KEBON-JERUK_KAWASAN_MENGINTIP-PERJALANAN-GEDUNG-TOKO-MERAH-KOTA-TUA_EMIL_REVISI-01.jpg

Berita Kawasan

Mengintip Perjalanan Gedung Toko Merah Kota Tua

Kawasan Kota Tua Jakarta menjadi area ikonik bagi orang-orang penyuka sejarah. Di kawasan yang memiliki luas 1,3 kilometer persegi ini, terdapat sejumlah bangunan tua yang menarik untuk dieksplorasi di mana salah satunya adalah Toko Merah Kota Tua.

Bagi yang masih asing dengan gedung ini, Toko Merah merupakan gedung peninggalan era Kolonialisasi Belanda di Kota Tua. Bangunan tua ini berlokasi di Jalan Kali Besar Barat No. 11, Roa Malaka, Tambora, Jakarta Barat.

Sekadar informasi tambahan, area Kota tua sebenarnya terbagi menjadi dua wilayah administrasi yaitu Jakarta Utara dan Jakarta Barat (Pinangsia, Taman Sari dan Roa Malaka). Oleh karena itu, jangan heran bila Anda datang ke sana dan melihat sejumlah bangunan bersejarah di sana memiliki area administrasi yang berbeda.

Bila Anda datang ke gedung yang berada di sisi barat kanal utama Kali Besar ini pada akhir pekan, kerap kali terlihat wisatawan lokal dan mancanegara yang berfoto sembari berbicara dengan pemandu mereka mengenai Toko Merah. Namun kira-kira apa yang membuat gedung ini menjadi terkenal? Untuk mengetahuinya, maka Anda perlu menarik garis merah ke tahun 1730-an.

Sejarah Toko Merah Kota Tua

Sebagaimana dilansir dari artikel Kompas berjudul “Kemewahan Sejarah Toko Merah”, bangunan ini didirikan pada 1730 di atas tanah yang memiliki luas 2.741 meter persegi. Saat itu, nama Toko Merah belum muncul dan bangunan tersebut difungsikan sebagai tempat tinggal dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Baron Van Imhoff.

Kemudian ketika Baron Van Imhoff pindah dari sana, Toko Merah pun beberapa kali mengalami perubahan fungsi. Berdasaran buku “Toko Merah: Saksi Kejayaan Batavia Lama di Tepian Muara Ciliwung; Riwayat dan Kisah Para Penghuninya”, bangunan Toko Merah sempat digunakan sebagai Akademi Angkatan Laut atau Academie de Marine dari tahun 1743 sampai 1755.

Usai menjadi Akademi Angkatan Laut, Toko Merah pun kembali mengalami alih fungsi yang di mana salah satunya kembali menjadi tempat bermukimnya para pejabat di Pemerintahan Hindia Belanda. Mulai dari Jacob Mossel, Petrus Albertus van der Parra, hingga Gubernur Jawa Timur di era Kolonial Belanda yang bernama Baron von Honderdorff, pernah tinggal di bangunan tersebut.

Pada 1768 hingga 1808, bangunan tersebut kembali mengalami perubahan fungsi dan kali ini menjadi sebuah hotel. Pihak manajemen hotel sempat memperluas bangunan tersebut dengan menambahkan rumah untuk menyimpan kereta kencana serta istal untuk 16 ekor kuda milik hotel.

Nama Toko Merah sebenarnya baru muncul ketika Kapitan China di Batavia, Oey Liauw Kong membeli bangunan itu pada 1851. Ia mengecat tembok bangunan tersebut dengan warna merah dan menjadikannya sebagai tempat tinggal serta usahanya. Sekadar informasi, Kapitan China atau Kapitein der Chinezen merupakan pejabat di era Pemerintahan Kolonial Belanda yang bertanggung jawab untuk memimpin warga etnis Tionghoa saat itu.

Namun usut punya usut, sebelum bangunan tersebut dicat merah oleh Oey Liauw Kong, nama Toko Merah sudah melekat dengan gedung itu. Nama tersebut disinyair berhubungan dengan tragedi berdarah yang menimpa etnis Tionghoa pada era Kolonialisasi Belanda.

Sebagaimana dilansir dari kumparan.com, Toko Merah menjadi saksi bisu pembantaian etnis Tionghoa oleh tentara Belanda yang diperkirakan menelan korban jiwa hingga 10 ribu orang. Pembantaian ini dikenal dengan nama tragedi Geger Pecinan (9-22 Oktober 1740). Saat itu dikabarkan banyak jenazah warga Tionghoa yang mengambang di Kali Besar dan memicu permukaan air di dekat Toko Merah berubah warnanya menjadi merah.


Read More

Artikel Lainnya

Kolaborasi Pertamina NRE - Bike to Work Kampanyekan Green Mobility

Berita Kawasan

Kolaborasi Pertamina NRE - Bike to Work Kampanyekan Green Mobility

02 February 2023, 17:41

Peresmian unit tempat parkir sepeda dilakukan oleh Corporate Secretary Pertamina NRE Dicky Septriadi, Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Chaidir, dan Ketua Umum B2W Fahmi Saimima.

Siap Digelar 25 Februari 2023, Ini Semua Line-ups Woke Up Fest 2023.jpg

Hobi dan Hiburan

Siap Digelar 25 Februari 2023, Ini Semua Line-ups Woke Up Fest 2023

02 February 2023, 15:41

Setelah memberikan teaser siapa saja yang akan tampil, akhirnya pihak penyelenggara mengumumkan siapa saja yang nanti siap menghibur Anda di Woke Up Fest 2023.

Program PHINLA Sukses Bantu Pemprov DKI Jakarta Kelola Sampah .jpg

Berita Kawasan

Program PHINLA Sukses Bantu Pemprov DKI Jakarta Kelola Sampah

02 February 2023, 11:33

Baru-baru ini WVI serta DCA menggelar seminar yang didukung pemerintah terkait bagaimana program PHINLA sukses membantu pengelolaan sampah di Ibu Kota.

Karang Taruna Ratujaya Depok Adakan Festival BBM untuk Pembangunan Masjid

Berita Kawasan

Karang Taruna Ratujaya Depok Adakan Festival untuk Pembangunan Masjid

01 February 2023, 16:19

Festival BBM tersebut telah digelar oleh Katar RW 04 Ratujaya pada Sabtu, 28 Januari 2023 lalu.


Comments


Please Login to leave a comment.