MENGINTIP SEKOLAH KATOLIK BERSEJARAH DI GLODOK JAKARTA

Pendidikan

Mengintip Sekolah Katolik Bersejarah di Glodok Jakarta

Kawasan Glodok Jakarta terkenal sebagai area yang mayoritasnya merupakan warga Tionghoa. Namun tahukah Anda bahwasanya ada sebuah sekolah di Glodok yang sudah berdiri semenjak tahun 1950-an dan menjadi saksi perkembangan agama Katolik di sana untuk orang-orang Hoakiau (China rantauan)?

Nama lembaga pendidikan itu adalah Sekolah Ricci. Namun seperti peribahasa tak kenal maka tak sayang, ada baiknya jika kita mengulas terlebih dahulu perjalanan perkembangan awal sekolah ini. Untuk mengulas sekolah katolik bersejarah ini maka perlu mundur ke beberapa puluh tahun yang lalu.

Dibangunnya sekolah Ricci tidak bisa dilepaskan dari keputusan Mgr. Adrianus Djajasepoetra yang saat itu menjabat sebagai Vikaris Apostolik Jakarta. Sebagaimana dilansir situsbudaya.id, Adrianus memberikan tugas kepada Pater Wilhelmus Krause Van Eeden SJ, untuk memberikan pelayanan dan pewartaan bagi orang-orang Hoakiau yang tinggal di sekitar kawasan Glodok.

[Baca Juga: 6 Kiat Cerdas Siapkan Dana Pendidikan Anak]

Oleh karena itu, gereja, sekolah dan asrama pun dirasa butuh untuk didirikan. “Akar” pendirian Sekolah Ricci dan gereja pun dilakukan dengan memilih Pater Antonoius Loew SJ yang berasal dari Austria sebagai kepala paroki dan Pastor Mathias Laitenbauer sebagai pengelola sekolah.

Kemudian langkah berikutnya, keduanya mempertimbangkan nama yang dipilih untuk lembaga pendidikan Katolik tersebut. Akhirnya nama Ricci pun diambil yang terinspirasi dari nama Mateo Ricci. Sekadar informasi, Mateo Ricci (1552-1610) tokoh misionaris Jesuit yang berhasil dalam misi inkulturasinya di Tiongkok.

Kegiatan pendidikan Katolik pun berjalan dengan baik di sekolah tersebut. Saat itu Pater Laitenbauer yang dibantu oleh Pater Braunmandl, Pater Loew dan Pater Tcheng berhasil mengajar untuk orang-orang Hoakiau yang tinggal di area Glodok dan sekitarnya.

[Baca Juga: Universitas Bina Nusantara Gelar Appreciation Day]

Mereka bahkan membuka kursus Bahasa Inggris, Jerman dan Mandarin yang saat itu memiliki sebutan Ricci Evening School. Asrama untuk generasi muda Hoakiau pun berhasil dikelola dengan baik oleh Pater Tcheng. Asrama tersebut memiliki nama Ricci Youth Center.

Sebagaimana dijelaskan dalam santamariadefatima.org, pada tahun 1953 pihak gereja yang juga mengelola Sekolah Ricci pun membeli sebidang tanah dengan luas satu hektar dari seorang Kapitan China (gelar pemimpin warga etnis Tionghoa pada era kolonialisasi di Indonesia). Tanah itu digunakan untuk membangun kompleks gereja dan sekolah, inilah yang menjadi lokasi utama dari Sekolah Ricci dan Gereja Santa Maria de Fatima Jakarta.

Ketika gedung pertama Sekolah Ricci rampung berdiri, saat itu lembaga pendidikan ini menjadi bagian dari Perkumpulan Strada. Namun setelah gedung sekolah itu mengalami beberapa kali penyempurnaan hingga dibangunnya TK Ricci, lembaga pendidikan ini pun memutuskan untuk memisahkan diri dan mendirikan Yayasan Ricci.

[Baca Juga: Belasan Sekolah di Jakarta Barat Siap Raih Penghargaan Adiwiyata]

Perlahan tapi pasti, Sekolah Ricci pun berkembang dengan pesat di mana salah satunya adalah lembaga pendidikan ini meluaskan jenjang pendidikannya dari Kelompok Bermain, TK, SD, SMP dan SMA. Bahkan Yayasan Ricci pun mendirikan cabang Sekolah Ricci yang terletak di area Bintaro pada 1986.

Sebagaimana dilansir dari sekolahricci.sch.id, saat Yayasan Ricci dipimpin oleh Dr. Hubertus Kasan Hidayat Sp.kj, Sekolah Ricci pun membangun gedung SMA Ricci I. Gedung ini tepat berada di belakang Gejera Katolik Santa Maria de Fatima yang terdiri dari lima lantai dan memiliki lift.

Saat ini Sekolah Ricci menjadi sekolah Katolik yang memiliki dua bangunan yang dipisah menjadi Ricci I dan Ricci II. Ricci 1 berlokasi di Jalan Kemenangan III Glodok, Tamansari, Jakarta Barat. Sedangkan, Ricci II berlokasi di Jalan Utama II No.1-2, Pondok Karya, Pondok Aren, Tangerang Selatan.

Read More

Artikel Lainnya

UTBK di Universitas Padjajaran.jpg

Pendidikan

UTBK di Unpad, Semua Peserta Wajib Pasang Aplikasi Mass Tracking

13 April 2021, 10:34

Semua peserta UTBK di Universitas Padjajaran wajib memasang aplikasi mass tracking untuk mencegah penularan COVID-19.

Nyekar 1.jpg

Berita Kawasan

Sebelum Ramadan, Warga Desa Giripurno Nyekar Tanpa Masker

13 April 2021, 10:17

Tradisi Nyekar masih dijaga oleh masyarakat Giripurno menjelang Ramadhan di masa pandemi ini.

Arjosari 2.jpg

Berita Kawasan

Terminal Arjosari Masih Layani Perjalanan Keluar Kota Tanpa Batas Waktu

13 April 2021, 10:15

Terminal Arjosari Malang masih akan layani penumpang tujuan jarak jauh.

Kuliner Murah Bogor yang Wajib Dicoba, Rasa Dijamin Nggak Murahan.jpg

Kuliner

Kuliner Murah Bogor yang Wajib Dicoba, Rasa Dijamin Nggak Murahan

13 April 2021, 10:07

Tidak kalah dengan kuliner-kuliner Bogor yang sudah banyak dikenal lainnya, beberapa kuliner ini bisa dibilang sebagai kuliner murah dengan harga satu porsinya tidak sampai Rp50.000 wajib dicoba ketika berwisata kuliner di Bogor dengan budget minim.


Comments


Please Login to leave a comment.