ini. Sayangnya, tak sedikit di antara penderita skizofrenia ini baru disadari ketika sudah terlambat atau berada dalam kondisi akut.

Untuk mengetahui informasi mengenai skizofrenia, PingPoint.co.id berdialog dengan Ketua Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Bagus Utomo. Ia mendirikan komunitas ini berdasarkan pengalaman pribadinya yang memiliki anggota keluarga orang dengan skizofrenia. Sekadar informasi, kakaknya mulai menunjukan gejala skizofrenia ketika usia 29 tahun dan semenjak itu Bagus Utomo kerap meninggalkan pekerjaannya di siang hari demi memastikan kakaknya tidak mengalami episode amukan atau tindakan berbahaya lainnya.

Mengenal Skizofrenia sebagai Gangguan Kesehatan Jiwa

Berawal dari Yahoo Group di tahun 2001, Bagus kerap memberikan berbagai informasi mengenai skizofrenia hingga lambat laut para anggotanya pun semakin banyak. Kemudian meluas ke jejaring sosial hingga menjadi komunitas dan akhirnya KPSI resmi menjadi yayasan di tahun 2012.

“Skizofrenia singkatnya adalah gangguan dalam menilai realitas. Ciri utamanya ada dua, delusi dan halusinasi. Delusi itu keyakinan yang salah tanpa ada rasionalisasinya tapi tidak bisa dibantah atau keyakinan yang irasional,” ucap Bagus Utomo kepada PingPoint.co.id pada acara peluncuran buku Jiwa Sehat, Negara Kuat di Universitas Atma Jaya, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan (13/8/2019). Ia menyebut, skizofrenia biasanya muncul di rentang usia 15 hingga 30 tahun.

[Baca Juga: Mari Ubah Stigma Negatif Terhadap Layanan Kesehatan Jiwa]

Menurut Bagus terdapat beragam waham delusi dalam yang seseorang mengidap skizofrenia. “Contohnya yang paling umum di masyarakat adalah orang merasa mendapatkan wahyu terus menjadi nabi, kemudian dia buat agama baru. (Selain itu) seseorang merasa dirinya presiden dan ini adalah delusion of grandeur atau waham kebesaran,”ungkap ketua KSPI itu.

“Merasa dikejar-kejar orang lain (seperti) ingin dibunuh, padahal tidak ada, nah ini namanya waham kejar seperti di film A Beautiful Mind. Ada juga waham siar pikir yang merasa pikirannya disiarkan seperti sinyal radio atau telepati, merasa disisipkan sesuatu dalam otaknya. Ada waham cemburu, jadi ia cemburu yang luar biasa sehingga akhirnya tidak nyaman untuk pasangannya. Ada juga waham penyakit, terus ada waham agama yang merasa dia imah mahdi yang ingin menyelamatkan dunia. Tapi ini tidak bisa dibantah karena terkait gangguan fungsi di otaknya,” ujar Bagus Utomo.

[Baca Juga: Komunitas Peduli Kesehatan Jiwa Into The Light Indonesia]

Selain delusi, ciri kedua orang dengan gangguan kesehatan ini adalah halusinasi yang di mana seseorang mendapatkan rangsangan terhadap panca indra tanpa ada sumbernya. “Nah yang paling sering (pengidap skizofrenia) berhalusinasi suara atau auditorik, ada juga halusinasi visual, halusinasi taktil, terus juga ada dia dikasih minuman kemasan merasa diracun karena lidahnya mengecap rasa aneh, ada juga halusinasi bau aneh seperti bau bunga dan lainnya,” jelas Bagus Utomo.

Ciri terakhir dari skizofrenia, menurut Bagus Utomo adalah kurangnya perawatan diri serta menarik diri dari pergaulan atas masyarakat dan kesulitan untuk beristirahat. Indikasinya bisa dilihat dari sekadar tidak gosok gigi dan tidak mandi hingga tidak mau keluar rumah. “Ada juga sulit tidur, kalau enggak tidur bisa berhari-hari sampai berminggu-minggu akibatnya terjadi gangguan di proses pikirnya,” tambahnya.


Read More

Artikel Lainnya

Hindari Obat, Ini Tips Tidur dari Pakar Unair Bagi Penderita Insomnia.jpg

Kesehatan

Hindari Obat, Ini Tips Tidur dari Pakar Unair Bagi Penderita Insomnia

29 June 2022, 16:22

Menurut pakar Unair, demi mendapatkan tidur yang berkualitas, penderita insomnia seharusnya berupaya menghindari penggunaan obat tidur.

wuling_bakti_pendidikan_3.jpg

Pendidikan

Wuling Bakti Pendidikan Jalin Kerja Sama Bersama SMK Negeri 1 Singosari

29 June 2022, 15:00

Wuling terus membuktikan komitmennya dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan di sekolah kejuruan.

Ini Organisasi Non-profit di Kota Malang dengan Fokus Pemberdayaan Difabel.jpg

Pendidikan

Ini Organisasi Non-profit di Kota Malang dengan Fokus Pemberdayaan Difabel

29 June 2022, 14:20

Sejak awal berdirinya, Percacita bergerak untuk menghilangkan stigma dari kaum difabel dan menunjukkan kepada publik bahwa mereka juga mampu berkarya.

Ford Foundation Jakarta Impact Investing Kunci Atasi Ketimpangan.jpg

Bisnis

Ford Foundation Jakarta: Impact Investing Kunci Atasi Ketimpangan

29 June 2022, 10:18

Organisasi filantropi mendorong lebih banyak investor di Tanah Air memilih ranah impact investing yang tak hanya menargetkan profit semata tapi juga turut mendukung mengatasi ketimpangan di Indonesia


Comments


Please Login to leave a comment.