ads
SERPONG_KULINER_AYO NIKMATI GUDEG DI KOTA TANGERANG SELATAN_OCI_REVISI 01-01.jpg

Kuliner

Menikmati Kelezatan Gudeg di Kota Tangerang Selatan

Gudeg yang merupakan kuliner khas Yogyakarta sudah menyebar di seluruh pelosok tanah air. Penikmat kuliner tak akan kesulitan mencari masakan berbahan dasar nangka dan santan ini. Beberapa restoran gudeg pun hadir di Kota Tangerang Selatan. Salah satunya Gudeg Bu Djuminten yang berawal dari gudeg emperan pinggir Jalan Diponegoro, Tugu, Yogyakarta. Pemilik warung Gudeg Bu Djuminten Hernawan Eddy menceritakan kalau dirinya melanjutkan bisnis keluarga almarhum istri yang sudah dirintis di Yogyakarta sekitar tahun 1926.

Pada 1999, cabang Bintaro dibuka dengan membawa menu sama seperti yang di Yogyakarta. Pada 2009, warung tersebut pindah ke Bumi Serpong Damai (BSD), tepatnya di Nusaloka, BSD City dengan alamat Jalan Sumatera Raya Blok G1-36, Kota Tangerang Selatan, Banten. Gudeg Djuminten bisa terus bertahan karena memiliki pelanggan tetap yang turun temurun.

[Baca Juga : Berburu Kuliner Legendaris di Pasar Lama Tangerang]

Selain itu, Gudeg Djuminten juga mulai berinovasi dengan menghadirkan menu-menu baru. Di warung Serpong ini juga menyediakan menu ayam kodok dan steak ayam. Menu andalan tetap gudeg yang disajikan dengan kendil khusus. Kendil yang digunakan warung makan Gudeg Bu Djuminten Serpong ini didatangkan khusus dari kota asalnya, Yogyakarta, tidak berlubang dan bukan untuk wadah penampung air seperti kendil pada umumnya.

Selain itu, katanya Gudeg yang dipertahankan ini merupakan warisan leluhur, Gudeg Basah yang tetap menggunakan resep turun temurun dari nenek Djuminten. Resep gudeg basah ini menggunakan santan murni yang kental dan tidak menggunakan bahan kimia apa pun.

Gudeg Basah

Sebelum masuk ke jenis-jenis gudeg, mari mengenal asal-usul makanan yang sudah ada sejak abad ke-16 ini. Waktu itu, para prajurit Kerajaan Mataram sedang membelah hutan untuk membuat peradaban yang kini dikenal sebagai kawasan Kotagede. Di hutan tersebut, terdapat banyak pohon nangka dan kelapa.

Mereka kemudian memasak nangka dan kelapa dalam ember besar yang terbuat dari logam. Pengaduknya pun besar, seperti dayung perahu. Proses memasak gudeg tersebut mereka sebut hangudek, alias mengaduk dan dari sana terciptalah nama gudeg.

Gudeg terus berkembang hingga ada beberapa jenis, yaitu Gudeg Kering dan Gudeg Basah. Gudeg Kering disajikan dengan areh kental, jauh lebih kental daripada santan pada masakan padang. Sedangkan Gudeg Basah disajikan dengan areh encer, dan Gudeg Solo yang arehnya berwarna putih. Awalnya hanya ada satu jenis gudeg saja, yaitu gudeg basah. Namun pada tahun 1950-an, barulah gudeg jenis kering ini muncul. Gudeg kering ini muncul karena banyaknya minat wisatawan yang menginginkan gudeg sebagai oleh-oleh.

[Baca Juga : Menikmati Makanan Jawa Timur di Wisata Kuliner Bintaro]

Ada pula yang membagi gudeg berdasarkan bahan bakunya sepertinya gori (nangka), rebung, dan manggar. Gudeg rebung tidak bisa ditemukan di warung atau restoran, hanya dibuat di rumah-rumah. Gudeg manggar, lanjutnya, adalah yang paling istimewa. Manggar sendiri merupakan sebutan bagi bunga kelapa yang masih muda. Gudeg jenis ini hanya disajikan dalam acara khusus, terutama pesta. Gudeg ini juga biasa disajikan di pernikahan anak Sultan.

Gudeg menjadi favorit karena menu makanan yang fleksibel. Bisa dikombinasikan hanya dengan tempe, tahu, bahkan hanya gudeg dengan areh (kuah) saja sudah bisa untuk makan. Bila punya uang bisa menyantapnya dengan telur atau ayam. Pilihan yang fleksibel ini juga tersedia di Gudeg Bu Djuminten, Kota Tangerang Selatan. Mampir dan nikmati pilihan menu khas Yogyakarta ini tanpa perlu jauh-jauh ke tengah pulau Jawa.

Read More

ads
ads
ads

Artikel Lainnya

5 Manfaat Markisa untuk Kesehatan tubuh

Kesehatan

5 Manfaat Markisa untuk Kesehatan Tubuh

21 April 2019, 12:00  |  9 Views

Walaupun wujudnya unik tak seperti buah lainnya, markisa mengandung banyak manfaat lho. Berikut manfaat markisa untuk kesehatan.

Wakil Wali Kota Bekasi Motivasi Masyarakat Peduli Terhadap Sampah

Berita Kawasan

Wakil Wali Kota Bekasi Motivasi Warga Peduli Terhadap Sampah

21 April 2019, 14:00  |  4 Views

Dalam Diskusi Kota Bekasi Bersih, Wakil Wali Kota Bekasi berikan motivasi warga untuk peduli mengelola sampah.

Museum Sejarah Jakarta Gelar Pameran Foto Sejarah Islam di Australia

Berita Kawasan

Museum Sejarah Jakarta Gelar Pameran Foto Sejarah Islam di Australia

21 April 2019, 10:00  |  6 Views

Pameran foto kisah panjang Islam di Australia digelar di Museum Sejarah Jakarta hingga 30 April 2019.

Agar Larangan Kantong Plastik Tidak Jadi Bumerang

Berita Kawasan

Agar Larangan Kantong Plastik Tidak Jadi Bumerang

21 April 2019, 16:00  |  6 Views

Beberapa daerah, termasuk DKI Jakarta mulai mendengungkan larangan penggunaan kantong plastik sekali pakai. Apakah cara ini efektif mengurangi konsumsi plastik?


Comments


Please Login to leave a comment.

ads