MENGULAS PERKEMBANGAN MASJID BERSEJARAH DI KAWASAN TEBET

Berita Kawasan

Mengulas Perkembangan Masjid Bersejarah di Kawasan Tebet

DKI Jakarta memiliki sejumlah masjid bersejarah yang sudah berdiri selama ratusan tahun dan salah satunya berlokasi 2,3 kilometer dari Pasar Tebet Timur. Masjid tersebut bernama Masjid Jami Al-Atiq. Artikel ini akan mengulas mengenai perkembangan tempat ibadah itu.

Masjid Jami Al-Atiq berlokasi di Jalan Kamping Melayu Besar 1 Blok W No.134, No.134, RT.05/RW.01, Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan. Saat ini, masjid tersebut sering menjadi pilihan orang-orang dari Jakarta dan sekitarnya untuk melakukan wisata religi. Namun apa yang menjadi daya tarik utama dari masjid ini? Untuk mengetahuinya maka kita perlu membahas sejarah berdirinya Masjid Jami Al-Atiq.

Sejarah Perkembangan Masjid Al-Atiq

Percaya atau tidak, ternyata Masjid Al-Atiq diklaim memiliki hubungan dekat dengan Kesultanan Banten dalam pendiriannya. Sebagaimana dilansir dari buku Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia, masjid ini merupakan peninggalan dari Sultan Banten pertama yakni Maulana Hasanuddin.

Pendirian Masjid Al-Atiq disinyalir bertepatan dengan proyek masjid lain yang tengah dilakukan Sultan Maulana Hasanuddin. Pasalnya, saat itu ia mendirikan masjid serupa di Banten dan Karang Ampel. Sekadar informasi, sebagaimana dikutip dari The Sultanate of Banten, Sultan Maulana Hasannudin merupakan salah satu putra dari Sunan Gunung Jati (salah seorang Wali Songo) atau dikenal juga dengan nama Syarif Hidayatullah.

Sayangnya seiring berjalannya waktu, Masjid Jami Al Atiq sempat mengalami keadaan yang memprihatinkan. Keadaan tersebut terjadi pada tahun 1619, tepatnya saat Batavia berada di bawah Kolonialisasi Belanda.

Untungnya, titik terang datang ke masjid tersebut saat pengikut Pangeran Jayakarta hendak menuju Batavia melalui Sungai Ciliwung. Ketika tengah di perahu, mereka melihat Masjid Jami Al Atiq dalam keadaan sangat tidak terawat bahkan disebut hampir rusak. Karena itulah, rombongan pengikut Pangeran Jayakarta pun memutuskan untuk menetap dekat tempat ibadah itu serta memperbaikinya.

Sepak terjang legenda Betawi, Si Pitung, disebut tidak bisa dilepaskan dengan Masjid Jami Al-Atiq. Berdasarkan keterangan di buku Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia, Si Pitung dan Si Ji’ ih pada tahun 1890-an sempat ditangkap dan dijebloskan ke penjara Meester Cornelis (nama Jatinegara era Kolonialisasi Belanda). Namun, Si Pitung dan Si Ji’ih pun berhasil kabur dan menjadikan Masjid Jami Al-Atiq sebagai tempat persembunyian mereka selama berbulan-bulan lamanya.

Keunikan Masjid Jami Al-Atiq

Selain karena usianya yang sudah ratusan tahun, terdapat dua keunikan lainnya yang membuat orang kerap melakukan wisata religi di Masjid Jamis Al-Atiq. Pertama adalah dari sisi arsitektur bangunan tempat ibadah tersebut.

Sebagaimana dilansir dari tribunnews.com, Ketua Masjid Al-Atiq, Fachri Mufti mengungkapkan bahwa bangunan tempat ibadah yang dikelolanya ini memiliki insipirasi dari Masjid Demak. “Masjid kita ini, bangunannya seperti bangunannya Masjid Demak,” ungkap Fachri. Kesamaan ini terlihat dari bentuk kubahnya juga yang memiliki bentuk layaknya piramida.

Selain bentuk bangunannya, keunikan dari masjid ini adalah keberadaan ‘tongkat khatib’. Tongkat yang terbuat dari kayu jati ini berada di dekat mimbar dan biasa digunakan oleh khatib saat sedang memimpin khotbah Jumat.

Namun yang menarik adalah kisah di balik tongkat khatib ini yang dipandang sebagai benda pusaka. Dalam buku Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia, tercatat kisah seorang wanita tua yang datang ke Masjid Al-Atiq dan ia diam-diam mengerik kulit kayu dari tongkat khatib tersebut.

Ketika pengurus masjid menegur wanita tua itu, ia akhirnya menjelaskan tujuan melakukan tindakan tersebut. Wanita tersebut mengklaim, memiliki suami yang sakit parah dan tidak sembuh-sembuh walau sudah berobat di berbagai rumah sakit.

Kala itu, ada orang pintar yang menyarankannya untuk mengambil serbuk kayu dari tongkat khatib di Masjid Al-Atiq untuk dijadikan sebagai ramuan yang nanti akan dikonsumsi suaminya. Ajaibnya, ramuan dari tongkat yang berasal dari masjid yang berlokasi 2,3 kilometer dari Pasar Tebet Timur tersebut diklaim berhasil dan lambat laun membuat suami wanita itu sembuh.

Read More

Artikel Lainnya

Geliat Bisnis Properti Masa Era New Normal di Kota Semarang

Properti dan Solusi

Geliat Bisnis Properti Era New Normal di Kota Semarang

10 April 2021, 18:47

“Hikmah dari kebijakan di rumah saja membuat para penghuni rumah mulai menyadari bahwa rumah yang mereka tinggali perlu pembenahan di beberapa bagian,” ujar Hafid Santoso pemilik H+S Architect, usaha konsultan arsitek di kota Semarang

Tirta Nirwana 1.jpg

Hobi dan Hiburan

Tirta Nirwana Songgoriti: Pertemuan Kerajaan Medang, Singosari, dan Tionghoa

10 April 2021, 18:07

Berwisata ke Tirta Nirwana kita bisa sedikit mencuil pelajaran pertemuan sejarah kerajaan di Indonesia dan Tionghoa. Lebih dari itu, bermain air di sini sangatlah menyenangkan.

Teletubies 1.jpg

Hobi dan Hiburan

Menghabiskan Waktu di Bukit Teletubies Bersama Gunung Arjuno

10 April 2021, 17:08

Berwisata di tempat menyejukkan yang tak perlu bayar tiket atau parkir ada di Kota Batu, yakni Bukit Teletubies.

Pebisnis Louhan 1.jpg

Bisnis

Cerita Pebisnis Ikan Louhan, Berawal dari Hobi Hingga Untung Jutaan Rupiah

10 April 2021, 16:09

Memiliki keunikan tersendiri, ikan louhan diminati banyak orang. Ada yang menjadi hiasan di rumah, sampai menjadikannya peluang usaha.


Comments


Please Login to leave a comment.