ASAL USUL NAMA PLUIT

Berita Kawasan

Mengetahui Asal-usul Nama Pluit Jakarta

Selain Kelapa Gading, wilayah Jakarta Utara juga memiliki kawasan ikonik seperti Pluit. Namun tahukah Anda, jauh sebelum berdirinya Baywalk Mall atau pun Pluit Village, kawasan ini sempat menjadi lokasi penempatan kapal rusak yang akhirnya menjadi asal muasal nama ‘Pluit’?

Pada awalnya, banyak masyarakat awam yang menduga bahwa nama lokasi yang dekat area laut itu berasal dari bahasa Belanda yaitu fluit. Kata ini bermakna peluit atau siul dalam bahasa Indonesia. Namun usut punya usut, ini hanyalah cerita belaka dan secara sejarah ini memiliki hubungan dengan kapal bernama Het Witte Paard.

Pada abad ke-17, tepatnya di tahun 1660, kapal Belanda dengan nama Het Witte Paard mengalami karam di pantai bagian timur Muara Angke. Kapal tersebut berjenis fluyt. Kapal yang juga dikenal dengan nama fluijt itu merupakan kapal layar yang dirancang oleh para pembuat kapal di Kota Hoorn (Belanda) dan berfungsi sebagai kapal kargo khusus. Kapal ini populer digunakan Belanda dan dirancang agar dapat memfasilitasi pengiriman lintas samudera dengan ruangan yang luas dan efisiensi kru.

[Baca Juga : Asal-usul Kota Depok]

Kapal Het Witte Paard yang karam itu pun akhirnya berstatus sudah tidak layak kembali melaut dan sempat dibiarkan begitu saja. Namun, hal itu berubah ketika terjadi serangan terhadap pasukan belanda dari Kesultanan Banten. Serangan tersebut bersifat acak sehingga menyulitkan pasukan Belanda yang tengah mempertahankan Benteng Vijhoek yang berlokasi di area pinggir kali Grogol, tepatnya berada di sebelah timur Muara Angke.

Untuk menahan serangan dari Kesultanan Banten, pasukan Belanda pun memanfaatkan kapal Het Witte Paard sebagai kubu pertahanan. Lambat laun, kapal itu pun mendapatkan panggilan De Fluijt, sesuai dengan nama jenis kapalnya. Dari sinilah bibit nama “Pluit” pun muncul.

Sebagaimana diwartakan oleh Jakarta Bisnis, warga pribumi tidak fasih untuk melafalkan kata “De Fluijt” dan cenderung tidak memerhatikan ejaan yang dipakai oleh Belanda pada saat itu. Itulah sebabnya warga pribumi memilih menggunakan huruf ‘P’ yang menggantikan huruf ‘F’ di nama lokasi tersebut dan muncul lah Pluit yang seperti kita kenal saat ini.

Sisi peninggalan sejarah di area Pluit terbilang tidak lekang oleh zaman. Namun sayangnya, kapal Het Witter Paard dan Benteng Vijhoek sudah hilang keberadaannya yang disinyalir sudah terjadi semenjak era kemerdekaan Indonesia.

Nama kawasan Pluit mulai menggema di DKI Jakarta pada 1970-an. Sebab saat itulah, area yang dulunya penuh dengan rawa-rawa tersebut diubah sedemikian rupa demi memulai proyek pembangunan pemukiman.

Pada 1979, “wajah” kawasan pemukiman Pluit pun semakin berkembang apalagi setelah dibangunnya jalan Jembatan Tiga. Jalan ini pun menjadi akses utama untuk keluar-masuk kawasan tersebut. Kemudian pada 1990-an, jalan tol layang pun selesai dibangun dan menggantikan jalan tersebut.

[Baca Juga : Sejarah Singkat dan Asal Mula Kabupaten Tangerang]

Mayoritas warga yang tinggal di area pemukiman Pluit merupakan orang-orang keturunan Tionghoa, di mana mereka rata-rata membuka usaha toko di berbagai lokasi di Jakarta dengan contoh Glodok. Saat ini Pluit juga tak bisa dilepaskan dengan citra ‘mewah’ dengan berbagai pusat perbelanjaan yang tersedia. Dari Emporium Pluit Mall, Pluit Junction, Pluit Village, hingga Baywalk Mall, membuat banyak warga yang tinggal di kawasan ini tidak perlu pergi jauh-jauh untuk mencari berbagai kebutuhan serta hiburan mereka.

Read More

Artikel Lainnya

Musim Hujan, Wali Kota Tangerang Persiapkan Langkah Antisipasi Banjir.jpg

Berita Kawasan

Musim Hujan, Wali Kota Tangerang Persiapkan Langkah Antisipasi Banjir

29 September 2020, 15:03

Wali Kota Tangerang memastikan pihaknya sudah mempersiapkan skenario antisipasi terhadap potensi terjadinya banjir akibat musim hujan.

Pemkot Semarang Kejar Target Zona Hijau COVID-19 pada Desember.jpg

Berita Kawasan

Pemkot Semarang Kejar Target Zona Hijau COVID-19 pada Desember

29 September 2020, 14:02

Pemkot Tangerang saat ini tengah bekerja keras untuk mengubah status wilayahnya dari zona orange menjadi zona hijau COVID-19.

Pedagangnya Positif COVID-19, Pasar Ciplak Ditutup Sampai 30 September .jpg

Berita Kawasan

Pedagangnya Positif COVID-19, Pasar Ciplak Ditutup Sampai 30 September

29 September 2020, 13:01

Pasar Ciplak di wilayah Jakarta Selatan disebut ditutup pada pekan ini usai ada pedagang yang positif COVID-19.

Ekonomi Lesu, Pengusaha Bandung Tetap Tembus Eksport ke Australia

Bisnis

Ekonomi Lesu, Pengusaha Bandung Tetap Tembus Ekspor ke Australia

29 September 2020, 10:17

Untuk mendongkrak semangat, Pemkot Bandung memberikan ruang bagi para pelaku usaha agar mampu mengekspor produknya.


Comments


Please Login to leave a comment.